Sikap ASN yang Lapor Pungli, tapi Malah Diintimidasi: Pilih Resign

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Guru di Kabupaten Pangandaran, Husein Ali Rafsanjani, curhat di media sosial mengenai dugaan adanya pungutan liar ketika mengikuti Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Guru di Kabupaten Pangandaran, Husein Ali Rafsanjani, curhat di media sosial mengenai dugaan adanya pungutan liar ketika mengikuti Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS). Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Seorang guru yang bertugas di Kabupaten Pangandaran, Husein Ali Rafsanjani (27), curhat di media sosial mengenai dugaan adanya pungutan liar (pungli) ketika mengikuti Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) pada bulan Oktober 2021. Curhatan yang baru diunggah beberapa waktu lalu itu ternyata viral.

Ditemui di kediamannya di Kota Bandung, Husein menceritakan dugaan pungutan liar itu bermula ketika dia lolos seleksi CPNS 2019. Setelah itu, dia diminta mengikuti Latsar di Pangandaran yang digelar selama dua pekan. Namun, dia mengaku heran sebab dimintai uang senilai Rp 270 ribu untuk dapat mengikuti Latsar tersebut.

"Mulanya dari Latsar CPNS. Awalnya bilangnya bawa badan saja semua biaya ditanggung negara katanya. Tapi, tiba-tiba seminggu sebelumnya ada chat untuk diharuskan membayar transport sebesar Rp 270 ribu ya dari panitia, itu bulan Oktober 2021," kata dia pada Rabu (10/5).

Setelah Lapor Pungli, Husein Diintimidasi

Setelah peristiwa tersebut, Husein melapor mengenai adanya dugaan tindak pungli tersebut di situs lapor.go.id. Laporan itu pun lalu ditindaklanjuti dengan diadakannya sidang pada bulan November 2021. Namun, dia malah diintimidasi oleh sejumlah orang yang ada di sidang.

instagram embed

"Saya lagi menerangkan ada celetukan jangan sok jago, ikuti saja jangan banyak tanya, katanya kalau melapor gitu dianggap menjelekkan nama instansi. Padahal niat saya hanya nanya saja, tinggal jawab aja padahal," ucap dia.

Akibat hal tersebut, Husein kemudian memutuskan untuk berhenti mengajar di SMPN 2 Pangandaran pada Maret 2022. Dia pun sudah mengirim surat pengunduran diri selaku ASN. Akan tetapi, sudah setahun berselang sejak surat pengunduran diri dikirimkan, belum juga ada tindak lanjut dari pihak terkait.

Menarik Perhatian Susi Pudjiastuti

Susi Pudjiastuti, tokoh masyarakat di Pangandaran, langsung bereaksi atas kasus intimidasi terhadap Husein Ali Rafsanjani, guru yang membongkar pungutan liar (pungli) Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS).

Susi menyampaikan persoalan ini saat ia ditelepon oleh Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata.

"Barusan saya dapat telepon dari Bupati (Jeje), dia ada di Bandung dan mau ketemu Husein, mau ngobrol dari hati ke hati," kata Susi melalui akun Twitter-nya, Rabu (10/5).

"Beliau (Jeje) berjanji kalau memang anak buahnya salah, beliau tidak akan segan-segan untuk bertindak," ujar Susi.

Susi menyebut, Jeje akan mengabarkan lagi setelah bertemu dengan Husein.

Husein Bertemu Ridwan Kamil

Husein Ali Rafsanjani pun bertemu dengan Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, di Gedung Sate pada Rabu (10/5). Pertemuan itu dilakukan terkait dengan dugaan pungutan liar yang disampaikan oleh Husein di media sosial.

"Pertama, orangnya akan saya temui hari ini karena ingin mendengar (ceritanya)" kata Ridwan Kamil di kantornya.

Sementara itu, dari informasi terkini yang diterima Ridwan, uang untuk mengikuti Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (Latsar CPNS) itu bukanlah pungutan liar. Ketika itu, menurut dia, anggaran transportasi itu sudah disediakan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Foto: Dok. Humas Pemprov Jabar

Namun, karena pandemi sedang merebak, anggaran yang mestinya diperuntukkan untuk para peserta itu harus dialihkan. Maka dari itu, dia menduga ada miss informasi di antara para peserta dengan panitia. Hal itu juga yang membuatnya memutuskan bertemu langsung dengan Husein.

"Sehingga anggaran yang namanya transportasi, dan juga. Kegiatan lainnya, itu ketarik anggarannya. Jadi dari versi Pangandaran tidak ada pungli, karena kalau pungli anggarannya ada tapi ditarik lagi," ucap dia.

"Tapi sempat teranggarkan, ter-refocusing, dan sempat hilang. Nah, ini tidak di informasikan hilangnya, sehingga oleh para peserta dianggapnya anggaran masih ada," lanjut dia.

Selain itu, Emil juga menambahkan, bahwa angka senilai Rp 270 ribu yang ditagihkan kepada para peserta sudah merupakan kesepakatan bersama, bukan didasarkan keputusan sepihak dari penyelenggara.

"Dan itu kesepakatan bukan dari Pangandaran-nya tapi dari teman angkatannya yang menyatakan angkanya segitu," kata dia.