Smart Aviation Terima Video Penyanderaan sebelum Dua Pilot Dinyatakan Tewas

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pongky Majaya, Direktur Utama PT Smart Cakrawala Aviation, saat memberikan keterangan atas peristiwa penembakan Pesawat Smart Air oleh KKB di Papua, saat ditemui di Kantor Smart Aviation, Jakarta Utara, Jumat (13/2). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Pongky Majaya, Direktur Utama PT Smart Cakrawala Aviation, saat memberikan keterangan atas peristiwa penembakan Pesawat Smart Air oleh KKB di Papua, saat ditemui di Kantor Smart Aviation, Jakarta Utara, Jumat (13/2). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Pesawat PK-SNR rute Tanah Merah-Danowage/Koroway Batu milik PT Smart Aviation ditembaki oleh KKB di Bandara Koroway, Papua Selatan, Rabu (11/2) lalu.

Akibat insiden tersebut, dua orang yang diketahui sebagai Pilot Dan Kopilot pesawat meninggal dunia dalam kejadian.

Direktur Utama PT Smart Cakrawala Aviation, Pongky Majaya, membeberkan kejadian saat perusahaan menerima laporan penembakan tersebut.

Evakuasi jenazah pilot dan kopilot pesawat Smart Aviation. Foto: Dok. Satgas Damai Cartenz

Ia menjelaskan, penumpang dan kru sempat bersembunyi ke dalam hutan sesaat setelah adanya penembakan pada pesawat.

“Pas sesaat setelah pesawat mendarat dan pilot membantu penumpang untuk turun dari pesawat, tiba-tiba terdengar sejumlah tembakan dan seluruh penumpang dan kru berlari menyelamatkan diri ke arah hutan,” ujar Pongky saat ditemui di Kantor Smart Aviation, Jakarta Utara, Jumat (13/2).

Kemudian Pongky menjelaskan, pada saat itu dari ruang kontrol, maskapai menerima sinyal darurat.

“Pada saat itu, kami dari ruang kontrol mendapatkan kiriman sinyal SOS yang mana setelah itu tindakan pertama yang bisa kami lakukan adalah segera menghubungi seluruh pihak terkait sambil menunggu perkembangan berikutnya,” ucapnya.

Evakuasi jenazah pilot dan kopilot pesawat Smart Aviation. Foto: Dok. Satgas Damai Cartenz

Tak berangsur lama, perusahaan kemudian menerima pesan dari kopilot.

“Selang beberapa menit kemudian, kami mendapatkan text message dari kopilot, pada saat itu bertugas sebagai kopilot, Kapten Baskoro, menyatakan bahwa beliau dan Kapten Enggon berlindung di hutan dan bersembunyi di sarang. Kami juga berhasil melacak koordinat yang bersangkutan,” jelas Pongky.

Maskapai kemudian membentuk pusat krisis untuk memantau pergerakan koordinat kedua pilot. Sekitar 40 menit, koordinat terpantau tidak banyak bergerak.

“Kurang lebih 40 menit kami memantau koordinat tersebut, tidak ada terlalu banyak pergerakan yang mana kami asumsikan seharusnya di posisi yang masih aman,” tutur Pongky.

Namun, titik koordinat kemudian bergerak kembali ke arah pesawat.

“Selang berapa lama setelah itu, kami mendapatkan koordinat bergerak menuju ke arah pesawat yang mana pada saat itu kami ber-positive thinking, berprasangka baik mungkin karena kondisi sudah aman maka pilot mendekati pesawat,” ujarnya.

Karangan bunga duka cita di depan gedung kantor Smart Aviation, Jakarta Utara, Jumat (13/2/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Tak lama setelah itu, perusahaan menerima informasi bahwa kru dan pesawat mereka disandera.

“Namun selang beberapa saat kemudian, kami mendapatkan informasi lisan yang mengatakan bahwa kru dan pesawat disandera oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Pongky.

Tak lama dari informasi tersebut, perusahaan mendapatkan konfirmasi berupa video penyanderaan, hingga akhirnya terkonfirmasi kedua kru menjadi korban tewas dalam kejadian tersebut.

Jenazah kopilot pesawat Smart Air yang meninggal ditembak KKB, Baskoro Adi Anggoro, tiba di rumah duka di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Kamis (12/2). Foto: Jonathan Devin/kumparan

“Selang berapa menit kemudian kami mendapatkan konfirmasi berupa video rekaman yang diduga juga direkam oleh pelaku, ada dua sosok manusia yang tergeletak di sekitar runway...yang satunya tergeletak di rumputan. Dan itu dengan ciri-ciri seperti kru kami,” ujarnya.

“Kemudian kami juga dalam waktu singkat kami mendapatkan informasi yang lebih akurat dari aparat bahwa kedua kru kami sudah dieksekusi,” lanjutnya.

Sejak saat itu, alat pelacak tidak lagi dapat dipantau.

Jenazah Pilot Smart Air Capt. Enggon Erawan tiba di rumah duka, Kamis (12/2/2026) Foto: Dok. kumparan

“Dan sejak itulah semua komunikasi titik koordinat sudah tidak bergerak dan kami sudah tidak dapat melakukan eh pemantauan lagi. Diduga alat pelacak itu sudah di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata dia.

Kedua jenazah pilot dan kopilot, Kapten Enggon Erawan dan Baskoro Adi Anggoro, telah diserahkan kepada pihak keluarga. Jenazah Kapten Enggon dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada Kamis (12/2) malam.