Somalia Terancam Dihantam Bencana Kelaparan Terburuk

20 Oktober 2022 10:29 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang pengungsi minum air dari keran di kamp pengungsian Kaxareey di Dollow, Gedo, Somalia, Selasa (24/5/2022).Seorang pengungsi minum air dari keran di kamp pengungsian Kaxareey di Dollow, Gedo, Somalia, Selasa (24/5/2022). Foto: Feisal Omar/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pengungsi minum air dari keran di kamp pengungsian Kaxareey di Dollow, Gedo, Somalia, Selasa (24/5/2022).Seorang pengungsi minum air dari keran di kamp pengungsian Kaxareey di Dollow, Gedo, Somalia, Selasa (24/5/2022). Foto: Feisal Omar/REUTERS
ADVERTISEMENT
Somalia menghadapi tingkat kelaparan terburuk sejak lebih dari setengah abad yang lalu. Situasi ini memburuk seiring dengan terjadinya kekeringan dan meningkatnya angka kematian anak akibat kelaparan.
ADVERTISEMENT
Laporan itu disampaikan oleh juru bicara Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), James Elder, dalam sebuah tautan video saat sedang berada di Afrika, pada Selasa (19/10).
“Segalanya buruk dan setiap tanda menunjukkan bahwa mereka [anak-anak Somalia] akan menjadi lebih buruk,” ujar Elder, seperti dikutip dari AFP.
“Tanpa tindakan dan investasi yang lebih besar, kita menghadapi kematian anak-anak dalam skala yang belum pernah terlihat dalam setengah abad,” jelas dia.
Pada Agustus lalu, lanjut Elder, tercatat sejumlah 44.000 anak dirawat di fasilitas kesehatan akibat malnutrisi (kekurangan gizi) akut yang parah.
Potret sebuah keluarga di kamp pengungsian Kaxareey di Dollow, Gedo, Somalia, Selasa (24/5/2022). Foto: Feisal Omar/REUTERS
Artinya, kondisi ini menunjukkan bahwa seorang anak 11 kali rentan meninggal dunia akibat diare dan campak, dibandingkan mereka yang memiliki gizi cukup.
ADVERTISEMENT
“Itu adalah seorang anak per menit,” kata Elder.
“Seorang anak yang ibunya harus berjalan berhari-hari untuk mendapatkan bantuan. Seorang anak yang tubuhnya berjuang untuk bertahan hidup. Seorang anak yang hidupnya tergantung pada keseimbangan,” terang dia.
Sejak akhir tahun 2020, Somalia sudah tidak mengalami musim hujan selama berturut-turut dan akibatnya, dilanda kekeringan parah. Perubahan iklim juga memunculkan kekhawatiran bahwa untuk kelima kali secara berturut musim hujan tidak akan datang.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), diperkirakan setengah dari populasi Somalia, yakni 7,8 juta orang sekarang terkena dampak kekeringan, dan 213.000 di antaranya berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi.
Warga Somalia menuju sumur untuk mengambil air. Foto: Reuters
“Ketika orang berbicara tentang krisis yang dihadapi Somalia saat ini, sudah menjadi hal yang umum untuk perbandingan yang menakutkan dibuat dengan kelaparan tahun 2011, ketika 260.000 orang meninggal,” ungkap Elder.
ADVERTISEMENT
Elder menjelaskan, berdasarkan informasi yang ia himpun dari lapangan — mulai dari ahli gizi dan peternak, situasi di Somalia hari ini sebenarnya terlihat lebih buruk.
Melihat pada situasi serupa pada 2011 silam, ketika musim hujan tak kunjung tiba sebanyak tiga kali, populasi yang terkena dampak kala itu adalah setengah dari angka yang sekarang.
“Hari ini, sudah empat kali hujan gagal, perkiraan untuk hujan kelima terlihat cukup suram, dan populasi yang terkena dampak dua kali lipat dari tahun 2011,” terang Elder.
Terkait situasi genting ini, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) yang bermarkas di Jenewa menyatakan, perkiraan kebutuhan untuk memerangi kelaparan di Somalia telah melonjak sejak awal tahun.
Warga Somalia kemping di bawah pohon. Foto: Reuters//Feisal Omar
Semula yakni USD 1,46 miliar (Rp 23 triliun) dan kini menjadi USD 2,26 miliar (Rp 36 triliun) — 80 persen dari anggaran ini diperlukan untuk memberantas dampak kekeringan itu sendiri.
ADVERTISEMENT
“Kelaparan diproyeksikan terjadi di distrik Baidoa dan Burhakaba di Bay Region antara bulan ini dan Desember jika bantuan kemanusiaan tidak menjangkau orang-orang yang paling membutuhkan,” kata juru bicara OCHA, Jens Laerke.
Laerke menambahkan, rencana anggaran yang direvisi akan menjangkau 7,6 juta orang, dibandingkan dengan target sebelumnya 5,5 juta.
“Sebelum revisi, kontribusi menyumbang 72 persen dari kebutuhan keuangan, angka pendanaan yang relatif tinggi untuk krisis kemanusiaan. Tetapi perkiraan baru berarti bahwa kebutuhan hanya 45 persen terpenuhi,” tutup Laerke.