Siapa Dua Menteri Israel yang Ditegur Keras oleh Wapres AS JD Vance?

Wapres AS JD Vance memberikan teguran keras terhadap anggota kabinet Israel yang mengkritik perjanjian damai antara negaranya dengan Iran, Kamis (18/6).
Siapa mereka?
Saat diwawancarai New York Times orang nomor dua di AS itu mengungkap bahwa Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich merupakan pihak pengkritik kebijakan AS-Iran.
Kedua orang itu adalah sosok ultra-kanan di kabinet PM Israel Benjamin Netanyahu. Mereka berulang kali mengeluarkan komentar kontroversial dan kebijakan terhadap Palestina.
“Saya kira tanggapan saya kepada mereka adalah, apa proposal Anda yang sebenarnya? Anda adalah negara dengan sembilan juta penduduk. Anda tidak bisa hanya membunuh untuk menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional yang Anda miliki," kata Vance kepada Times.
Adapun teguran Vance disampaikan selang kesepakatan damai AS-Iran usai perang yang pecah sejak awal 2026 ini tercapai. Kesepakatan itu disampaikan Presiden AS Donald Trump di sela KTT G7 di Prancis.
Vance saat menyampaikan konferensi pers di Gedung Putih meminta kabinet Netanyahu untuk sadar dan melihat realitas yang ada.
“Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang bersimpati kepada negara Israel saat ini, dan kebetulan dia adalah kepala negara adidaya dunia," kata Vance seperti dikutip dari AFP.
“Bila saya ada di kabinet pemerintah Israel, saya tidak akan menyerang satu-satunya sekutu terkuat satu-satunya yang tersisa di seluruh dunia,” sambung dia.
Vance sempat memuji Netanyahu yang tak mengkritik perdamaian AS-Israel. Tapi, Vance menyindir soal bantuan militer AS ke Israel yang di bawah pemerintahan Netanyahu diberikan dalam jumlah besar.
“Dalam tiga bulan terakhir, dua pertiga senjata pertahanan yang kalian pakai melindungi tanah air dibuat oleh tangan AS dan dibayar oleh pajak dollar AS,” ucap Vance.
"Masalah bagi Israel bukanlah Donald J. Trump, dan siapa pun di Israel yang berpikir bahwa masalah terbesar mereka adalah presiden Amerika Serikat perlu bangun dan menyadari kenyataan situasi tersebut,” sambung dia.
