Slobodan Praljak: Serbia Raya dan Genosida Bosnia

Slobodan Parljak, mantan jenderal Kroasia yang terlibat kasus genosida Bosnia, bunuh diri di ruang sidang PBB, Den Haag, Belanda pada Kamis (29/11). Praljak memilih mengakhiri hidupnya di pengadilan ketika mendengar bahwa dirinya divonis 20 tahun penjara oleh hakim.
"Yang Mulia, saya bukanlah penjahat perang!" katanya. "Saya menolak keputusan Anda dengan penghinaan!" seru Praljak sebelum meminum racun yang sampai saat ini belum diketahui dari mana asalnya. Suasana ruang sidang langsung ramai ketika Praljak meminum racun itu.
"Saya telah meminum racun," ujar Praljak. Ketika mendengar ucapan itu, hakim yang memimpin sidang melongo seakan tak percaya. Para peserta sidang pun langsung berlarian untuk menolong Praljak.
Apa yang membuat Praljak bertindak sampai sebegitu jauh? Mungkinkah ada kaitannya dengan rentetan peristiwa ketika perang masih berkecamuk dulu?
"Eropa, apa kalian tidak ingat bahwa kami melindungi kalian?" teriak massa yang berkumpul di acara pidato Gazimestan oleh Slobodan Milosevic, Presiden Serbia yang menjabat waktu itu, pada 28 Juni 1989, mengutip transkrip pidato yang dipublikasikan di slobodan-milosevic.org.
Riuh teriakan dalam peringatan perang Kosovo yang waktu itu genap 600 tahun menggema ketika sang Presiden berpidato dengan berapi-api. Mereka teringat dengan pengorbanan leluhurnya yang melindungi ajaran kristiani, agama yang mereka anut, dari gempuran Turki Ottoman yang ingin meluaskan sayap islam ke Eropa.

"Biarlah kenangan akan kepahlawanan Kosovo hidup selamanya!" seru Milosevic di atas podium. Seruan itu disambut oleh riuh para hadirin.
Jurnalis asal Inggris, Marcus Tanner, yang menghadiri prosesi itu mengatakan bahwa perwakilan Slovenia dan Kroasia terlihat gugup dan tidak nyaman karena atmosfer tersebut, tulisnya dalam koran The Independent edisi 29 Juni 1989. Mereka khawatir terhadap rasa nasionalisme--dan fanatisme--warga Serbia yang semakin kuat.
Terlebih pada hari itu, hadir pula uskup Orthodox dari Dalmantia, yang juga sempat menyampaikan pidato singkat. Kehadirannya menimbulkan kecurigaan akan agenda terselubung para ekstremis nasionalis Serbia--Negara Serbia Raya.
Para elitis komunis Yugoslavia--yang makin hari kian lemah kekuasaannya--semakin gerah dengan sentimen nasionalis yang Milosevic sampaikan.
Lalu pada 9 November 1989, ketika Tembok Berlin runtuh--yang juga menandakan runtuhnya komunisme di daratan Eropa--munculah kesempatan yang para ekstremis Serbia nantikan.
Yugoslavia, federasi yang terdiri atas beberapa negara itu bergejolak dengan paham nasionalisme. Negara-negara bagian seperti Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, ingin memerdekakan diri dari cengkraman komunisme. Membentuk negara sendiri dengan paham demokrasi.
Di tengah perpecahan itu, para eksteremis Serbia tidak tinggal diam. Kalau mereka membiarkan negara itu merdeka masing-masing, maka hilanglah mimpi Serbia Raya yang mereka dambakan, yang wilayahnya mencakupi seluruh Yugoslavia yang tadinya terpecah jadi beberapa negara bagian.
Etnis Serb, yang tersebar di sebagian besar wilayah Yugoslavia, termasuk yang tinggal di Kroasia dan Bosnia-Herzegovina memproklamasikan secara sepihak "Daerah Otonom Rakyat Serbia". Mereka melakukan ini agar memudahkan peleburan semua daerah menjadi Serbia Raya ketika rencananya sudah berjalan nanti.
Yugoslavia, yang terdiri dari bermacam-macam etnis, tidak terima dengan egosentrisme etnis Serb. Beberapa yang paling menentang adalah etnis Croat dan Bosniak, yang memang ingin mendirikan negara sendiri.
Pada Maret 1991, ketegangan antara dua etnis terbesar di Yugoslavia ini pecah menjadi perang ketika etnis Serb menyerang unit kepolisian Kroasia di kota Dubrovnik dan Vukovar. Perang ini meluas ke berbagai daerah di Yugoslavia, termasuk Bosnia-Herzegovina.
Di tengah konflik bersenjata, etnis Croat dan Bosniak memutuskan untuk bekerja sama menghadapi Tentara Rakyat Yugoslavia yang dikuasai oleh etnis Serb. Dua pihak yang bersekutu ini secara sporadis melawan para ekstemis Serbia.
Meski demikian, persekutuan itu tidak berjalan mulus. Konflik antaretnis juga terjadi antara kedua belah pihak.
Perselisihan awalnya terjadi karena berebut amunisi dan senjata jarahan dari markas Tentara Rakyat Yugoslavia yang berhasil mereka taklukan. Lalu konflik merebak ke hal lain seperti distribusi ransum sampai pengaruh politik dari wilayah yang berhasil mereka rebut.
Awalnya hanya terjadi perselisihan kecil, walaupun memang sampai ada tentara Kroasia yang cedera dan ketegangan menimbulkan blokade selama beberapa hari. Namun pada akhirnya, ketegangan ini pecah menjadi konflik bersenjata ketika mayor jenderal Ante Roso dari tentara Kroasia mengumumkan kepada anak buahnya bahwa mereka tidak boleh mematuhi komando dari Pertahanan Daerah Bosnia.
Dua pihak yang berseteru secara internal ini tidak semata-mata memutuskan aliansi. Konflik memang terjadi di sebagian daerah kekuasaan mereka--secara khusus di Prozor dan Novi Travnik--tapi di tempat lain mereka tetap bersekutu melawan Serbia.
Konflik bersenjata berlanjut sampai 1994 ketika akhirnya tentara Kroasia menyerah kepada tentara Bosnia yang dibantu oleh para mujahidin dari Timur Tengah dan Afrika Utara. Walaupun sudah ada pihak yang mengalah dan konflik bersenjata berhenti, ketegangan masih terasa antara dua etnis tersebut akibat propaganda yang cukup gencar oleh media masing-masing ketika perang.
Pada 1992, media resmi dari Kroasia menuding etnis Bosniak bekerja sama dengan Yugoslav, yang terdiri dari pihak Serbia. Tudingan ini lalu menyempit kepada mempropagandakan etnis Bosniak yang ingin membuat negara Islam di Eropa.
Hubungan antara mereka pun semakin renggang. Hingga ketika pada 1995, pasukan bersenjata Serbia di bawah pimpinan Ratko Mladic melakukan pembantaian terhadap lebih dari 8000 muslim Bosniak, yang kemudian terkenal dengan nama Pembantaian Srebrenica.
Tentara Kroasia, yang waktu itu berada di bawah komando jenderal Slobodan Praljak, melakukan pembiaran terhadap kejadian itu. Menurut hasil keputusan sidang PBB, pihak Kroasia dinyatakan telah mengetahui bahwa pembantaian itu akan terjadi, namun tidak melakukan usaha apapun untuk mencegahnya.

Praljak, yang kemudian menyerahkan diri pada 2004 lalu kepada pengadilan internasional, dinyatakan bersalah dan divonis 20 tahun penjara. Namun nahas, ketika pembacaan putusan pada 29 November 2017 di Den Haag, Belanda, dia menenggak racun potasium sianida dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
