Solusi Atasi Kekeringan: dari Sumur Resapan sampai Lumbung Air

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Pemerintah sampai saat ini masih terus memutar otak mencari solusi mengatasi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Salah satunya adalah memperbanyak pembangunan embung di daerah rawan kekeringan.

Embung atau cekungan penampung (retention basin) digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau).

Direktur Yayasan Obor Tani, Pratomo, mengatakan embung merupakan salah satu cara dan alternatif untuk mengatasi kekeringan dengan memanen air hujan secara langsung.

“Curah hujan di pulau Jawa 2.700 sampai 4.500 milimeter per tahun, artinya kalau ada daerah yang curah hujannya 4.000 dan jika itu tertampung maka daerah itu akan tergenang setinggi 4.000 milimeter atau sekitar 4 meter, kalau memanen air hujan saja, itu sudah bisa digunakan untuk pertanian,” kata Pratomo kepada kumparan (kumparan.com), Minggu (12/11).

Embung Sarimulyo Kab. Pati Prov. Jawa Tengah (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Selain itu Pratomo juga menilai perlu ada kerja sama antara swasta, masyarakat dan pemerintah untuk sama-sama mengatasi kekeringan. Menurutnya pemerintah bisa memberikan bantuan di bidang infrastruktur, pupuk, dan pelatihan kepada petani agar bisa memanfaatkan sumber daya alam secara cerdas.

“Iya semua pihak, dari unsur swasta, pemerintah, BUMN, dan masyarakat. Kalau pemerintah dalam bentuk infrastruktur, pemberdayaan petani, petani yang dipintarkan, pupuk juga penting,” tutur Pramono.

Senada dengan Pramono, Climate Change Governance Advisor United States Agency for International Development (USAID) Adaptasi Perubahan Iklim & Ketahanan (APIK) Ari Mochamad mengatakan, pemerintah ataupun swasta, perlu bersama-sama mencari solusi atas masalah kekeringan.

“Semuanya harus sinergi melibatkan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Swasta bisa memanfaatkan inovasi teknologi yang ramah lingkungan, masyarakat bisa hal terkecil membuat lubang biopori sampai penampungan air, sedangkan yang lebih besar seperti embung itu harus ada peran pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu dalam empat tahun terakhir, Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) sebagai salah satu produsen minuman di Indonesia bersama dengan United States Agency for International Development (USAID) melalui program IUWASH (Indonesia Urban Water, Sanitation and Hygiene) menjalankan program pembuatan sumur resapan.

Program ini dijalankan sebagai upaya untuk menyelamatkan beberapa mata air penting di Indonesia.

Lewat program Lumbung Air, CCFI telah membangun setidaknya 3.250 sumur resapan di berbagai daerah tangkapan air di Indonesia, termasuk di Kabupaten Semarang, Kabupaten Salatiga, Kabupaten Malang, Mojokerto, Sibolangit dan Pematang Siantar.

Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia Titie Sadarini menjelaskan, konservasi air telah menjadi ‘jiwa’ Coca-Cola Company di seluruh dunia. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang penjualan minuman kemasan, Coca-Cola setidaknya telah mengembalikan 1 miliar liter air melalui program pembuatan sumur resapan.

“Konservasi air telah menjadi bagian penting dari Sustainability Platform Coca-Cola di seluruh dunia. Dalam 10 tahun terakhir Coca-Cola telah terlibat di lebih dari 320 community water partnership di lebih dari 85 negara. Di Indonesia, program air oleh CCFI meliputi 12 program dari Sumatera Utara hingga NTT," bebernya.

"Setidaknya 1 miliar liter air telah dikembalikan ke alam melalui program-program ini. Hal ini seiring dengan komitmen Coca-Cola untuk menjadi ‘water neutral’, sebagai perusahaan kami mengembalikan jumlah air yang setara dengan yang terpakai dalam produksi produk-produk kami kembali ke alam dan masyarakat," imbuh dia.

com-Peresmian Sumur Resapan (Foto: Coca-Cola Indonesia)

‘Nabung Air’ Lewat Sumur Resapan

Sumur resapan merupakan inisiatif sederhana dengan manfaat yang besar. Terkait dengan penyelamatan air tanah. Climate Change Advisor IWASH Agus Hernadi, menjelaskan sumur resapan mampu menangkap air hujan sehingga bisa diserap ke dalam tanah sehingga debit air meningkat.

“Selain memiliki fungsi pengendalian air di musim hujan, sumur resapan juga memperbaiki debit air tanah. Sumur-sumur resapan yang dibangun di kawasan daerah resapan air (water catchment) akan menangkap aliran air hujan untuk kemudian diserap ke dalam aliran air tanah, sehingga debit air di mata air meningkat. Hal ini juga membantu meningkatkan cadangan air baku yang bisa dipakai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih.” Jelas Agus.

Sejak 2011 lalu, CCFI bersama para mitranya telah mengimplementasikan program sumur resapan ini sebagai upaya mengkonservasi beberapa mata air, di antaranya mata air Ubalan, mata air Sumber Jodo, mata air Polaman, dan Mlaten (Kab. Malang), Mata Air Senjoyo dan Ngablak (Salatiga & Kab. Semarang).

Pembangunan sumur-sumur resapan ini adalah penerapan dari hasil kajian kerentanan dan adaptasi perubahan iklim untuk menjaga ketersediaan air baku bagi penyediaan air bersih dengan menggunakan pendekatan yang bersifat partisipatif, mengutamakan kepentingan masyarakat setempat, menggunakan materi dan tenaga kerja lokal, dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.

“Setidaknya sumur resapan memberikan 4 (empat) manfaat langsung, bagi lingkungan dan masyarakat, yaitu: menjaga kelembaban tanah di area sekitar sumur resapan yang dibangun, memperkaya debit mata air di wilayah hilir, mengurangi banjir di wilayah pemukiman hulu, serta mengurangi isu sosial dari ketegangan antar tetangga akibat dari mengalirnya air hujan ke halaman tetangga di bawahnya," tutup Agus.