Sopir yang Dibakar Bosnya di Bali Meninggal, Keluarga Terpukul

Meninggalnya IGS (20), sopir yang dibakar hidup-hidup oleh bosnya di Bali, menyisakan kesedihan yang mendalam di hati keluarganya. IGS meninggal dunia di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar pada Jumat (25/9) pukul 07.51 WITA setelah dirawat intensif selama 1 minggu.
I Komang Kartika, sepupu dari IGS, mengungkap keluarga merasa sedih begitu mendapatkan berita duka tersebut. Ibu IGS langsung menangis mendengar kabar tentang meninggalnya putra pertamanya.
"Selaku sepupunya sangat sedih kehilangan dia. Terutama ibunya, sedih sekali. Karena ini anak pertamanya, masih bujang juga. Sangat sedih kehilangannya," kata Kartika ketika diwawancarai wartawan di depan Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9).
Kartika mengungkap, IGS merupakan tulang punggung keluarga. Ibunya adalah seorang pedagang yang bekerja menjual makanan dan minuman ketika sedang ada upacara adat. Ayah IGS adalah buruh harian dan seorang petani.
Sejak IGS dirawat intensif di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Kartika menemani ibu IGS. Mereka setia menunggu hingga IGS kembali sembuh, walaupun takdir berkata lain.
"Saya setiap harinya menemani ibunya di sini," ujarnya.
Kartika menambahkan, jenazah IGS masih harus dititipkan di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar untuk menjalani autopsi dari kepolisian. Jenazah tersebut juga akan dibawa ke mesin pendingin (freezer) hingga kepulangannya yang direncanakan pada 6 Oktober.
"Sekarang masih dirundingkan di rumah, di mana enaknya mau diadakan (upacara adat kematian), terus tadi disuruh dipulangkan tanggal 6 (Oktober) begitu," ujarnya.
Sementara itu, untuk melunasi biaya pengobatan IGS, keluarga masih mengandalkan donasi dari yayasan dan warga sekitar. Kartika mengatakan, Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, sempat memberikan donasi sebesar Rp 25 juta ke pihak rumah sakit.
"Dari Wapres ada Rp 25 juta, kalau yang kita dari donasi teman-teman, dari keluarga, itu sekitar Rp25 juta sekian. Belum dari koperasi dan teman-teman yang lain," tambah Kartika.
Sebelumnya diberitakan, IGS dibakar oleh bosnya hidup-hidup di rumahnya yang terletak di Banjar Dinas Susut, Desa Muncan, Selat, Karangasem, pada Jumat (18/9). IGS mengalami luka bakar sebesar 68 persen dari kejadian tersebut.
IGS selanjutnya dirawat intensif di RSUP Prof. Ngoerah Denpasar selama 1 minggu, sebelum meninggal dunia pada Jumat (25/9). Sementara itu, bos dari IGS, IPCP (37) telah ditetapkan menjadi tersangka.
"Korban IGS diketahui bekerja sebagai sopir truk milik terduga pelaku dan diduga belum menyerahkan uang hasil kerja serta uang modal dengan total sekitar Rp8,5 juta," ungkap Kasi Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, ketika dikonfirmasi pada Selasa (22/9).
Atas perbuatannya, IPCP disangkakan dengan Pasal 467 ayat (2) subsider Pasal 466 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan berencana yang mengakibatkan luka berat. Dalam persangkaan pasal tersebut, IPCP terancam hukuman pidana penjara paling lama 7 tahun.
