Siapkan SMK Go Global, Cak Imin Ingin Ada 'Kelas Migran' di Sekolah
·waktu baca 2 menit

Pemerintah bakal mulai menggelar program SMK Go Global. Melalui program itu, pemerintah memberi fasilitas pelatihan bagi para lulusan SMK bahkan SMA untuk dapat bekerja di luar negeri.
Anggaran hingga Rp 25 triliun pun disiapkan untuk menjalankan program tersebut.
"Untuk tahun 2026, ya Rp 15 triliun-Rp 25 triliun," kata Menko Pemberdayaan Masyarakat (PM), Muhaimin Iskandar atau disapa Cak Imin, di Kantor Kemenko PM, Jakarta, Selasa (18/11).
Cak Imin menyebut program itu bakal dimulai pada akhir tahun 2025 dan digencarkan pada tahun 2026. Lewat program itu, ditargetkan ada 500 ribu lulusan yang diberangkatkan ke luar negeri.
"Kita punya target 2026 Insyaallah 500 ribu yang akan diberangkatkan lulusan SMK dan SMA," ujar dia.
Untuk mencapai target tersebut, Cak Imin berharap semua hal dipersiapkan secara matang dimulai dari hulu hingga ke hilirnya. Dari hulu, dia berharap adanya kelas khusus di SMK yang memang dipersiapkan untuk menyalurkan pekerja ke luar negeri.
"Kita minta untuk mengadopsi standar minimum kapasitas kompetensi bahasa yang disyaratkan. Misalnya kalau ke Jepang, kelas migran SMK jurusan kelas ke Jepang kelas 1 sudah mengadopsi bahasa Jepang N4 misalnya gitu," ucap dia.
"Nah, itu harus langsung diadopsi, tidak usah pakai kurikulum lain. Memang sejak awal harus menyiapkan hulunya, di mana penjurusan kelas migran itu sejak dini dipersiapkan bahasanya," lanjut dia.
Program SMK Go Global merupakan program yang diinisiasi Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) untuk membuka kesempatan kerja di luar negeri bagi lulusan SMK dan sederajat.
Program ini dirancang agar lulusan SMK dapat bersaing dan bekerja secara profesional di berbagai sektor luar negeri sekaligus memenuhi kebutuhan tenaga kerja internasional di sejumlah negara. Melalui program itu, pemerintah akan memberi dukungan subsidi pelatihan serta pembekalan bahasa bagi para peserta.
Untuk tahap awal, ada 500 lulusan SMK yang akan berangkat ke luar negeri pada akhir 2025. Ada 3 negara tujuan, yakni Slovakia, Turki, dan Jepang.
Mereka yang berangkat ke luar negeri sudah dibekali kemampuan sesuai dengan kebutuhan di negara itu, misalnya welder, hospitality, sama caregiver, perawat, hingga pekerja konstruksi.
