Skor PISA Sains dan Literasi Siswa di RI Naik, tapi Growth Mindset Rendah

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah siswa antre saat bersalaman dengan guru pada hari pertama masuk sekolah pascalibur Lebaran di SMP Negeri 1 Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (30/3/2026). Foto: Adeng Bustomi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah siswa antre saat bersalaman dengan guru pada hari pertama masuk sekolah pascalibur Lebaran di SMP Negeri 1 Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (30/3/2026). Foto: Adeng Bustomi/ANTARA FOTO

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang diikuti oleh 91 negara dan melibatkan lebih dari 760 ribu siswa di seluruh dunia. Hasilnya, skor Literasi dan Sains siswa di Indonesia mengalami peningkatan.

Skor Sains di Indonesia berada di angka 389 pada 2025. Pada 2022, skor hanya mencapai angka 383. Kemudian, skor Literasi/Membaca Indonesia berada di angka 365 pada 2025, sementara skor hanya mencapai angka 359 pada 2022. Artinya, kedua skor sama-sama mengalami kenaikan 6 poin dibandingkan dengan tahun 2022.

PISA merupakan program evaluasi pendidikan global untuk mengukur kemampuan siswa. OECD berfokus pada tiga kemampuan dasar, yakni sains, matematika, dan literasi atau membaca. PISA diselenggarakan sejak tahun 2000 dan dilakukan setiap 3 tahun sekali.

embed from external kumparan

Sementara itu, skor Matematika/Numerasi siswa di RI memang mengalami penurunan dibandingkan dengan 2022. Pada 2025, skor Matematika/Numerasi berada di angka 364. Padahal tahun 2022 skor mencapai angka 366. Artinya, terdapat penurunan sebanyak 2 poin.

Peringkat Indonesia pun turun ke-74. Sebelumnya, Indonesia berada di peringkat ke-68 pada hasil PISA 2022. Akan tetapi, negara yang bergabung pada 2025 memang mengalami kenaikan menjadi 91 negara; sebelumnya hanya ada 81 negara.

Jika di-breakdown satu per satu, skor Sains di Indonesia berada di peringkat ke-73 (dari 91 negara), Literasi berada di peringkat ke-74 (dari 90 negara), dan Matematika berada di peringkat ke-78 (dari 90 negara).

Sejumlah siswa SD Negeri 047174 bermain pada jam istirahat saat erupsi Gunung Sinabung di Desa Kutarayat, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Selasa (1/9/2026). Foto: Yudi Manar/ ANTARA FOTO

Peringkat skor PISA Indonesia yang mengalami penurunan bisa terjadi. Sebab skor PISA di negara lain juga sudah terlampau tinggi. Hal inilah yang kemudian, meskipun di beberapa kemampuan seperti Sains dan Literasi skor Indonesia berhasil mengalami kenaikan, tetapi negara lain sudah jauh lebih dulu memiliki skor tinggi pada Sains, Literasi, dan Matematika.

Berdasarkan rilis Kemendikdasmen soal PISA 2025, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, menyebut performa pendidikan Indonesia masih relatif stabil.

"Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains," kata Toni pada Selasa (8/9).

Penilaian PISA di Indonesia diikuti oleh 14.168 murid di 419 sekolah yang mewakili sekitar 3,99 juta siswa berusia 15 tahun atau sekitar 90 persen dari total populasi murid berusia 15 tahun.

embed from external kumparan

Jika melihat target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia, terdapat target skor untuk Sains, Matematika, Literasi yang telah ditetapkan. Skor PISA Indonesia ternyata masih di bawah target RPJMN.

Pada skor Sains, misalnya, RPJMN menetapkan skor 416, sementara skor Sains siswa di Indonesia versi OECD baru mencapai 389. Lalu, ada skor Matematika, RPJM menetapkan skor 404. Akan tetapi, skor Matematika versi OECD baru menyentuh angka 364.

Sementara, skor Literasi RPJM menetapkan skor 396. Indonesia versi skor PISA milik OECD baru menyentuh angka 365. RPJMN sendiri merupakan rencana pembangunan nasional.

Isinya juga mencakup visi, misi, serta program Presiden dan Wakil Presiden pada 5 tahun ke depan. RPJM digunakan oleh kementerian untuk menyusun rencana strategis (Renstra) dan rencana kerja pemerintah (RKP) tahunan.

Pemaparan hasil temuan dari survei keterampilan sosial-emosional oleh OECD di SD Masehi Kudus. Foto: Dok. Bakti Pendidikan Djarum Foundation

Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, mengapresiasi capaian Indonesia yang dinilai berhasil mengatasi tantangan yang masih dihadapi banyak negara, yaitu memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas.

Data OECD juga menunjukkan ternyata siswa usia 15 tahun di Indonesia memiliki tingkat keingintahuan (curiosity) yang tertinggi, serta telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri.

Hal ini pun patut diapresiasi. Sebab, tingkat rasa ingin lebih tahu (curiosity) siswa di Indonesia memiliki index mencapai 80 persen, sementara negara-negara lain hanya berada di angka 73 persen atau rata-rata OECD.

Guru menyampaikan pelajaran kepada siswa di bawah pohon karena gedung kelas mereka rusak di SDN Jarak, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (9/9/2026). Foto: Gecio Viana/ANTARA FOTO

Selain itu, 74 persen murid mengerahkan upaya ekstra ketika ada materi pembelajaran yang menantang dibandingkan dengan rata-rata murid di negara peserta OECD yang hanya mencapai 60 persen.

Meski begitu, ternyata cuma ada 3 dari 10 siswa di Indonesia yang memiliki growth mindset. Maksud dari growth mindset di sini adalah saat kamu percaya bahwa kunci sukses adalah terus belajar dan kerja keras. Artinya, masih sedikit siswa yang memiliki pola pikir untuk terus berkembang dan bertumbuh dalam hal pembelajaran.