Siswa Meninggal Diduga Di-bully, Plt Bupati Pemalang: Semua Sekolah Pasang CCTV

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi CCTV. Foto: Victor Prilepa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi CCTV. Foto: Victor Prilepa/Shutterstock

Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, menegaskan tidak menoleransi tindakan bullying di sekolah. Hal ini ia sampaikan usai seorang siswa SD bernama Muhammad Hasbi Al Aqib (7) meninggal dunia usai diduga menjadi korban bullying kakak kelasnya.

Aqib diduga dipukul di bagian perut dan ditendang memakai sepatu oleh kakak kelasnya.

"Pemerintah tidak mentolerir adanya bullying atau perundungan. Dan kita harap kejadian ini adalah kejadian yang terakhir, tidak ada lagi," kata Nurkholes, Jumat (2/10).

Ia menceritakan, saat itu terjadi senggolan dan pemukulan. Setelah itu, anak masih mengikuti kegiatan sekolah seperti biasa.

"Kemudian, lima hari selanjutnya korban masuk rumah sakit. Selama di rumah sakit tidak sampai pemeriksaan detail. Hal yang dirasakan mual, perut sakit ini ada penjelasan tadi," jelasnya.

Pihaknya juga masih menunggu hasil autopsi dari pihak berwajib. Nurkholes akan mengumpulkan semua pihak terkait di Dinas Pendidikan. Upaya itu dilakukan untuk mencari jalan keluar agar permasalahan bullying tak berulang.

"Di sana juga sudah ada CCTV. Nah ini nanti akan kita giatkan sekolah ramah anak. Dan ini nanti akan kita formulasikan sistemnya bagaimana nanti sekolah-sekolah itu," sambungnya.

Selama ini menurutnya masih ada kekhawatiran dari orang tua untuk melaporkan tindakan bullying. Ia menyarankan agar orang tua tak takut melapor apabila ada tindakan bullying di sekolah.

"Dan yang jelas seluruh sekolah harus pasang CCTV," ucap Nurkholes.

Plt Bupati Pemalang Nurkholes memberikan keterangan kejadian bullying yang terjadi di SDN 1 Kebondalem, Pemalang. Foto: Dok. Istimewa

Perihal dugaan kelalaian dari pihak sekolah, Nurkholes menjelaskan sebenarnya siswa sudah diinterogasi dan memang benar terjadi pertengkaran.

"Pada saat kejadian itu, siswa sudah diinterogasi dan tidak ada rasa sakit tidak apa. Termasuk yang bertengkar sudah dimediasi," ujarnya.

Ia tak menampik CCTV tidak berjalan dengan baik saat itu. Evaluasi terkait CCTV akan segera dilakukan. Keberadaan CCTV sebagai penunjang sekolah ramah anak wajib tersedia.

"Ke depannya sekolahan ramah anak itu ya CCTV harus berjalan. Dan ada di beberapa kecamatan juga sudah yang sosialisasi tentang ramah anak, tentang kekerasan anak," ungkapnya.

Nurkholes mengungkapkan, pihak kepala sekolah juga sudah membuat kronologi kejadian. Antisipasi bullying dan pembinaan dan pengawasan terhadap murid juga sudah dilakukan.

"Nanti juga kami dengarkan dari ibu dari korban," imbuhnya.

Cerita Ibu Korban

Sementara itu, ibu korban, Diah Indriyanti awalnya belum mengetahui adanya bullying. Ia baru mengetahui Aqib di-bully setelah memeriksakannya ke dokter. Kala itu, Aqib menceritakan kepada dokter tentang perlakuan pelaku.

"Dia jawab setelah diperiksa dokter dan bilang kalau dipukul di bagian perut, ditendang memakai sepatu," terangnya.

Aqib sempat dirawat di RSUD Dr Azhari Pemalang pada Kamis (17/9). Ia mendapatkan perawatan selama sembilan hari dan pulang ke rumah. Namun, kondisi korban kembali memburuk dan meninggal dunia pada Rabu (30/9) saat perjalanan ke rumah sakit.

"Dia masih mengeluh sakit, tapi masih bisa berkomunikasi. Sejak tanggal 17 September dia tidak bisa jalan. Selama empat hari juga tidak bisa BAB dan pipis," ujarnya.

Menurut penjelasannya, Aqib sudah diperiksa di rumah sakit. Hasil rontgen dan USG menjelaskan adanya peradangan.

"Anak saya memang pegang perut. Dan di bagian perut dan kaki ada memar berwarna biru, dia dirawat di RS selama sembilan hari," jelasnya.

Diah bersama suami sudah meminta klarifikasi ke pihak sekolah. Namun, belum ada kejelasan dari pihak sekolah.

"Saya sudah klarifikasi ke sekolah bersama suami. Bahkan dari pihak sekolah tidak ada sama sekali pemberitahuan bahwa ada murid masuk rumah sakit sampai sembilan hari," imbuhnya.