Sopir di Bali yang Dibakar Bosnya Meninggal, Dokter: Paru-parunya Luka Parah

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keluarga IGS (20), sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya di Karangasem, berada di Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Keluarga IGS (20), sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya di Karangasem, berada di Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan

Sopir yang dibakar oleh bosnya, IGS (20), meninggal dunia saat menjalani perawatan intensif di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9) pagi. IGS dinyatakan meninggal pada pukul 07.51 WITA.

Kepala ICU Burns Unit RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, I Putu Kurniyanta, mengatakan kondisi IGS memburuk sejak sekitar pukul 07.00 WITA. Tim dokter sempat melakukan resusitasi jantung, tetapi tidak mendapat respons.

"Pagi tadi jam 07.00 WITA itu terjadi perburukan, kemudian kami telah lakukan pijat jantung juga. Namun, akhirnya kami menyatakan tidak ada respons dan meninggal. Tadi komunikasi kepada keluarga sekitar jam 07.51 WITA, kita nyatakan meninggal," kata Kurniyanta kepada wartawan di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9).

Kondisi TKP kasus pembakaran sopir oleh bosnya di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem, Rabu (23/9/2026). Foto: Sandra Gisela/kumparan

IGS sebelumnya dirawat di rumah sakit tersebut sejak Jumat (18/9). Selama tujuh hari menjalani perawatan, kondisi IGS terus dipantau oleh tim dokter.

Kurniyanta mengatakan salah satu kondisi yang memperburuk keadaan IGS adalah luka parah pada paru-paru akibat trauma inhalasi. Selain itu, IGS mengalami luka bakar lebih dari 50 persen pada tubuhnya.

"Meskipun kami sudah melakukan upaya maksimal, prognosisnya sedikit sulit karena luka bakarnya lebih dari 50 persen," jelasnya.

Paru-paru IGS Luka Parah akibat Trauma Inhalasi

Kurniyanta menjelaskan IGS tiba di RSUP Prof. Ngoerah pada Jumat (18/9) sekitar pukul 19.00 WITA. Saat tiba, tim dokter langsung melakukan sejumlah tindakan, mulai dari resusitasi awal, pembersihan luka, hingga pengamanan jalan napas.

Dokter juga mencurigai IGS mengalami trauma inhalasi akibat menghirup uap panas saat kebakaran. Kondisi tersebut dapat menyebabkan cedera pada saluran pernapasan dan paru-paru.

Untuk mengamankan jalan napas, dokter melakukan intubasi dan memasang alat bantu napas yang disambungkan dengan ventilator.

"Kami takutkan karena biasanya hari ketiga sudah terjadi. Kami sudah melakukan tindakan awal untuk mengamankan jalan napasnya dengan memberikan alat bantu napas dan disambungkan dengan mesin ventilator. Kami sengaja untuk menidurkan agar oksigenasi dari mesin lebih maksimal," ucap Kurniyanta.

Luka bakar yang dialami IGS meliputi wajah, leher, dada, punggung, tangan, hingga kedua kaki.

Pada hari ketiga, dokter melanjutkan perawatan luka serta memberikan cairan dan antibiotik. Namun, pada hari keempat hingga keenam, kondisi IGS mengalami fluktuasi.

"Itu cenderung terjadi pada hari keempat hingga keenam. Terjadi guncangan hemodinamiknya karena memang uap panas yang masuk ke dalam saluran napas dan paru-parunya ini cukup melukai organ di dalamnya, sehingga banyak terjadi kerusakan di jalan napas dan paru-parunya," jelas Kurniyanta.

Memasuki hari ketujuh, kondisi IGS semakin tidak stabil. Kerusakan pada paru-parunya membuat proses pertukaran oksigen terganggu.

"Sudah kami maksimalkan dengan mesin-mesin alat bantu napasnya, kemudian juga pemberian cairan. Mencegah infeksinya juga karena proteksi kulit yang terbuka 68 persen berisiko, sudah kami berikan juga antibiotika dan perawatan luka terus kami lakukan sambil menunggu respons dari tubuh pasien," ujarnya.

Tim dokter juga sempat memberikan obat untuk menguatkan jantung IGS pada hari keenam. Namun, kondisi paru-paru dan jantungnya tetap mengalami gangguan sehingga tubuhnya tidak memberikan respons yang diharapkan.

Pada akhirnya, IGS dinyatakan meninggal pada Jumat (25/9) pukul 07.51 WITA.

"Meskipun kami sudah berupaya maksimal dengan pemberian obat pacu jantung, tampaknya belum ada respons pada tubuh pasien ini," tambahnya.

IGS Belum Sempat Sadar

Kurniyanta mengatakan IGS belum sempat sadar selama menjalani perawatan di RSUP Prof. Ngoerah. Sejak awal, dokter sengaja memberikan obat tidur untuk membantu memaksimalkan penggunaan ventilator.

"Belum sempat sadarkan diri. Kalau kita sadar, ada rasa tidak enak, sehingga biasanya kami tidurkan, memberikan obat tidur untuk memaksimalkan oksigenasi dari mesin ke pasien," kata Kurniyanta.

Dokter juga belum sempat melakukan operasi terhadap IGS. Tim medis lebih fokus melakukan perawatan luka dan memantau jaringan tubuh yang masih sehat untuk kemungkinan penanganan selanjutnya.

Namun, kondisi IGS yang memburuk membuat rencana perawatan luka lanjutan belum sempat dilakukan.

"Rencananya hari ini kami lakukan rawat luka yang lebih luas lagi, tetapi kondisi sudah memburuk jadi belum sempat kami lakukan untuk perawatan luka yang kedua," ujarnya.

Jenazah IGS Masih di Rumah Sakit

Kurniyanta mengatakan pihak keluarga telah menerima penjelasan mengenai kondisi IGS pada Jumat (25/9) pagi.

Jenazah IGS saat ini masih berada di Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar untuk proses administrasi kepulangan.

Pihak rumah sakit menyebut biaya perawatan IGS mencapai Rp 98 juta per Jumat (25/9).

"Dari rumah sakit tetap kami berikan secara maksimal," ucap Kurniyanta.