Situasi Terbaru Afghanistan: Ricuh di Bandara; Taliban Bahas Pemerintahan Baru

23 Agustus 2021 8:49 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sebuah keluarga Afghanistan melewati titik persimpangan Gerbang Persahabatan di kota perbatasan Chaman, Pakistan Kamis (19/8/2021). Foto: Saeed Ali Achakzai/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah keluarga Afghanistan melewati titik persimpangan Gerbang Persahabatan di kota perbatasan Chaman, Pakistan Kamis (19/8/2021). Foto: Saeed Ali Achakzai/Reuters
ADVERTISEMENT
Afghanistan bergejolak setelah roda pemerintahan jatuh ke tangan Taliban. Kelompok ini siap membentuk pemerintahan baru.
ADVERTISEMENT
Situasi di Afghanistan jadi tak menentu dan dilaporkan mencekam. Terbaru sebanyak tujuh orang tewas dalam kericuhan yang terjadi di sekitar Bandara Kabul, Afghanistan, Minggu (22/8).
Kericuhan itu terjadi diduga saat sejumlah orang melarikan diri setelah kelompok Taliban mengambil alih Afghanistan.
Dikutip dari Reuters, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Inggris melaporkan tujuh orang tersebut merupakan warga sipil.
"Turut berduka bersama keluarga dari tujuh warga sipil Afghanistan yang tewas secara menyedihkan di kerumunan di Kabul," tulis pernyataan Kemenhan Inggris dikutip Reuters, Minggu (22/8).
"Kondisi di lapangan tetap sangat menantang tetapi kami melakukan segala yang kami bisa untuk mengelola situasi seaman dan seaman mungkin," imbuhnya.
Seorang Marinir AS bermain dengan anak-anak selama evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul, Afghanistan, Jumat (20/8/2021). Foto: Sgt. Samuel Ruiz/U.S. Marine Corps/Reuters

Kondisi Pilu Warga Afghanistan di Luar Bandara Kabul

Orang-orang ketakutan dan dehidrasi, setidaknya ada tiga mayat yang tersorot kamera TV dalam kerumunan warga di tengah cuaca terik di luar Bandara Hamid Karzai Kabul, Sabtu (21/8). Mereka tengah berusaha mati-matian untuk melarikan diri dari Taliban yang mengambil alih Afghanistan.
ADVERTISEMENT
Kondisi evakuasi yang kacau tersebut terlihat dalam rekaman TV Sky News Inggris yang menunjukkan tentara tengah menutup tiga mayat dengan terpal putih. Tak diketahui bagaimana mereka meninggal.
Dikutip dari AFP, reporter Sky News Stuart Ramsay, yang berada di bandara, mengatakan bahwa orang-orang di depan kerumunan dalam kondisi 'hancur' dan petugas medis tengah bergegas dari satu korban ke korban lainnya.
Rekaman itu juga menunjukkan beberapa orang terluka. Selain itu Ramsay mengatakan orang-orang mengalami dehidrasi. Tentara mengarahkan selang air kepada kerumunan, berupaya mendinginkan mereka.
Melihat kondisi tersebut, kata Ramsay, kematian mungkin tak terhindarkan.
Bandara menjadi lokasi masyarakat Afghanistan menumpuk harapan sejak Taliban menguasai Kabul pada 15 Agustus. Puluhan ribu warga Afghanistan menunggu di kondisi panas selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari dalam upaya untuk dapat dievakuasi.
ADVERTISEMENT
Keluarga-keluarga yang mengharapkan keajaiban melarikan diri telah berkerumun di antara batas-batas kawat berduri dari tanah tak bertuan yang memisahkan Taliban dari pasukan Amerika Serikat dan sisa-sisa brigade pasukan khusus Afghanistan yang membantu.
Jalan menuju bandara macet dan ada laporan tentang Taliban atau gerilyawan lain yang menghentikan dan memukuli atau melecehkan warga Afghanistan yang mencoba melarikan diri.
Amerika yang telah menguasai bandara, telah berulang kali memperingatkan orang-orang untuk menjauh kecuali mereka berada dalam daftar evakuasi. Namun masyarakat tetap memadati akses bandara tersebut.
Bahkan, Presiden Amerika Joe Biden menyebut evakuasi ini merupakan salah satu yang terbesar dan paling sulit dalam sejarah.
Seorang pejuang Taliban berdiri di kota Ghazni, Afghanistan. Foto: Stringer/REUTERS

Gerilyawan Taliban Halangi Pegawai Pemerintahan di Kabul Bekerja

Pegawai pemerintahan di Kabul dihalangi oleh gerilyawan Taliban untuk kembali ke kantor mereka pada hari Sabtu (21/8). Mereka tidak bisa masuk ke kantor untuk bekerja.
ADVERTISEMENT
Sejak kelompok Taliban mengambil alih Afghanistan, gedung-gedung pemerintah, bank, sekolah dan universitas sebagian besar ditutup.
Hanya beberapa perusahaan swasta, termasuk perusahaan telekomunikasi, yang telah beroperasi sejak Taliban kembali berkuasa.
Pemblokiran karyawan memasuki kantor mereka terjadi meskipun Taliban mengumumkan bahwa mereka akan mengizinkan staf pemerintah untuk terus bekerja.
"Saya pergi ke kantor pagi ini, tetapi Taliban yang berada di gerbang memberi tahu kami bahwa mereka belum menerima perintah untuk membuka kembali kantor-kantor pemerintah," kata Hamdullah, seorang pegawai pemerintah, dikutip dari AFP.
"Mereka menyuruh kami menonton TV atau mendengarkan radio untuk pengumuman kapan harus kembali bekerja," sambung dia.
Pendiri Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar. Foto: Karim Jaafar/AFP

Para Petinggi Taliban Berkumpul di Kabul, Bahas Pembentukan Pemerintahan Baru

Salah satu pendiri Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar tiba di Kabul pada hari Sabtu (21/8) untuk pembicaraan tentang pembentukan pemerintah 'inklusif' baru di Afghanistan.
ADVERTISEMENT
Kedatangan Baradar menyusul sejumlah pemimpin senior Taliban lainnya yang sudah terlihat di Kabul dalam beberapa hari terakhir, termasuk Khalil Haqqani - pria paling dicari di Amerika Serikat dengan hadiah USD 5 juta untuk kepalanya.
Seorang pejabat senior Taliban mengatakan kepada AFP bahwa Baradar akan bertemu dengan para pemimpin jihad dan politisi untuk pembentukan pemerintah yang inklusif.
Beberapa jam kemudian, akun media sosial pro-Taliban memperlihatkan Haqqani mengumumkan klaim bahwa Ahmad Massoud yang merupakan putra pejuang anti-Taliban paling terkenal di Afghanistan Ahmad Shah Massoud - telah 'menyatakan kesetiaan' kepada Taliban.
Diketahui, Massoud awal pekan ini meminta Amerika Serikat untuk memasok senjata ke gerakan perlawanannya di Lembah Panjshir, timur laut Kabul, dengan mengatakan dia ingin mengikuti jejak ayahnya Ahmad Shah Massoud.
ADVERTISEMENT
Massoud belum mengeluarkan pernyataan terkait klaim dari Taliban ini.
Taliban kuasai Istana Presiden. Foto: Zabi Karimi/AP
Masih dikutip dari AFP, Haqqani juga dikabarkan telah bertemu dengan Gulbuddin Hekmatyar yang merupakan mantan saingan berat selama perang saudara yang brutal pada awal 1990-an, tetapi masih berpengaruh dalam politik Afghanistan.
Baradar tiba di Afghanistan Selasa lalu dari Qatar. Ia memilih untuk mendarat di kota terbesar kedua di negara itu Kandahar, tempat kelahiran spiritual Taliban.
Ditangkap di Pakistan pada 2010, Baradar ditahan sampai tekanan dari Amerika Serikat membuatnya dibebaskan pada 2018 dan dipindahkan ke Qatar. Setelahnya, dia ditunjuk sebagai kepala kantor politik Taliban di Doha.
Baradar adalah kepala bidang politik Taliban yang sangat berpengaruh. Baradar memimpin berlangsungnya perjanjian antara AS dengan Taliban pada Februari 2020 yang berisi kesepakatan penarikan pasukan AS dari Afghanistan.
ADVERTISEMENT
Padahal, dua hari setelah merebut kekuasaan, Taliban mengumumkan amnesti umum, dan mengatakan semua orang harus kembali bekerja.
Pada hari Jumat, Haqqani - paman dari wakil pemimpin Taliban Sirajuddin Haqqani - terlihat memimpin salat di sebuah masjid di Kabul.
Pemimpin kunci lain dari jaringan yang ditakuti - Anas Haqqani - juga berada di ibu kota dan telah bertemu dengan mantan presiden Hamid Karzai dan Abdullah Abdullah, yang memimpin proses perdamaian secara keseluruhan untuk pemerintahan sebelumnya.
Marinir AS memberikan bantuan selama evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai, di Kabul, Afghanistan, Jumat (20/8/2021). Foto: Lance Cpl. Nicholas Guevara/U.S. Marine Corps/Reuters

Lebih dari 7 Ribu Orang Dievakuasi ke Qatar usai Taliban Ambil Alih Afghanistan

ADVERTISEMENT
Lebih dari 7.000 orang telah dievakuasi dari Afghanistan ke Qatar. Evakuasi besar-besaran ini terjadi usai Taliban berhasil mengambil alih Afghanistan.
Qatar dan Uni Emirat Arab telah menjadi dua negara terdekat dan merupakan negara strategis untuk proses evakuasi bagi warga asing, jurnalis dan lainnya dari Afghanistan.
ADVERTISEMENT
"Sejak dimulainya operasi internasional, lebih dari 7.000 orang telah dievakuasi dari Afghanistan ke Qatar," kata pejabat Qatar yang menolak disebutkan namanya, dikutip dari AFP, Sabtu (22/8).
"Atas permintaan LSM, lembaga pendidikan dan organisasi media internasional, kami mengevakuasi ratusan karyawan Afghanistan dan keluarga mereka, serta mahasiswi di seluruh negeri," kata pejabat itu.
Evakuasi juga dilakukan terhadap warga Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan negara lainnya. Evakuasi ini masih terus berlangsung dan diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah.
Seorang Marinir AS meraih seorang bayi di atas pagar kawat berduri selama evakuasi di Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, Kamis (19/82021). Foto: Omar Haidiri / AFP
Sementara, pejabat Amerika menyatakan operasi evakuasi di Qatar pada Jumat (20/8) sempat terhenti selama 7 jam karena bandara yang penuh sesak.
Doha pada akhirnya menampung hingga 8.000 warga Afghanistan, menurut pejabat Qatar, yang menekankan bahwa dari mereka yang saat ini tengah proses transit ke negara lainnya.
ADVERTISEMENT
UEA juga telah menjadi pusat evakuasi, dengan otoritas Prancis menggunakan ibu kota Abu Dhabi dan Inggris menggunakan Dubai sebagai titik transit bagi warga negara mereka dan pengungsi yang disetujui.
Sebanyak lebih dari 8.500 orang telah transit di UEA sejauh ini, berdasarkan data pemerintah.
Enam hari setelah Taliban berkuasa, arus orang yang mencoba melarikan diri dari Afghanistan terus membanjiri komunitas internasional.
Jalan-jalan menuju bandara Kabul macet, sementara keluarga-keluarga yang mengharapkan keajaiban melarikan diri telah berkerumun di antara kawat berduri yang mengelilingi Bandara Kabul.