Sistem Peringatan Dini Gunung Merapi Dipastikan Berfungsi dengan Baik

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memastikan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) milik mereka berfungsi dengan baik. Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Joko Supriyanto, menjelaskan, ada 20-an lebih alat peringatan dini yang akan memantau kondisi Gunung Merapi.
"EWS menyala semua (berfungsi dengan baik-Red). Jalur evakuasi juga sudah siap. Titik kumpul semua sudah ada tanda arahnya dan aman," jelas Joko kepada wartawan di Sleman, Yogyakarta, Selasa (22/5).

Joko menjelaskan, EWS tersebut juga akan otomatis menyala dan dapat secara manual dinyalakan apabila terjadi lahar dingin maupun elevansi tertentu pada Merapi. Untuk kepentingan warga lereng Merapi, Joko menyebut, pihaknya telah menyiapkan 12 barak di Kecamatan Turi, Tempel, Pakem, Cangkringan, dan Ngemplak.
"Kemungkinan malam ada yang mengungsi karena kemungkinan masih ada yang trauma (bencana) tahun 2010 lalu," tuturnya.
Pedagang evakuasi dagangan
Suparno, pedagang makanan ringan di Kaliadem, Cangkringan, Sleman, yang beradius 5 kilometer dari puncak Merapi, telah mengemasi barang dagangannya sejak pagi hingga sore ini. Bersama puluhan pedagang lain, Suparno mengevakuasi barang dagangannya usai status Merapi dinaikkan ke level waspada.
"Status dinaikkan kita enggak berani buka (dagangan). Barang-barang kita amankan seadanya. Kalau Merapi sudah normal kita buka lagi. Tadi pagi pedagang lain ada yang (evakuasi) pakai truk," ujarnya kepada wartawan.
Sejak Senin (21/5), status Gunung Merapi telah naik dari level normal ke waspada. Dalam satu hari, erupsi freatik dikeluarkan dari Gunung Merapi sebanyak tiga kali.
Letusan pertama terjadi pukul 01.25 WIB. Sedangkan, letusan kedua terjadi pukul 09.38 WIB dengan ketinggian kolom 1.200 meter. Terakhir, letusan ketiga terjadi pukul 17.50 WIB dengan durasi 3 menit.
