Siswi di Sragen Diteror karena Tak Berjilbab, Disdik Jateng Bertindak

Salah satu siswi SMAN I Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mengaku dibully oleh temannya karena tidak mengenakan jilbab. Siswi yang berinisial Z itu mengaku mendapat teror di WhatsApp.
Kisah Z ini kemudian direspons langsung oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Jumeri langsung turun tangan mengatasi kasus itu.
Jumeri mengatakan timnya telah mendatangi SMAN I Gemolong, Sragen, untuk melakukan berbagai tindakan. "Alhamdulillah kasus ini sudah selesai. Semua pihak sudah memberikan penjelasan dan Z juga sudah menerima," ujar Jumeri, Jumat (10/1).
Z adalah satu-satunya siswi di SMAN I Gemolong yang tidak mengenakan jilbab. Di sekolah itu, ada 946 murid. Murid perempuan di sana semuanya berjilbab kecuali Z.
“Z adalah satu-satunya siswi di SMAN I Gemolong yang tidak menggunakan jilbab. Kemudian teman-temannya mengirim pesan melalui WA (WhatsApp) itu. Teman-temannya mengingatkan bahwa Z keliru karena tidak memakai jilbab,” terang Jumeri.
Belum diketahui apa alasan Z tak mengenakan jilbab meski beragama Islam. Jumeri berharap atas insiden itu, institusinya akan mengumpulkan seluruh siswa, kepala sekolah, guru pembina Rohis dan pengurus OSIS SMAN I Gemolong.
“Kami tidak ingin, ke depan masalah intoleransi ini kembali terjadi. Semuanya harus saling menghormati dan menghargai perbedaan,” tegasnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga akan mengumpulkan pengurus Rohis se-Kabupaten Sragen untuk diberikan pembinaan. Tujuannya, agar kasus intoleransi dan intimidasi diantara siswa tidak kembali terulang.
“Kami sebenarnya sudah melakukan ikhtiar di Sragen luar biasa, semua guru sudah dikumpulkan oleh PGRI untuk diberi pemahaman. Kemenag, Polres, Korem dan lainnya juga tidak lelah untuk memberikan pengertian tentang toleransi, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dan Pancasila. Kami akan terus berusaha agar tindakan-tindakan intoleransi tidak terjadi lagi di Jawa Tengah,” tutupnya.
