Siswa MTs di Aceh Barat Dianiaya hingga Digunduli Sekelompok Remaja: Trauma, Keluarga Lapor Polisi

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengeroyokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengeroyokan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Seorang siswa madrasah tsanawiyah atau MTs berusia 14 tahun di Kabupaten Aceh Barat diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok remaja. Korban disebut mengalami trauma hingga sempat dibawa keluarganya ke Banda Aceh setelah kejadian tersebut.

Para terduga pelaku bahkan mengambil video perbuatan mereka dan disebar melalui status WhatsApp. Di dalam video itu, korban tampak digunduli oleh sekelompok remaja itu.

Kasus dugaan kekerasan yang terjadi di Desa Lapang, Kecamatan Johan Pahlawan, pada Selasa (27/10/2026) sekitar pukul 22.00 WIB itu kini telah dilaporkan ke Polres Aceh Barat.

Ayah korban lalu membuat laporan polisi dengan didampingi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Keadilan Indonesia (YLBH-KI) Perwakilan Aceh Barat pada Kamis (29/10/2026). Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/258/X/2026/SPKT/Polres Aceh Barat/Polda Aceh.

Perwakilan YLBH-KI Aceh Barat, Deni Setiawan, mengatakan korban sempat dibawa ke Banda Aceh setelah kejadian karena mengalami trauma dan merasa tidak nyaman berada di Aceh Barat.

Menurut Deni, berdasarkan keterangan korban, peristiwa bermula ketika korban dijemput di Desa Suak Ribe oleh sekelompok orang yang diperkirakan berjumlah sekitar 10 orang. Korban kemudian dibawa ke Desa Lapang.

“Menurut pengakuan korban, korban dibawa dari Desa Suak Ribe ke Desa Lapang, lalu mendapatkan kekerasan, digunduli, bahkan sempat disulut rokok di bagian tubuh,” kata Deni.

Seorang siswa madrasah tsanawiyah (MTs) berusia 14 tahun di Kabupaten Aceh Barat diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok remaja, Selasa (27/10/2026). Foto: Dok. Istimewa

Deni menjelaskan, pihaknya menerima informasi kejadian tersebut setelah kerabat keluarga korban mendatangi YLBH-KI dan menceritakan kondisi yang dialami anak tersebut.

Pihaknya kemudian menyarankan agar korban kembali ke Aceh Barat sehingga keluarga dapat membuat laporan polisi dengan pendampingan hukum.

“Setelah kerabat keluarga menemui pihak YLBH-KI Perwakilan Aceh Barat dan menceritakan kejadian tersebut, kami menganjurkan agar korban yang sedang trauma dibawa pulang dari Banda Aceh. Malam ini ayah korban kami dampingi membuat laporan di Polres Aceh Barat,” ujarnya.

Deni berharap laporan tersebut dapat ditindaklanjuti kepolisian untuk mengungkap dugaan kekerasan yang dialami korban dan meminta pihak-pihak yang terlibat dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan dari pihak kepolisian mengenai perkembangan penanganan laporan maupun identitas terduga pelaku.

Berawal dari Sepeda

Seorang siswa madrasah tsanawiyah (MTs) berusia 14 tahun di Kabupaten Aceh Barat diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok remaja, Selasa (27/10/2026). Foto: Dok. Istimewa

Deni menjelaskan dugaan kekerasan itu berawal dari persoalan sebuah sepeda yang ditemukan korban di Jalan Generasi, Kecamatan Johan Pahlawan.

Menurut Deni, berdasarkan pengakuan korban, saat itu korban sedang dalam perjalanan pulang dari Kecamatan Kaway XVI menuju rumahnya di Desa Suak Ribe. Karena tidak mengenakan helm dan khawatir terkena razia polisi, korban memilih melewati Jalan Generasi yang relatif sepi.

Dalam perjalanan, korban melihat sebuah sepeda tergeletak di jalan. Ia kemudian mengambil dan membawanya pulang karena mengira sepeda tersebut tidak bertuan. Sepeda itu belakangan diketahui milik warga Desa Lapang.

Korban disebut sempat menggunakan sepeda tersebut di lingkungan tempat tinggalnya di Desa Suak Ribe. Namun, keberadaan sepeda itu kemudian diketahui sejumlah orang yang mengenal pemiliknya.

“Menurut pengakuan korban, pada malam kejadian sekitar 10 orang datang menjemputnya secara paksa dari Desa Suak Ribe, kemudian membawanya ke Desa Lapang,” kata Deni.

Deni mengatakan, tuduhan pencurian sepeda tersebut masih berdasarkan dugaan pihak yang membawa korban. Sementara itu, menurut pengakuan korban, ia tidak pernah mencuri, namun mengambil sepeda karena menemukannya tergeletak di jalan.