Siswa PAUD di Cianjur Meninggal Usai Divaksin Corona, Alami Demam dan Kejang
ยทwaktu baca 2 menit

Seorang siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ZL (6,5) asal Kecamatan Pasirkuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, meninggal dunia usai menjalani vaksinasi COVID-19 Sinovac.
Diduga ZL mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Dia sempat mengalami demam tinggi dan beberapa kali kejang-kejang.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, dr Yusman Faisal, mengatakan, diketahui siswa tersebut menjalani vaksinasi di SD Banyuwangi, Kecamatan Pasirkuda, Senin (17/1) pagi.
Vaksinasi dilakukan, kata Yusman, setelah menjalani tahap pemeriksaan dan mendapat persetujuan orang tuanya.
"Setelah menjalani tahap pemeriksaan dan mendapat persetujuan orang tua, anak tersebut pun disuntikan vaksin, sekitar pukul 09.30 WIB. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, anak tersebut dinyatakan layak untuk mendapatkan vaksinasi," kata Yusman kepada wartawan, Rabu (19/1).
Sekitar pukul 12.30 WIB, orang tua siswa tersebut melaporkan pada petugas bahwa anaknya mengalami demam. Petugas puskesmas pun memberi obat pereda demam dengan dititipkan pada gurunya di sekolah.
Menurut Yusman, pada pukul 19.30 WIB, ZL kembali mengalami demam hingga kejang-kejang. Orang tuanya pun segera membawanya ke puskesmas untuk diperiksa.
"Sejak siang mengalami demam hingga malam harinya mengalami kejang. Sudah ditangani secara medis, mulai dari pemberian obat sampai perawatan di puskesmas," tuturnya.
Namun pada Selasa (18/1) pagi, lanjut Yusman, ZL kembali demam dan kejang, sehingga pihak Puskesmas merekomendasi agar siswa tersebut dirujuk ke RSUD Pagelaran.
"Sekitar pukul 09.00 WIB anak demam dengan suhu 39 derajat. Setelah ada persetujuan dokter spesialis di RSUD Pagelaran, pihak puskesmas menyarankan agar dirujuk, tapi orangtua anak tersebut menolak," katanya.
Menurut Yusman, pada pukul 10.15 WIB, anak tersebut dinyatakan meninggal dunia di ruang IGD puskesmas.
Anak meninggal di puskesmas.
-dr Yusman Faisal
Yusman mengatakan Dinas Kesehatan Cianjur sudah melaporkan kejadian tersebut ke Komnas KIPI dan memasukkan kejadiannya dalam KIPI berat.
"Untuk saat ini diduga akibat KIPI, tapi untuk pastinya menunggu hasil dari Komnas KIPI. Petugas puskesmas dan Dinkes sudah ditugaskan untuk mencari data dan kronologi tambahan yang nantinya akan dilaporkan ke Komnas KIPI," tuturnya.
Yusman menambahkan kejadian tersebut merupakan yang pertama di Cianjur. Namun Yusman meminta orang tua tidak perlu khawatir dan menjadi ragu anaknya divaksinasi.
Kejadian KIPI, apalagi hingga meninggal dunia, itu persentasenya kecil. Vaksinasi itu ada risiko, tapi manfaatnya lebih besar, yakni untuk mencegah penyebaran COVID-19. Jadi para orang tua jangan khawatir.
-dr Yusman Faisal
