SMRC: Suara Pendukung Jokowi Pecah di 2024, Paling Banyak ke Ganjar

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Presiden Joko Widodo saat melakukan rapat bersama. Foto: Pemprov Jawa Tengah
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Presiden Joko Widodo saat melakukan rapat bersama. Foto: Pemprov Jawa Tengah

Elektabilitas Presiden Jokowi masih tinggi di bursa capres 2024. Dalam survei Litbang Kompas, Jokowi masih di peringkat teratas dengan 24 persen.

Namun, Jokowi terbentur UUD 1945 tak dapat maju lagi karena sudah dua periode. Lalu ke mana suara pendukung Jokowi di Pilpres 2024?

Direktur Eksekutif SMRC Sirojuddin Abbas, berpandangan suara Jokowi akan terpecah ke sejumlah kandidat lain di 2024, tidak terpusat pada satu nama.

"Tidak mengelompok pada satu orang, pemilih Pak Jokowi nyebar ke Pak Ganjar, Pak Prabowo, Pak Ridwan Kamil, Pak Anies, Pak Sandi ada di situ ke Bu Risma juga ada. Jadi nyebar ke mana-mana tuh," kata Sirojuddin, Rabu (5/5).

kumparan post embed

Meski begitu, ia menjelaskan dalam survei SMRC pada bulan Maret lalu, suara pendukung Jokowi akan lebih banyak berpindah ke Ganjar Pranowo.

"Hanya proporsinya yang beda-beda dan kita menemukan di survei akhir Februari awal Maret, itu suara pendukung Pak Jokowi itu paling banyak berpindah ke Pak Ganjar ketimbang ke Pak Prabowo, Pak Ridwan Kamil, Pak Anies," jelas dia.

Pendukung Jokowi-Ma'ruf di acara pidato kemenangan di Sentul International Convention Center (SICC), Minggu (14/7). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Perpindahan suara pendukung Jokowi ke sejumlah tokoh pun memiliki sejumlah alasan. Dia menyebut pemilih Jokowi akan mencari tokoh yang memiliki karakter serupa dengan eks Gubernur DKI itu.

Dia mencontohkan, pemilih yang mencari karakter merakyat kemungkinan mereka akan beralih ke Ganjar dan Tri Rismaharini (Risma). Kemudian, jika pemilih melihat keislaman Jokowi, maka cenderung akan memilih Anies Baswedan. Begitu juga dengan aspek lain yang mungkin ditemukan pada Prabowo Subianto dan Ridwan Kamil.

"Jadi terbuka, irisannya itu titik temu yang memungkinkan pemilih Pak Jokowi bergeser ke tokoh-tokoh lain," ujarnya.

Selain itu, Sirojuddin menjelaskan, masyarakat akan dipaksa oleh keadaan karena kehadiran calon yang terbatas sehingga mereka harus memilih. Lalu, tingkat pengenalan masyarakat terhadap satu tokoh juga menjadi alasan memilih.

"Semakin berimbang awarenessnya itu semakin mungkin terbuka karena masyarakat bisa mungkin membandingkan secara lebih berimbang antar satu tokoh dengan tokoh lain. Dengan demikian maka mereka bisa lebih terbuka menentukan dukungan ke siapa dari sebelumnya ke Pak Jokowi ke yang lain," tandas dia.