Setelah WNI yang Sempat Ditahan Israel Tiba di Tanah Air
·waktu baca 8 menit

Sembilan WNI yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya tiba di Indonesia pada Minggu (24/5). Pantauan kumparan, mereka tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 16.20 WIB.
Kesembilan WNI itu, yakni:
Thoudy Badai (Jurnalis Republika) - Kapal Ozgurluk
Rahendro Herubowo (sebelumnya tercantum Rahendro adalah jurnalis iNews namun Pemred iNews Aiman Witjaksono menyatakan Rahendro telah resign dari iNews pada Agustus 2022) - Kapal Ozgurluk
Bambang Noroyono (Jurnalis Republika) - Kapal Boralize
Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis TV Tempo) - Kapal Ozgurluk
Andi Angga (Aktivis) - Kapal Josef
Herman Budiyanto Sudarsono (Aktivis) - Kapal Zafiro
Ronggo Wirasano (Aktivis) - Kapal Zafiro
Asad Aras Muhammad (GPCI) - Kapal Kasr-1
Hendro Prasetyo (GPCI) - Kapal Kasr-1
Disambut Menlu Sugiono
Begitu tiba, mereka disambut oleh sejumlah masyarakat dan disambut oleh Menteri Luar Negeri Sugiono. Para WNI itu tampak membawa bendera Merah Putih kecil, dan berjalan menemui wartawan didampingi Sugiono.
Sugiono yang berkalung keffiyeh itu sempat memberi mereka salam selamat datang.
"Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga," kata Sugiono.
Sementara itu, Sugiono juga tak melupakan sejumlah kekerasan yang dialami para WNI itu.
"Bagi mereka yang menerima kekerasan fisik nanti akan didampingi," kata Sugiono.
Buah Diplomasi Intensif
Sugiono menyebut, bebasnya sembilan WNI itu berkat sejumlah diplomasi yang dilakukan.
"Keberhasilan evakuasi dan pembebasan ini merupakan buah dari kerja keras serta koordinasi intensif yang dilakukan Pemerintah Indonesia secara berlapis. Kemlu RI melalui Direktorat Pelindungan WNI terus mengoptimalkan jalur diplomasi dengan menggerakkan lima perwakilan RI di kawasan strategis, yaitu KBRI Ankara, KJRI Istanbul, KBRI Amman, KBRI Kairo, dan KBRI Roma," kata Sugiono.
Ia juga berterima kasih kepada pemerintah Turki yang terlibat besar dalam pemulangan para WNI itu. Sebab, sebelum kembali ke Indonesia, para WNI itu diterbangkan ke Istanbul dulu untuk pemeriksaan kesehatan baru dipulangkan ke tanah air.
"Apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Turki atas peran dan dukungannya dalam memfasilitasi proses pembebasan para WNI," kata Sugiono.
Sementara itu, Kemlu menegaskan, ini adalah bukti komitmen mereka melindungi seluruh WNI yang ada di dunia.
Terakhir, mereka juga terus mengecam langkah Israel yang begitu merendahkan martabat manusia. Hal ini tak hanya sekali, namun berulang kali.
"Pemerintah Indonesia sekali lagi menegaskan kecaman kerasnya atas tindakan pencegatan kapal di perairan internasional serta perlakuan tidak manusiawi yang diterima para relawan selama masa penahanan oleh militer Israel. Tindakan sewenang-wenang yang merendahkan martabat warga sipil dalam sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional yang tidak dapat ditoleransi dalam keadaan apa pun," pungkas Menlu.
Peran Besar Turki
Steering Committee Global Sumud Flotilla (GSF), Maimon Herawati, mengungkapkan Turki berperan besar dalam proses evakuasi ratusan relawan GSF yang sempat ditahan Israel usai kapal mereka dicegat di perairan internasional.
Maimon mengatakan, awalnya Turki hanya menyiapkan satu pesawat untuk mengevakuasi sekitar 90 peserta asal Turki. Namun, setelah ada pembahasan lebih lanjut, Turki akhirnya mengirimkan tiga pesawat agar para relawan tidak dipulangkan secara terpisah ke sejumlah negara transit.
“Awalnya, Turkiye hanya akan mengirimkan satu pesawat saja untuk 90 peserta dari Turkiye dan saya sempat minta supaya Indonesia dimasukkan ke dalam satu pesawat ini,” kata Maimon saat penyambutan kepulangan WNI Relawan Global Sumud Flotilla 2.0, di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Namun, kata dia, Steering Committee Global Sumud Flotilla kemudian mempertimbangkan agar seluruh peserta dibawa ke Istanbul terlebih dahulu.
“Tapi kami, Steering Committee berpikir lagi, bagus kalau semua dimasukkan ke Istanbul jadi tidak terpecah-pecah ke Jordan dan Mesir,” ujarnya.
Menurut Maimon, keputusan tersebut akhirnya membuat Turki menambah jumlah pesawat untuk membantu proses evakuasi para relawan.
“Makanya Turkiye bersedia mengirimkan tiga pesawat, alhamdulillah,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi bantuan Turki selama proses pemulangan para relawan Global Sumud Flotilla. Menurut dia, bantuan itu diberikan mulai dari fasilitas penginapan hingga pemeriksaan kesehatan bagi peserta yang baru tiba.
Dalam kesempatan itu, Maimon juga menjelaskan panitia Global Sumud Flotilla telah menyiapkan sistem pemantauan dan bantuan hukum bagi para peserta sejak awal keberangkatan.
Ia mengatakan tim kuasa hukum telah disiapkan sehingga para peserta mendapat pendampingan hukum saat ditahan di Ashdod.
“Begitu mereka mendapatkan surat kuasa, maka yang langsung diusahakan oleh Adalah adalah membebaskan mereka karena memang tidak ada pelanggaran hukum sama sekali,” tuturnya.
Penderitaan Para WNI Saat Ditahan Israel
Salah satu relawan, Rahendro Herubowo, yang saat itu menumpangi kapal Ozgurluk menceritakan pengalaman yang ia alami selama berada dalam tahanan setelah kapal yang ditumpangi rombongan aktivis tersebut dicegat di perjalanan menuju Gaza pada Senin (18/5).
“Alhamdulillah akhirnya bisa sampai di sini, Alhamdulillah. Kondisinya sehat-sehat. Ya, alhamdulillah kita bisa tiba di tanah air dengan selamat ya. Masih sedikit terasa ya nyeri-nyeri di bagian dalam atau pun luar saya, dan nanti setelah ini kita melakukan medical check-up lagi di rumah sakit setelah ini,” kata Herubowo saat tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Ia menjelaskan bahwa sejak awal penangkapan, para relawan langsung mendapat perlakuan kasar. Menurutnya, kekerasan terjadi baik saat proses penahanan di kapal maupun dalam perjalanan ke ruang-ruang transisi.
“Pertama kita ditelungkupkan, lalu tiba-tiba ada air mengalir sehingga badan kita basah kan. Nah terus, dari situ kita ke administrasi mereka. Nah, di ruangan transisi pertama itu kita mulai disiksa,” ungkapnya.
“Saya dipukul kepala ya, sudah nggak tahu berapa kali ya, terus badan depan, belakang, dan saya jatuh juga sempat diinjak. Terakhir saya disetrum sehingga akhirnya saya teriak cukup kencang, baru mereka akhirnya melepaskan,” lanjutnya.
Herubowo juga menyebut, perlakuan tersebut tidak hanya terjadi pada dirinya, tetapi juga dialami para relawan lain selama berada di kapal tahanan.
“Dari satu ruangan ke ruangan lain itu juga kita penuh physical treatment ya, diborgol dan dimainin tadi. Jalan nunduk jatuh ditendang, seperti itu kurang lebihnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi penahanan juga disertai keterbatasan makanan dan situasi yang tidak manusiawi selama beberapa hari.
“Selama di tahanan di atas kapal itu kita cuma dibekali roti, sama air yang cukup terbatas ya. Dan teman-teman aktivis sepakat kita mogok makan di sana,” katanya.
Herubowo juga mengaku mengalami kondisi ekstrem menjelang pemindahan ke imigrasi, termasuk dijemur dan dipaksa dalam posisi tertentu selama berjam-jam.
“Bahkan pas terakhir sebelum kita dibawa ke imigrasi kita harus jongkok dijemur jam 12.00 siang itu, kita harus telungkup untuk menunggu antrean selama 2 jam. Jadi 4 sampai 5 jam lah kita telungkup terus di situ,” ujarnya.
Ia menyebut sebagian relawan mengalami luka dan memar di berbagai bagian tubuh, termasuk dugaan pelecehan seksual terhadap relawan perempuan.
“Teman-teman cederanya hampir sama ya semua di bagian punggung, kepala. Teman-teman aktivis perempuan juga kalau saya dengar kabar ada yang mengalami pelecehan juga,” ucapnya.
Meski mengalami perlakuan tersebut, Herubowo menegaskan dirinya tidak kapok untuk kembali terlibat dalam misi kemanusiaan serupa.
Ucapan Terima kasih Dubes Palestina
Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada warga negara Indonesia yang berpartisipasi dalam armada Global Sumud Flotilla (GSF).
Alsattari menyebut, para aktivis kemanusiaan ini tak ubahnya “pahlawan” bagi rakyat Palestina, khususnya Gaza. Sebab, mereka menunjukkan solidaritas yang tinggi kepada rakyat Gaza.
“Saya sangat berbahagia bisa berada di sini bersama saudara-saudari saya sekalian. Saya ingin menyampaikan kepada Anda semua bahwa kalian adalah pahlawan. Anda telah kembali ke negara Anda dengan selamat,” ujar Alsattari saat menyambut kepulangan para WNI relawan GSF di Bandara Soekarno-Hatta.
Alsattari menilai, upaya para WNI dalam misi menembus blokade Israel di Jalur Gaza merupakan perjuangan yang sangat luar biasa dan tidak mudah dilakukan.
“Saya sangat mengenal Israel karena saya berasal dari Gaza dan menghabiskan seluruh hidup saya di Gaza. Jadi, jangan khawatir dengan apa yang menimpa kalian semua; saya tahu kalian telah sangat menderita,” katanya.
Alsattari menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan Indonesia kepada Palestina, baik dari pemerintah maupun masyarakat.
“Saya ingin berterima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, pemerintah, serta seluruh rakyat Indonesia. Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas segala pengorbanan serta penderitaan yang kalian alami selama tiga atau empat hari ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa rakyat Palestina mendoakan para relawan dan yakin bahwa Palestina akan merdeka di masa depan.
“Kami senantiasa mendoakan kalian setiap waktu, kami percaya bahwa suatu hari nanti insyaallah Palestina akan merdeka. Seluruh rakyat Palestina akan kembali ke tanah mereka, dan kalian semua akan mengunjungi Masjid Al-Aqsa serta beribadah di sana segera, insyaallah,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan apresiasi khusus kepada para jurnalis yang turut serta dalam misi tersebut.
“Saya ingin berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka, kalian telah bekerja keras dan merasakan penderitaan yang luar biasa. Namun kini, saya rasa kalian telah mencium udara Gaza, dan itu sudah cukup bagi kalian semua,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Alsattari menegaskan bahwa ada kedekatan emosional antara Palestina dan Indonesia yang sangat kuat.
“Saya tidak merasa sebagai orang asing di sini; Indonesia adalah negara kedua saya. Terima kasih banyak atas dukungan yang besar bagi rakyat saya, dan insyaallah Palestina akan merdeka,” tuturnya.
