Solidaritas Anak STM: Demo Rusuh hingga Empati ke Mahasiswa

Belum habis mahasiwa bergerak, pasukan perlawanan malah bertambah. Siapa sangka, massa pelajar STM atau kini SMK malah ikut-ikutan menentang DPR.
Bagi anak STM, urusan paham tidaknya isu urusan belakangan. Yang penting maju dulu, yang penting tempur dulu.
Hari itu, Rabu (25/9), anak STM yang kerap tawuran jika bertemu lawan sekolahnya menyatu dan berangkulan. Mereka mengklaim memiliki tujuan yang sama: mencari keadilan.
"Bisa lo bayangin, Bang (ke arah wartawan), STM 'kan musuh berat sama STM lainnya lagi. Bisa bersatu, gitu. Gimana, kan? Hebat banget. Gua aja salut, hebat banget. Pada nyanyi 'Indonesia Raya', 'Tanah Airku," kata seorang siswa usai mengantarkan temannya yang luka di bagian kepala ke RS Pelni, Jakarta.
Harus diakui, banyak dari mereka yang tak tahu soal tuntutan mahasiswa saat unjuk rasa di DPR pada Selasa (24/9) lalu. Sebagian bilang ikut meramaikan, sebagian bilang menolak RUU --meski tak tahu apa itu RUU, dan ada juga yang bilang 'ingin membalas tindakan aparat'.
Tuntutan mereka tak fokus dan melenceng, bahkan salah persepsi soal RUU KPK, RUU KUHP, hingga RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Meski mispersepsi, mereka mengaku hanya ingin menunjukkan rasa empati ke mahasiswa.
“Kita mau lanjutin perjuangan kakak-kakak,” ujar salah satu siswa saat aksi.
“Saya cuma ikut-ikutan teman-teman. Enggak tahu tujuannya, katanya karena kemarin demo, jadi sekarang (giliran) kita. Tadi kumpul sejak jam 11.00, membolos sekolah, dari Tangerang, Bang,” timpal siswa lainnya saat dikumpulkan polisi untuk diamankan.
Sebelum beraksi, anak-anak STM se-Jabodetabek itu saling berbalas pesan berantai yang disebarkan melalui status dan pesan-pesan di aplikasi WhatsApp. Dari situ, satu STM dengan STM lainnya berkomunikasi dan mengajak meski bermusuhan.
"Kita musuh, tapi kita satu tujuan. Kita saling gabung aja. Dari situ kita gabung bikin status itu, teman-teman gua buat status jadi ngumpul. Jadi enggak takut sama sekolah lainnya lagi. Jadi teman," ungkapnya.
Siang hari, mereka mulai bergerak ke DPR. Mereka sebelumnya berkumpul dan memblokade Jalan Gatot Subroto, seraya mencoret-coret dinding kolong flyover Gatot Subroto dengan kata-kata bernada umpatan ke DPR.
Di lain lokasi, siswa memasuki Tol Dalam Kota. Massa long march ke DPR sembari membawa Bendera Merah Putih. Akibat kejadian ini, Tol Dalam Kota arah Slipi ditutup.
Setibanya di Gedung DPR, mereka langsung bernyanyi 'Indonesia Raya', 'Bagimu Negeri', dan berteriak-teriak menyuarakan aksinya. Namun demo tak berlangsung lama, 200 anak diamankan demi menghalau kericuhan.
Tak lama berselang, kelompok anak STM dengan jumlah yang lebih banyak terus mendatangi DPR. Di lokasi berbeda, para siswa mulai merusuh di daerah Stasiun Palmerah. Mereka tampak membakar traffic cone dan kardus serta melempari polisi dengan batu.
Kerusuhan pecah. Gesekan dengan aparat kembali terjadi. Anak-anak STM menyerang aparat yang berlindung di balik tameng dengan kerikil. Polisi lalu membalas dengan menembakkan gas air mata berkali-kali.
Pukul 17.10 WIB, kerusuhan menyebar ke banyak titik. Massa tampak membakar Pos Polisi Pejompongan. Massa aksi yang mayoritas mengenakan atribut sekolah tersebut juga membakar sejumlah fasilitas lain. Polisi pun menembakkan gas air mata ke arah massa untuk memecah kerumunan.
Belum selesai, massa bergerak ke arah flyover Slipi dan memenuhi Tol Dalam Kota. Akibatnya, Tol Dalam Kota di kawasan Slipi di kedua arahnya lumpuh. Dan akibat kerusuhan ini pula, seluruh perjalanan KRL dari dan menuju Tanah Abang sempat dihentikan lantaran perlintasan rel berhasil dikuasai anak STM.
Memasuki malam, kerusuhan belum selesai. Fasilitas umum dirusak, motor wartawan ikut dibakar, bunyi petasan bersahutan, tembakan gas air mata dan water canon terus dihujamkan. Namun anak-anak STM terus merusuh.
Hampir larut, massa berbalut seragam sudah berbaur dengan tak berseragam. Massa tak berseragam memenuhi jalan dan terus melempari aparat dengan batu. Gas air mata kembali ditembakkan di Slipi, Palmerah dan Pejompongan.
Hingga pukul 23.30 WIB, massa berhasil dipukul mundur. Slipi dan Palmerah berangsur kondusif, lalu lintas kembali dibuka. Puluhan orang tak berseragam sekolah diamankan dan diangkut dengan mobil tahanan ke Polda Metro Jaya.
“Penanganan gas air mata itu adalah penanganan pada saat tindakan sudah anarkistis. Tadi rekan-rekan wartawan sudah melihat sendiri, mereka melempar batu di dalam gedung DPR,” ungkap Kapolres Jakpus Harry Kurniawan.
Pukul 23.59 WIB, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyambangi lokasi kericuhan di perempatan Slipi.
Mereka berada di lokasi hanya sekitar 10 menit. Setelah berbincang dengan Kapolres, Tito dan Hadi pun langsung meninggalkan lokasi.
Meski sempat reda, Kamis (26/9) pukul 00.15 WIB, kericuhan kembali terjadi dan terkonsentrasi di jalan yang mengarah ke Pejompongan. Namun, situasi sudah terkendali.
Bentuk Amarah dan Protes ke Negara
Aksi kerusuhan para siswa STM ini dinilai sebagai bentuk kepekaan bahwa negara memang sedang tidak baik-baik saja. Alghifani, perwakilan dari LBH Jakarta, menganggap kericuhan itu sebagai bentuk pemberontakan dan amarah masyarakat atas aturan yang tak melibatkan masyarakat.
“Saya pikir semua berontak, semua marah, terkait dengan kebijakan negara yang muncul tiba-tiba dan tidak menghiraukan aspirasi masyarakat. Dan mengancam demokrasi kita, mengancam kebebasan sipil kita,” kata Alghifani dalam konferensi pers di LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (25/9).
Ia menyadari, kacaunya RUU, seperti RUU KUHP dan Revisi UU KPK sudah dirasakan di kalangan pendidikan multilevel. Artinya, tidak hanya kalangan mahasiswa saja yang terganggu dengan adanya RUU yang kontroversial ini.
“Artinya persoalan yang kita hadapi hari ini persoalan serius, semua bersuara di semua tingkatan umum, semua isu, petani, nelayan, mahasiswa, buruh, saatnya pemerintah dengar aspirasi rakyat,” ucap Alghifani.
Meski begitu, hingga kini, aksi rusuh para pelajar STM tersebut memicu pro dan kontra, khususnya di media sosial. Banyak yang menilai aksi ini patut diapresiasi, banyak pula yang menganggap kerusuhan pelajar dan vandalisme tak perlu terjadi.

