Siswa Sekolah Perikanan di Aceh Diduga Tewas Dianiaya Senior

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Riyanto. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Riyanto. Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

Polresta Banda Aceh mulai menemukan titik terang atas kematian Raihan Alsyahri (16), siswa kelas I Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong, Aceh Besar pada Jumat (1/3) lalu. Raihan diduga meninggal karena dianiaya oleh seniornya.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto, mengatakan polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap 18 saksi. Di antaranya 7 siswa SUPM, penjaga sekolah, guru, dan salah seorang pengelola kantin.

“Dalam hasil pemeriksaan memang ada siswa, seniornya, yang melakukan penganiayaan. Tetapi ini masih kita dalami untuk menuju ke arah dia sebagai pelaku hingga menyebabkan meninggal dunia,” kata Trisno, saat ditemui di Mapolresta Banda Aceh, Senin (4/3).

Polisi tidak menemukan adanya CCTV di lingkungan sekolah tersebut. Kendati demikan, polisi telah mengantongi nama seorang siswa yang diduga sebagai pelaku penganiayaan.

Lokasi Siswa Perikanan di Aceh Besar yang Tewas di Belakang Asrama Sekolah Foto: Zuhri Noviandi/kumparan

“Tidak ada CCTV, sementara yang teridentifikasi di dalam asrama itu ada satu orang yang kita identifikasi sebagai pelaku. Yang melakukan penganiayaan satu orang,” ujarnya.

Raihan ditemukan meninggal dunia di atas bukit berjarak sekitar 300 meter dari asrama SUPM pada Jumat (1/3). Saat ditemukan, polisi mendapati adanya luka memar pada dahi dan kepala bagian belakang. Korban masih mengenakan seragam sekolah dengan memakai sandal jepit berwarna hitam.

Trisno menceritakan, pada Senin dan Selasa (26-27/2), korban masih tampak berada di lingkungan sekolah dan asrama. Akan tetapi, pada Rabu (27/2), korban menghilang tanpa meninggalkan jejak.

embed from external kumparan

Polisi menduga pada Rabu itu korban dianiaya. Korban selanjutnya ditemukan pada Jumat sekitar pukul 11.45 WIB dalam kondisi tidak bernyawa.

"Kita masih menunggu keterangan saksi dan bukti-bukti lain, sehingga ada sinkronisasi siapa pelaku pembunuh korban atau yang terlibat di dalamnya,” ujar Trisno.

“Kita fokus mengungkapkan penemuan mayat ini sehingga bisa diungkap, mohon doanya. Sejauh ini kita belum temukan ada unsur indikasi peloncoan di sana (sekolah),” tambahnya.