Siswi SMA Negeri 1 di Bantul Diduga Depresi Usai Dipaksa Guru Pakai Jilbab

29 Juli 2022 17:44
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Ilustrasi depresi. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi depresi. Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan
ADVERTISEMENT
Seorang siswi SMA Negeri 1 Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY, mengalami depresi diduga karena dipaksa gurunya untuk mengenakan jilbab. Peristiwa tersebut terjadi pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
ADVERTISEMENT
Yuliani selaku pendamping anak yang bersangkutan menjelaskan bahwa saat mengikuti MPLS sebenarnya anak tersebut nyaman-nyaman saja. Hanya saja pada tanggal 19 Juli anak tersebut dipanggil oleh tiga guru Bimbingan dan Konseling (BK)--istilah baru dari Bimbingan dan Penyuluhan (BP).
"Anak itu dipanggil di BP (BK) diinterogasi tiga guru BP (BK). Bunyinya itu kenapa enggak pakai hijab. Dia sudah terus terang belum mau," kata Yuliani saat di kantor Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY di Jalan Affandi, Sleman, Jumat (29/7).
Yuliani, pendamping siswi SMA N 1 Banguntapan Bantul yang dipaksa gurunya memakai jilbab. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Yuliani, pendamping siswi SMA N 1 Banguntapan Bantul yang dipaksa gurunya memakai jilbab. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
Dijelaskan bahwa bapak sang anak ini telah membelikan jilbab dari sekolah. Akan tetapi, memang sang anak masih belum mau dan hal ini merupakan hak asasi masing-masing, guru pun tak boleh memaksa meski siswi itu penganut agama Islam (muslim).
ADVERTISEMENT

Yuli mengatakan, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, tidak ada kewajiban model pakaian kekhususan agama tertentu menjadi pakaian seragam sekolah.

Sekolah pun tidak boleh melarang peserta didik jika mengenakan seragam sekolah dengan model pakaian kekhususan agama tertentu sesuai kehendak orang tua, wali, dan peserta didik.
Menurut Yuliani, saat itu sang anak merasa dipojokkan karena diinterogasi. Selain itu, disebutkan bahwa guru sempat memakaikan jilbab ke anak tersebut.
"Dia juga paham mungkin dia (guru) nyontohin pakai hijab, tapi anak ini merasa tidak nyaman. Jadi merasa dipaksa," kata Yuliani.
Saat itu guru sempat bilang ke anak tersebut, "Lha terus kamu kalau nggak mulai pakai hijab mau kapan pakai hijab". Menurut, Yuliani hal itu sudah jelas merupakan pemaksaan.
ADVERTISEMENT
"Anak merasa banget dipojokkan. Mungkin gurunya masih prolog yang macam-macam itu. Anaknya minta izin ke toilet. Nangis satu jam lebih di toilet," katanya.
"Izin ke toilet kok nggak masuk-masuk, kan, mungkin BP (BK) ketakutan terus [pintu] digetok, anaknya mau bukain pintu dalam kondisi sudah lemas, terus dibawa ke UKS. Dia baru dipanggilkan orang tuanya," katanya.
Yuliani yang juga dari Persatuan Orang Tua Peduli Pendidikan (Sarang Lidi) ini mengatakan bahwa pada Senin, 25 Juli 2022 sang anak sempat pingsan di sekolah saat upacara. Hal itu kemungkinan karena sang anak masih merasa tertekan.
Menurut Yuliani, sejak hari Selasa 26 Juli, anak tersebut mengalami depresi dan mengurung diri di kamar. Bahkan Yuliani pun baru bisa berkomunikasi dengan sang anak melalui WhatsApp.
ADVERTISEMENT
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Dia depresi yang sangat luar biasa dengan dia dipakein hijab sama guru BP itu. Jadi itu, kan, ada pemaksaan.
-Yuliani
Beberapa hari lalu, Yuliani pun telah bertemu dengan sekolah dan dinas terkait. Namun saat itu pihak sekolah justru mengkambinghitamkan siswi dengan menuduh bahwa siswi tersebut ada masalah di rumah.
"Seolah-olah dia mengkambinghitamkan bahwa ini adalah ada persoalan di keluarga. Waktu SMP itu juga tidak ada masalah. Sampai dia ujian lulus itu enggak ada masalah. Terus waktu di dinas itu seolah-olah dia [pihak sekolah] memojokkan bahwa itu bukan masalah karena hijab, tapi itu masalah keluarga. Saya marah," beber Yuliani.
Kondisi terkini, anak tersebut masih trauma dan tidak mau sekolah di SMA itu lagi.
"Sampai sekarang saja belum masuk. Trauma dia tidak mau sekolah di situ. Okelah pasti nanti kita pindah karena KPAI saya libatkan, ORI (Ombudsman Republik Indonesia) juga terlibat," katanya.
ADVERTISEMENT
Pada hari ini, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Banguntapan Agung Istianto dipanggil ORI DIY untuk memberikan klarifikasi. Namun, setelah dari kantor ORI DIY tersebut, dia enggan memberikan keterangan ke awak media.

Tanggapan ORI DIY

Kepala ORI Perwakilan DIY Budhi Masturi. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Kepala ORI Perwakilan DIY Budhi Masturi. Foto: Arfiansyah Panji/kumparan
Kepala ORI DIY Budhi Masturi mengatakan bahwa pihaknya hari ini telah memanggil kepala sekolah. Langkah ini dilakukan untuk menggali informasi sebanyak mungkin.
"SMA Negeri 1 Banguntapan Bantul. Ya, kita menerima pertamanya informasi kalau ada seorang siswa yang kemudian mengurung diri di kamar mandi sekolah sampai 1 jam," kata Budhi.
Budhi mengatakan, setelah menerima informasi tersebut dilakukanlah pengecekan. Dan benar bahwa ada siswi yang menangis di toilet sekolah selama 1 jam. Saat itu, kepala sekolah hanya menyampaikan informasi bahwa siswi itu mengalami masalah keluarga.
ADVERTISEMENT
"Kami terus dapat informasi dan rupanya ada sedikit informasi ada sangkut paut pada pakaian identitas agama," kata Budhi.
Pendamping dan orang tua siswi tersebut kemudian melaporkan hal ini ke ORI DIY sehingga kepala sekolah dipanggil untuk mengetahui seberapa jauh dia mengetahui kejadian ini.
"Tadi dia [kepala sekolah] menyampaikan bahwa dia pertama kali mendapatkan informasi ketika Ombudsman ada di sana sehingga dia tidak mendapatkan banyak informasi malah lebih banyaknya dari kita informasinya," kata Budhi.
Menurut Budhi, kepala sekolah juga mengaku tidak mendapatkan laporan dari BK. Terkait hal ini, Budhi mengatakan pihaknya masih akan terus mengusut.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020