Siswa di Ponpes Kaliabang, Bekasi, Belajar di Tengah Kepulan Debu Batu Bara
17 November 2025 13:06 WIB
·
waktu baca 4 menit
Siswa di Ponpes Kaliabang, Bekasi, Belajar di Tengah Kepulan Debu Batu Bara
Debu hitam yang menempel di lantai halus, lengket, dan menghitamkan telapak kaki memaksa mereka membersihkan ruangan sebelum pelajaran dimulai.kumparanNEWS

ADVERTISEMENT
Pagi di Pondok Pesantren Fathul Baari Indonesia, Kaliabang Bahagia, Bekasi, dimulai dengan mengangkat sapu dan kain pel. Bukan untuk membersihkan sisa makanan semalam, bukan pula karena jadwal piket harian.
ADVERTISEMENT
Debu hitam yang menempel di lantai halus, lengket, dan menghitamkan telapak kaki memaksa mereka membersihkan ruangan sebelum pelajaran dimulai.
Meski matahari baru saja terbit, suara gesekan sapu terdengar dari lantai tiga gedung ponpes yang paling terkena imbas. Di lantai inilah para santri belajar, mengaji, hingga bersiap untuk salat.
Lantainya masih polos, belum dipasang karpet atau ambal, sehingga setiap butir debu yang menempel begitu terlihat jelas.
“Setiap pagi gini, bersihin dulu. Baru bersih, angin datang, kotor lagi,” ujar Sodik Gunawan, pengurus ponpes yang sejak beberapa hari terakhir ikut mondar-mandir memeriksa kondisi ruangan, Senin (17/11).
Debu Muncul di Malam Hari
Fenomena debu hitam ini bukan hal baru bagi para santri. Menurut Sodik, setidaknya sudah berlangsung tiga minggu terakhir, kejadian terparah terjadi di hari Jumat saat hujan turun. Alih-alih terbawa air, debu justru menempel lebih pekat di lantai pondok.
ADVERTISEMENT
“Kita lihat di social media, warga juga ngeluh. Katanya dari pabrik di depan. Kita sendiri nggak tahu pastinya yang mana, karena belakang pondok ini juga pabrik,” tuturnya.
Para pengurus mengaku belum membuat laporan resmi, sebagian karena bingung mengarah ke siapa, sebagian lagi karena merasa tak banyak yang bisa dilakukan.
Santri Batuk dan Pilek
Yang jelas, santri sudah mulai merasakan dampaknya. Meski bukan sesak napas atau gangguan berat, kata Sodik, namun batuk dan pilek mulai jadi keluhan yang muncul hampir setiap hari.
“Banyak yang batuk, pilek. Kalau napas masih aman. Tapi alat-alat belajar jadi kotor, mukena hitam, sajadah juga kotor,” sambungnya.
Lantai 3: Tempat Ibadah yang Paling Terdampak
Di lantai tiga, aktivitas belajar dan ibadah berjalan dalam kondisi serba terbatas. Musala kecil di sudut ruangan masih dalam proses pembangunan.
ADVERTISEMENT
Tidak ada karpet tebal yang bisa menahan debu, tidak ada penutup lantai yang bisa rutin dicuci. Semua masih berupa lantai semen atau keramik polos yang menjadi "kanvas" debu setiap malam.
“Kita kan mau salat, tapi lantainya kotor. Kita bersihin dulu. Harus pel, harus sapu. Sajadah belum ada semua,” kata seorang santri sambil menunjukkan telapak kakinya yang kembali menghitam hanya beberapa menit setelah dibersihkan.
Setiap kali azan berkumandang, anak-anak itu kembali menurunkan sapu. Mereka membersihkan tempat sujud, memastikan setidaknya area kecil itu layak digunakan. Tapi setelah salat selesai dan angin kembali bertiup dari arah pabrik, debu turun lagi.
Santri 72 Orang, Datang dari Berbagai Daerah
Ponpes Fathul Baari bukan tempat kecil. Saat ini ada 72 santri yang tinggal, berasal dari Bekasi, Delta Mas, Cikarang, Jawa, bahkan NTT. Beberapa senior pondok sudah menjadi alumni ada yang merantau hingga ke luar negeri.
ADVERTISEMENT
Namun fasilitas yang mereka gunakan sehari-hari kini berubah menjadi area yang harus dibersihkan berkali-kali hanya untuk bisa belajar dengan layak.
“Kami sudah biasa hidup sederhana, tapi kalau debu kayak gini ya susah. Bersih sebentar, kotor lagi. Anak-anak juga kadang mengeluh bajunya jadi hitam di bagian bawah,” kata Sodik.
Ketika ditanya apakah sudah ada tindakan dari pemerintah, Sodik hanya menggeleng.
“Belum ada. Dari kita juga belum laporan resmi, tapi warga sekitar katanya sudah lapor ke RT, RW, dan DLH. Tapi ya belum ada perubahan,” ujarnya.
Bagi para santri, yang bisa dilakukan hanyalah menyesuaikan diri, menerima keadaan, dan kembali membersihkan ruangan.
Mereka tetap belajar membaca kitab kuning, tetap mengikuti jadwal hafalan, tetap berusaha menjaga semangat meski debu hitam terus menempel di lantai, di meja, dan di kain sarung mereka.
ADVERTISEMENT
Belajar dalam Diam, Berharap dalam Kepulan Debu
Siang hari, ruang kelas mulai ramai. Para santri duduk bersila, buku-buku mereka menyentuh lantai yang baru dipel. Di luar jendela, cerobong-cerobong pabrik berdiri tegak.
“Ya sudah, kita jalanin saja. Kita juga nggak tahu mau komplain ke mana,” kata salah satu santri sambil tersenyum pasrah.
Di balik senyum itu, ada kenyataan lain yang jauh dari ideal. Anak-anak di ponpes ini belajar di tengah debu hitam yang setiap hari menghampiri tanpa permisi. Mereka mengaji sambil sesekali menyapu, mereka salat sambil membersihkan lantai, mereka tumbuh sambil menelan situasi yang tak bisa mereka ubah.
Hingga hari ini, mereka tak punya pilihan lain. Mereka hanya bisa menerima setidaknya sampai ada pihak yang benar-benar peduli dan bertindak.
ADVERTISEMENT
