Sisi Gelap Hipermobilitas

Berkesempatan untuk menjelajahi berbagai tempat, baik di dalam atau luar negeri, selalu tampak menyenangkan. Ragam pemandangan, budaya yang berbeda, hingga makanan-makanan khas tentu menjadi pengalaman yang mewah.
Apalagi jika tawaran bepergian itu datang dari perusahaan tempatmu bekerja, yang artinya biaya perjalananmu ditanggung kantor. Banyak orang akan berseru seperti, “Wah asyik, bisa jalan-jalan gratis”.
Tapi apakah jalan-jalan gratis atas nama pekerjaan semenyenangkan yang biasa dibayangkan?
Pengalaman Brian Whitney, eksekutif di NCR (National Cash Register--perusahaan multinasional di bidang teknologi keuangan) mungkin akan membantu kita memahami hal tersebut. Brian sudah pernah menjelajahi negara-negara di Asia, Amerika, Australia, hingga Timur Tengah. Pekerjaan membuat Brian menghabiskan hampir 40 persen waktunya dalam setahun untuk perjalanan bisnis.
Sebagai seorang pegawai di perusahaan multinasional, tidak mengherankan jika ia harus bepergian ke berbagai negara. Meskipun teknologi komunikasi berkembang, namun hal itu tidak bisa menggantikan kualitas dari pertemuan langsung.
Bayangkan kamu seperti Brian, dari 8.760 jam dalam setahun, kamu harus merelakan 3.504 jam atau 146 hari untuk bepergian. Itu artinya kamu menghabiskan waktumu untuk menunggu penerbangan, berada dalam perjalanan, dan mengunjungi tempat-tempat asing.
Sama seperti Brian, wartawan senior CNN Richard Quest juga memiliki mobilitas tinggi. Ia bercerita, dalam sebulan dirinya dapat melakukan empat kali perjalanan ke luar negeri dan jarang berada di rumah.
"Pada suatu hari aku berada di Kolombia mengikuti sebuah konferensi, lanjut ke Panama untuk sebuah acara, dari sana bergeser ke Newark, lalu menyeberangi Samudera Pasifik ke London," cerita Richard.

Selalu bepergian ke sana kemari dirasanya cukup menyenangkan. Ia dapat bertemu orang baru, menikmati pengalaman yang berbeda di tiap tempat, melihat pemandangan yang eksotis, dan berbagai keuntungan lain.
Brian dan Richard hanya satu dari jutaan orang yang aktif bepergian. Berdasarkan data Carlson Wagonlit Travel (CWT), ada sekitar 15,3 juta perjalanan bisnis di seluruh dunia pada rentang Oktober 2011 hingga Oktober 2012.
"Kami biasa disebut 'Pejuang Jalanan' atau dalam bahasa modernnya bernama hypermobility," tulis Richard dalam laporannya di CNN (4/11/2015).
Brian dan Richard tampak sebagai orang yang sungguh beruntung. Mereka punya kesempatan untuk berkeliling dunia, jauh dari rutinitas kantor yang seringkali menjemukan.
Namun ternyata, hidup yang mereka jalani menyimpan sisi gelap yang tidak semua orang sadari.
Istri Brian menyatakan bahwa ia seolah menjadi orang tua tunggal karena kesibukan suaminya yang luar biasa. Ia merasa sendiri dalam mengurus rumah tangga. Anak mereka bahkan kini menolak mengantarkan sang ayah pergi
Seringnya bepergian dan jauh dari keluarga membuar Brian merasa kesepian. "Tidak mungkin untuk tidak merasa kesepian, karena memang kita sendirian di luar sana," ujar Brian seperti dilansir CNN.
Rasa kesepian itu pun berujung pada depresi dan rasa terasing.

"Kamu dapat melihat gunung dan lembah yang menakjubkan. Pertemuan yang luar biasa, keberhasilan, dan pengalaman yang tidak ada duanya, bahkan beberapa saat kau dapat melihat tempat-tempat menakjubkan. Namun pada satu titik kau akan sadar, kau tidak punya seseorang untuk berbagi semua itu," cerita Brian.
Richard pun mengalami hal yang serupa. Pengalaman yang ia dapat selama perjalanannya memang luar biasa, tapi karena itu pula, dirinya hampir tidak punya waktu untuk pulang.
"Gaya hidup seperti itu terkesan glamor, ada semacam pencapaian, tapi dampaknya untuk kehidupan pribadi, profesional, dan pernikahan sangat terasa," papar Richard dalam tulisannya itu.
"Aku hanya sempat mampir sebentar ke rumah di New York untuk mengambil pakaian ganti," tulis reporter senior CNN itu.
Profesor Scott Cohen dari University of Surrey, Inggris, mengatakan tingginya aktivitas perjalanan bisa berdampak buruk bagi kesehatan tubuh seseorang.
"Kalau kau bepergian lebih dari 136 kilometer dalam setahun, atau setara dengan jarak bolak-balik antara New York dan Tokyo sebanyak 7 kali, maka kau sudah melebihi batas aman dari keterpaparan radiasi," tulis Cohen dalam artikelnya.
Dia juga menambahkan, jet lag yang terus menerus juga akan merusak kesehatan secara perlahan. Hal itu pada akhirnya akan meningkatkan risiko stroke deep vein thrombosis yang bisa menyebabkan penyumbatan darah dan pembengkakan bagian tubuh tertentu.
Apa yang dinyatakan oleh Cohen tertuang dalam riset berjudul "Sisi Gelap Hipermobilitas". Dalam riset tersebut, tak hanya kesehatan, hipermobilitas juga bisa berdampak buruk pada psikologis dan emosi seseorang
“Glamorisasi secara sosial dari travelling tampak kontras dengan dampak kesehatan, psikologi, mental, dan sosial mereka yang mengalaminya,” tulis Cohen.
Penelitian lain menyatakan, dari 10 ribu pegawai bank dunia, mereka yang sering melakukan perjalanan bisnis 3 kali lebih sering mengklaim asuransi kesehatan psikologis, dikutip dari The Economist.
Seperti yang Richard tuliskan, hampir tak ada istirahat bagi para pelaku hipermobilitas. Di sela-sela waktu luangnya saja --yang sebagian besar habis di perjalanan-- mereka harus gunakan untuk bekerja.
Sedikitnya waktu istirahat tersebut berujung pada cepatnya peningkatan stres pada seseorang.
Belum lagi apabila mereka menghadapi masalah-masalah tak terduga dalam perjalanan seperti jadwal tertunda atau dipercepat, barang bawaan hilang, koneksi internet yang jelek sehingga mereka tidak bisa bekerja, dan sebagainya.
Meskipun biaya perjalanan ditanggung oleh perusahaan, namun mereka harus membayarnya dengan hal lain: waktu.

Sementara perusahan mesti mengeluarkan uang, tapi sesungguhnya hal itu dilakukan demi keuntungan beratus kali lipat. Survei dari Oxford Economics di tahun 2009 menyebut bahwa perusahaan bisa kehilangan 28 persen keuntungan jika tidak membiayai perjalanan bisnis demi pertemuan tatap muka dengan klien. Pertemuan secara langsung dinyatakan tetap diperlukan untuk membangun kepercayaan dan kerja sama.
Tak heran jika 34 persen perusahaan yang disurvei oleh sekolah bisnis internasion HEC Paris memutuskan untuk meningkatkan frekuensi kunjungan bisnis demi memperoleh lebih banyak keuntungan.
Penelitian yang dilakukan oleh Michael Segalla dari HEC Paris itu menawarkan beberapa opsi bagi perusahaan demi menjaga kesehatan karyawannya.
Solusi tersebut antara lain:
Mengharuskan karyawan untuk istirahat di rumah setelah perjalanan selesai
Membolehkan pasangan untuk sesekali menemani perjalanan bisnis
Menyewakan kamar hotel yang lebih layak
Meningkatkan biaya makan dan hiburan
Menentukan target pekerjaan yang realistis
Hal-hal di atas mungkin tidak berlebihan apabila melihat kesibukan karyawan yang sering bepergian ke luar kota. Mereka jarang memiliki waktu luang, jangankan untuk keluarga, untuk dirinya sendiri bahkan susah.
===============
Simak ulasan mendalam lainnya dengan mengikuti topik Outline!
