Sorotan Eks Gubernur-Wagub Jateng di Setahun Ganjar-Taj Yasin Menjabat

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kiri) bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen melakukan salam komando usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9). Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kiri) bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen melakukan salam komando usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9). Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Sudah tepat setahun setelah Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Moimoen, dilantik oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, 5 September 2018. Kinerja mereka dalam satu tahun pertamanya tak luput dari sorotan senior-seniornya, salah satunya Ahmad, Wagub Jateng era kepemimpinan Gubernur Mardiyanto.

Menurut Ahmad, Ganjar dan Taj Yasin telah berhasil menciptakan situasi kondusif di masyarakat. Pada periode pertama kepemimpinan Ganjar, pembangunan Jateng mulai menemukan pondasinya. Dan semakin progresif pada periode keduanya.

"Ganjar sudah mendalami masalah pada periode pertama. Periode kedua ini, selain berhati-hati, ia juga selalu menerima masukan dari siapa saja dan secara cepat mengambil keputusan. Sehingga, sekarang ini jauh lebih bagus," kata Ahmad di kediamannya, Jalan Papandayan, dalam keterangannya, Kamis (5/9).

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (ketiga kiri) dan Taj Yasin Maimoen (kedua kanan). Foto: Dok. Humas Jawa Tengah

Ahmad berharap Ganjar dan Yasin dapat terus meningkatkan komunikasi dengan stakeholder, sehingga mampu mewujudkan persatuan seluruh elemen. Serta, mampu meredam gelojak apapun, termasuk radikalisme dan intoleransi.

"Menjadi gubernur dan wakil gubernur itu ranjaunya banyak sekali. Harus bisa ngemong dan merangkul semua golongan, ke daerah juga agar bisa mengembangkan potensi untuk bersama membangun Jateng. Jangan menjadi pemerintahan yang dimusuhi. Pembangunan tidak hanya dari pemerintah, tetapi bisa diciptakan oleh masyarakat," tuturnya.

Di kesempatan berbeda, mantan Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz kagum pada gaya kepemimpinan Ganjar yang blak-blakan. Menurut gubernur periode 2007-2008 ini, gaya Ganjar menjadi warna tersendiri dan belum pernah ada di kepemimpinan sebelumnya. Gaya khas Ganjar menunjukkan keikhlasannya dalam membangun Jawa Tengah.

"Masyarakat Jawa Tengah itu perlu ada sesuatu yang baru dan jauh lebih penting itu, intinya adalah keikhlasan. Keikhlasan di dalam mengembangkan Jawa Tengah, lalu keikhlasan untuk membantu masyarakat ternyata itu menjadi sesuatu yang penting bagi kita," jelas Ali.

Ali menekankan pentingnya kerja sama dengan seluruh pihak dan melibatkan elemen masyarakat. Sehingga dapat memajukan Jateng menjadi sejahtera, damai, makmur, dan gayeng.

Mantan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sepakat dengan Ali, Gubernur Jateng periode 2009-2013, Bibit Waluyo, menyatakan Jateng bisa lebih maju lagi jika semua wilayah mau bersatu dan bekerja keras bersama.

"Semua pemimpin dan perangkatnya harus bersatu memajukan Jawa Tengah. Mulai dari desa, semua harus bergerak bersama sebagai penopang Jawa Tengah yang unggul. Makanya dulu saat saya jadi gubernur, programnya adalah Bali Ndeso Mbangun Deso," tutup Bibit.