Setelah UN Ditiadakan Kini Kemendikbud Akan Gelar AN, Apa Itu?

27 Juli 2021 20:44 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
9
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sejumlah siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMK Negeri 1 Idi, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Selasa (17/3/2020). Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMK Negeri 1 Idi, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, Selasa (17/3/2020). Foto: ANTARA/Syifa Yulinnas
ADVERTISEMENT
Ujian Nasional (UN) sudah resmi ditiadakan dan akan digantikan dengan Asesmen Nasional (AN). Rencananya AN akan dilangsungkan antara September-November 2021, meskipun tanggal pastinya masih belum ditentukan.
ADVERTISEMENT
Secara umum, AN merupakan penilaian yang dilakukan di setiap jenjang sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA/SMK dan sederajat. Berbeda dengan UN yang dilaksanakan pada akhir tahun sekolah, AN dilaksanakan pada kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA.
Menurut Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemdikbud, Anindito Aditomo, setelah dilaksanakan dan dinilai, hasil Asesmen Nasional ini nantinya akan dikembalikan ke sekolah atau institusi masing-masing demi mencapai tujuan dari AN itu sendiri.
Anindito Aditomo, Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud. Foto: dok Kemdikbud.go.id
“AN tujuan utamanya untuk mendorong terjadinya perbaikan kualitas pelajaran, dari SD, SMP, SMA/SMK, sederajat. Dorongan ini dicapai dengan cara mengembalikan hasil AN ke satuan pendidikan supaya mereka bisa pakai sebagai bahan evaluasi diri dan berbasis data objektif. Hasilnya sebermanfaat mungkin,” ujar Anindito dalam diskusi virtual soal persiapan AN 2021, Selasa (27/7).
ADVERTISEMENT
Tak seperti UN yang melibatkan seluruh siswa di sekolah, AN hanya akan mengambil sampel siswa dari setiap sekolah yang dipilih secara acak oleh Kemdikbud.
Anindito menjelaskan, dari jenjang SD akan diambil maksimal 30 orang, sementara dari sekolah menengah diambil 45 orang. Setiap jenjang juga akan mempersiapkan hingga 5 peserta AN cadangan.

Tiga Komponen AN

Siswa baru SMP Negeri II Surakarta mengikuti kegiatan belajar mengajar hari pertama masuk sekolah secara daring dari rumah di Kerten, Solo, Jawa Tengah, Senin (12/7). Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTO
AN memiliki tiga komponen utama, yaitu AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) Literasi dan Numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.
“AKM mengukur kompetensi kognitif, fokus pada kompetensi yang nanti akan diperlukan; problem-solving dengan matematika dasar dan berpikir kritis. Survei karakter mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai yang mencerminkan profil belajar Pancasila,” jelasnya.
Lalu, seperti apa bentuk soal yang akan diberikan pada asesmen tersebut?
ADVERTISEMENT
“AKM itu bermacam-macam bentuk soalnya. Pilihan ganda tradisional, pilihan ganda kompleks juga ada. Ada beberapa versi dari pilihan ganda, dan sebagian kecil berupa soal isian singkat,” jelas Anindito.
“Sementara survei-survei itu berupa pernyataan tertutup, pernyataan frekuensi, setuju atau tidak setuju, dan sebagainya,” imbuhnya.

Tidak Ada Siswa yang Lulus dan Tidak Lulus

Sejumlah siswa mengikuti simulasi kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di SMAN 21 Makassar, Sulawesi Selatan. Foto: Arnas Padda/ANTARA FOTO
Anindito menegaskan, pada AN ini, tidak ada lagi siswa yang lulus atau tidak lulus. Hal ini disebabkan Kemdikbud ingin memotret secara kolektif, bukan individu. Jika skor kolektif sekolah rendah, skor itulah yang akan menjadi bahan “cerminan” sekolah untuk melakukan evaluasi.
Tenaga pendidik di sekolah juga seluruhnya akan berpartisipasi dalam Survei Lingkungan Belajar untuk mencari tahu apakah sekolah sudah mampu menciptakan iklim pembelajaran yang baik dan aman bagi siswa.
ADVERTISEMENT
Seorang guru berinteraksi dengan murid di area kegiatan belajar mengajar. Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO

Waktu Pelaksanaan AN

Untuk waktu pelaksanaannya sendiri, Anindito mengungkapkan, masih belum ada tanggal pasti. Hal ini dikarenakan kondisi pandemi COVID-19 serta PPKM, sehingga Kemdikbud masih harus melakukan berbagai penyesuaian.
“Kapannya, kita merencanakan menjelang akhir tahun ini. September, Oktober, atau November. Tapi karena ada PPKM, situasi dinamis, kita terus menyesuaikan. Menyesuaikan dengan kondisi pandemi di tiap wilayah. Kalau tidak memungkinkan, tidak akan dipaksakan,” pungkasnya.