Sisi Lain Fotografer Pelari di Jalan: AI yang Bisa Langgar Privasi

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi fotografer. Foto: Miguel Almeida/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fotografer. Foto: Miguel Almeida/Shutterstock

Founder Drone Emprit, Ismail Fahmi, bercerita tentang kerisihannya terkait fenomena fotografer "ngamen" yang mengerubunginya saat berolahraga lari di sejumlah tempat. Selain soal etika, ia juga merisaukan perkembangan artificial intelligence (AI) yang bisa dimanfaatkan secara negatif.

Ismail mengatakan, para fotografer itu menggunakan aplikasi berbasis AI untuk mendeteksi wajah-wajah target fotonya. Sehingga, mereka bisa menghubungi dan mengiringi langsung calon pembeli.

"Dulu kan kita lari harus menghubungi di Instagram, kan repot. Sekarang kita tidak perlu, cukup dengan aplikasi ketahuan. Saya lihat foto saya banyak sekali di sana (aplikasi)," kata Ismail dalam perbincangan dengan kumparan pada Selasa (28/10).

Dalam unggahan di X, Ismail menunjukkan bagaimana para fotografer itu menunjukkan banyak potretnya saat berlari. Dengan AI di aplikasi, fotografer bisa mencocokkan wajah bidikannya dengan mudah.

"Saya menunjukkan AI itu sangat akurat," kata doktor linguistik komputasi dari Universitas Groningen, Belanda, ini.

Ismail Fahmi Foto: Ardhana Pragota/kumparan

Kata Ismail, hal ini menunjukkan bahwa kehadiran AI bisa menjadi dua mata pisau. Teknologi memudahkan, di sisi lain juga mengganggu privasi seseorang.

"Ada dunia nyata dan digital, dengan mudah aplikasi dengan AI, itu digital. Tapi ada dunia nyata yang perlu dilihat, ada privasi. AI membantu, memudahkan fotografer, tapi jangan dengan kemudahan ini mereka [yang dipotret] ter-abuse dengan tidak adanya aturan," jelas dia.

Selain soal AI, Ismail Fahmi juga bicara soal etika yang mestinya saling dihargai. Ia menyebut, tak semua runner atau pihak lain yang mau difoto saat beraktivitas.

"Ini kan belum ada aturannya, misalnya rules of conduct. Jadi kalau dia gak berkenan difoto, dia sampaikan kalau gak mau dihapus,: ujar dia.

"Mungkin perlu ada tempat khusus kayak wartawan yang motret. Orang gak boleh difoto, kalau ketahuan gimana gitu konsekuensinya," tutupnya.

Fenomena Fotografer "Ngamen"

Fotografer "ngamen" kini semakin masif di ruang publik untuk mengabadikan momen spontan (candid), terutama di pusat kegiatan komunal seperti arena lari stadion atau Car Free Day (CFD).

Foto-foto hasil jepretan ini kemudian dijual melalui platform marketplace digital khusus. Aplikasi ini mengadopsi teknologi pengenalan wajah (face recognition), yang berfungsi memindai wajah subjek di dalam foto.

Namun, pencarian foto hanya dapat diakses oleh subjek yang sebelumnya telah mengunduh aplikasi tersebut dan mendaftarkan data biometrik wajahnya.

Proses kerjanya begini: setelah fotografer mengunggah hasil karyanya ke platform, sistem AI akan secara otomatis mencocokkan wajah dan mengirimkan notifikasi kepada subjek yang teridentifikasi.

Subjek kemudian dapat meninjau, memilih, dan membeli foto profesional dirinya dengan harga bervariasi, biasanya mulai dari belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Fenomena ini telah mengubah model bisnis fotografi jalanan, menjembatani fotografer dengan target konsumen spesifik secara instan, namun sekaligus memunculkan perdebatan etika seputar privasi dan penggunaan data biometrik di ruang publik.