Sisi Lain Ibu Kota, Awan Mencari Nafkah dari Kumpulan Sampah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Awan Setiawan, pemulung di Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026). Foto: Amira Nada/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Awan Setiawan, pemulung di Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026). Foto: Amira Nada/kumparan

Pagi masih basah ketika Awan Setiawan mulai menyusuri Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat dan sekitarnya untuk mengumpulkan sampah. Namun langit mulai gelap dan sore perlahan kabur digantikan malam. Pertanda masuk jam istirahat bagi Awan.

Karung putih yang biasa disampirkannya ke pundak, sekarang tergeletak di tepi jalan. Isinya botol plastik, kemasan camilan campur aduk, tak disortir. Awan menyebutnya gapruk. Dari sampah-sampah itulah ia mencari nafkah.

“Mulungnya pagi,” kata Awan pada kumparan, Senin (2/2).

Setelah subuh, ia berkeliling pasar dan jalan sekitar. Orang-orang biasanya membuang sampah di waktu itu. Plastik yang terkumpul kemudian dibawa ke lapak dekat Pasar Palmerah untuk ditimbang.

Harga plastik gabruk Rp 2.000 per kilogram. Jika karungnya penuh, Awan bisa membawa pulang sekitar Rp 20 ribu. Lebih sering, hasilnya hanya Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu.

“Paling dapet buat makan doang,” ujarnya.

Awan sudah lama hidup sebagai pemulung. Ia mengingat kerusuhan 1998, era ketika ia masih muda dan sudah memulung. Kini usianya lebih dari 60 tahun. Tubuhnya tak sekuat dulu. Jika kehujanan, ia sering jatuh sakit dan minum obat-obatan tradisional China.

Awan Setiawan, pemulung di Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026). Foto: Amira Nada/kumparan

Sebelum hidupnya bergantung pada sampah, Awan sempat bekerja. Ia pernah menjual koran keliling dengan sepeda, menjadi kernet pabrik, dan bekerja di pabrik minuman. Namun pekerjaan itu datang dengan aturan dan jam kerja.

“Dulu tuh kalau mikir kerja (di pabrik) itu, kalau bukan waktunya istirahat, enggak boleh, diomel-omelin. Kalau mulung kan bebas,” tuturnya dengan tersenyum simpul.

Memulung memberinya kebebasan. Namun, kebebasan itu berjalan beriringan dengan hinaan. Awan terbiasa dipanggil gembel oleh orang yang lewat. Ia memilih diam.

“Ya cuman mulung gitu lah, orang hina-hina gitu. ‘Gembel’. Ya biarin aja, yang penting saya enggak ngambil barang orang, nyolong gitu,” tegas dia.

Ia ingat pernah membaca di koran, perihal pernyataan Presiden Prabowo yang mengatakan lebih menghormati pemulung daripada orang korupsi. Kalimat itu ia simpan dalam ingatan.

Namun pengalaman paling pahit bagi Awan bukan hinaan, melainkan dua kali “dikurung” oleh petugas Departemen Sosial (Depsos). Ia dibawa ke kawasan Kedoya, Jakarta Barat.

“Saya udah pernah dua kali dikurung Depsos. Wah saya tersiksa kalau dikurung,” katanya.

Awan Setiawan, pemulung di Palmerah, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026). Foto: Amira Nada/kumparan

Di tempat itu, uangnya ludes diminta oleh penghuni lain yang lebih dulu masuk.

“Duit saya yang dibawa abis ya kan. Yang masuk duluan minta rokok, kopi. Kalau saya ngelawan, ya saya dikeroyok, dia udah masuk duluan, kompak. Saya takut kan,” ungkap Awan.

Sejak itu, Awan menyimpan takut. Ia tidak berharap banyak dari pemerintah. Ia tidak meminta rumah atau pekerjaan. Satu-satunya harapan yang ia ucapkan sederhana, jangan lagi dikurung.

Awan hidup sendiri. Ia tak berkeluarga, tak punya rumah dan tidur di jalanan, di trotoar sekitar halte dan Stasiun Palmerah. Rumah warisan orang tuanya kini dikuasai adiknya setelah konflik keluarga. Hari-harinya berputar di sekitar pasar, karung, dan tumpukan sampah.