Small Tornado Terjang Bandung - Sumedang, Apa Penyebabnya?
ยทwaktu baca 3 menit

Bencana puting beliung menerjang wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang pada Rabu (21/2). Sementara itu Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Dr. Erma Yulihastin menyebut fenomena itu termasuk tornado.
Ahli petir sekaligus dosen Meteorologi di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Deni Septiadi, turut menyampaikan analisisnya terkait fenomena alam langka tersebut.
Alumnus ITB ini menjelaskan, dalam seminggu ini dinamika atmosfer di sekitar Benua Maritim Indonesia (BMI) sangat aktif. Indeks stabilitas atmosfer CAPE di sekitar Jawa berada di atas 1000 J/kg dengan bentangan awan badai (thunderstorm, bahkan memanjang setara skala meso (meso convective system, MCS).
Kata dia, indikasi aktif konvektif kuat di atas Jawa ditunjukkan dengan adanya Depresi Tropis "Lincoln" eks Siklon yang berada di Selatan Jawa, tepatnya di Barat Laut Australia. Aliran fluida sistem ini di sekitar laut jawa bagian selatan bahkan mencapai kecepatan 25-30 km/jam.
"Aliran ini mengalami amplifikasi oleh angin laut (sea breeze) hingga 80-100 km ke darat. Lebih rinci, mekanisme Sea Breeze Front (SBF) dengan panjang muka dan intrusinya ke daratan mencapai 20-30 km juga menjadi triger wind shear di selatan jawa bagian barat," kata Deni Septiadi dalam keterangannya, Kamis (22/2).
Deni menambahkan, aliran ini kemudian dimodulasi oleh topografi atau kekasaran permukaan menjadi "wind shear" kuat dan bersinergi dengan thunderstorm. Ia menghasilkan touch down rotation flow ke permukaan yang disebut sebagai puting beliung (small scale tornado).
Mengapa Small Scale Tornado?
Deni menguraikan, secara fisis tidak ada bedanya tornado dan puting beliung. Sebagai miniatur tornado, kecepatan rotasi angin, durasi, dan panjang lintasan terdampak dari puting beliung memang tidak sebesar tornado.
"Kekuatan rotasi puting beliung secara fisis dibatasi oleh vortisitas relatif dengan gaya semu "Coriolis" akibat rotasi bumi barat-timur. Oleh karena itu, kekuatan rotasi yang menjadi ciri perusak "small tornado" di BMI ini berada pada skala 0 Skala Fujita (<100 km/jam)," beber Deni.
"Namun demikian, aliran persisten rotasi pada puting beliung ini bahkan mampu merobohkan objek besar di sekitar lintasannya tentu saja menjadi ancaman bahaya meteorologi."
Kata Deni, apa yang terjadi kemarin juga mengingatkan kita akan kejadian puting beliung di Rancaekek, Bandung 11 Januari 2019 silam. Lebih dari 600 rumah mengalami kerusakan, 82 KK mengungsi dan ditetapkan 7 hari sebagai masa tanggap darurat.
Durasi putaran angin yang berkisar antara 5-10 menit tentu menjadi tantangan bagi para ahli meteorologi untuk menganalisisnya secara lebih mendalam hingga dapat memberikan warning bagi masyarakat.
Sebab, Jawa Barat dan sekitarnya, terutama Bandung yang tak ubahnya bagai "mangkuk" dengan topografi dan kekasaran permukaan beragam akibat pengaruh orografi, menjadi sumber ideal mekanisme pembentukan wind shear.
"Sebagaimana aliran angin yang melewati pegunungan akan berosilasi sinusoidal menghasilkan gelombang gunung (mountain wave) dan berimbas pada wind shear," katanya.
Fase Terkuat Monsun Asia
Desember-Januari-Februari (DJF) merupakan fase terkuat aliran Monsun Asia yang membawa banyak uap air ke atas BMI.
"Alih radiatif konvektif yang diinisiasi dari pemanasan permukaan dan peningkatan panas laten di lautan menjadikan wilayah BMI sangat aktif dengan potensi bencana hidrometeorologinya. Ayo wasapada!" tutupnya.
Data Kerusakan
Sementara itu data terkini BPBD Jabar menunjukkan terdapat lima kecamatan yang terdampak bencana di dua wilayah tersebut yakni Kecamatan Jatinangor, Kecamatan Cimanggung, Kecamatan Cileunyi, Kecamatan Rancaekek, dan Kecamatan Cicalengka.
Di Kabupaten Sumedang, terdapat 13 unit pabrik dan 10 rumah warga yang rusak. Sementara di Kabupaten Bandung, terdapat 4 pabrik dan 87 rumah warga yang rusak. Rumah warga yang rusak berada dalam kategori rusak ringan, rusak sedang, hingga rusak berat.
Selain itu, ada 12 orang yang mengalami luka di Kabupaten Sumedang dan 19 orang yang terluka di Kabupaten Bandung akibat bencana itu. Warga yang terluka dilarikan ke RSUD Cicalengka dan RS Kesejahteraan Keluarga (RSKK).
