Sisi Lain Eks Dubes Norwegia: Diplomat yang Hobi Bersepeda di Jakarta

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Stig Ingemar Traavik (Foto: Human Rights Resource Centre/Youtube)
zoom-in-whitePerbesar
Stig Ingemar Traavik (Foto: Human Rights Resource Centre/Youtube)

Kisah perselingkuhan Mantan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Ingemar Traavik, tengah santer diperbincangkan publik. Stig menjalin asmara dengan tiga wanita Indonesia, dan ada uang negara yang diduga dihamburkan dalam perselingkuhannya itu.

Tak tanggung-tanggung, perselingkuhan yang dilakukan Stig -- yang kala itu sudah memiliki istri-- disebut-sebut membuat Norwegia rugi hingga miliaran rupiah. Stig telah ditarik pulang akhir tahun lalu dan dicabut seluruh titelnya.

Terlepas dari kisah perselingkuhan yang membuat namanya ramai diberitakan, berikut sisi lain seorang Stig.

Stig Lahir di Haugesund, Norwegia, pada 19 Desember 1967. Sejak tahun 1955 Stig mengemban tugas sebagai pegawai negeri di Kementerian Luar Negeri, dan sebagai duta besar untuk Indonesia.

Kasus perselingkuhannya memang membuat dirinya dipecat secara tidak hormat pada tahun lalu, namun ia tetap lanjut ditugaskan sebagai penasihat khusus di Kementerian Luar Negeri tahun 2017.

Selain bekerja sebagai seorang diplomat, Stig juga seorang mantan atlet yudo Norwegia dalam Olimpiade Musim Panas tahun 1992. Beberapa bulan setelah ditunjuk menjadi diplomat, Stig kemudian pindah ke Jakarta bersama istrinya.

Meski sudah menginjak usia kepala lima, fisik Stig tampak terlihat bugar. Ternyata, Stig punya kebiasaan bersepeda ke kantornya di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, yang rutin ia lakoni sejak 2014 silam.

Stig diketahui berangkat mengayuh sepedanya pada pukul 06.30 WIB setiap harinya. Setiba di Mega Kuningan, ia mampir ke pusat kebugaran yang berada tak jauh dari kantornya, untuk berolahraga selama setengah jam di sana sebelum mulai bekerja.

Soal keyakinan agama, istri Stig diketahui adalah seorang wanita muslim syiah keturunan Afghanistan. Sedangkan Stig, adalah seorang mualaf yang menganut paham Sunni.

Perbedaan tersebut diakui Stig tak memicu masalah di antara keduanya. Namun saat ini Stig dan istrinya sudah bercerai.

Dikutip dari berbagai sumber, saat menghadiri kuliah umum di kantor Centre for Dialogue and Cooperation aming Civilisations (CDCC), Menteng, Jakarta Pusat, pada tahun 2013 silam, Stig bercerita ia masuk Islam ketika bertugas di Afghanistan. Ia mengaku jatuh cinta dengan agama islam yang menurutnya penuh toleransi.

Kini meski Stig tak lagi menjabat sebagai duta besar, namun Stig diketahui tetap mendapat gaji sebagai duta besar dan mendapatkan pelayanan keamanan yang sama.