Sosok Eril di Mata Asisten Keluarga Ridwan Kamil: Sederhana, Bertanggung Jawab
·waktu baca 3 menit

Sepekan sudah putra sulung Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Emmeril Kahn Mumtadz atau akrab disapa Eril (22), hilang di Sungai Aare, Bern, Swiss.
Berita kehilangan lelaki lulusan Teknik Mesin ITB dan pendiri Jabar Bergerak Zillenial itu menyimpan kesedihan bagi seluruh masyarakat, terutama kerabat dan saudara. Sebab, Eril dikenal dengan sosok yang ramah dan perhatian kepada setiap orang.
Seperti yang dirasakan asisten keluarga Ridwan Kamil sejak 16 tahun lalu, Hendar Zaehanan (33). Ia merasakan kesedihan yang begitu mendalam, terlebih Hendar sudah ikut dengan keluarga Ridwan Kamil sejak Eril masih berusia 8 tahun.
“Saya ikut dari sebelum bapak (Ridwan Kamil) jadi Wali Kota, ketika a Eril umur 8 tahun sekitar 2007, dan Zara masih kecil mungkin 2,5 atau 3 tahunan,” ujar Hendar pada kumparan, saat ditemui di rumah pribadi Ridwan Kamil di kawasan Cigadung Selatan Kota Bandung, Jumat (3/6).
Hendar menuturkan, dia pertama kali mengetahui musibah hilangnya Eril melalui rekannya yang bertugas di rumah dinas Gubernur Jawa Barat, Gedung Pakuan.
“Pas dengar kejadian musibah itu, dikasih tahu sama teman di Pakuan, saya syok juga. Saya cuma tertunduk lesu, di situ saya nangis,” tutur Hendar.
Dalam perbincangan, Hendar tak kuasa menahan tangis. Dia berkali-kali menghentikan ucapan saat menceritakan kebaikan sosok Eril sejak kecil, hingga dewasa.
“A Eril itu dari kecil sangat mandiri, bertanggung jawab, sosoknya baik, cerdas, pintar, rajin olahraga. Aa juga suka masak sendiri atau kalau lagi nggak mau masak, ke warteg. Kalau ditanya ‘a nggak ke restoran?’ ‘nggak warteg aja lah yang murah meriah’,” kata Hendar.
“Dari kecil sampai dewasa juga sederhana, termasuk cara berpakaiannya, nggak terlalu neko-neko,” kata dia.
Hendar mengatakan, rumah botol atau rumah pribadi Ridwan Kamil ini hanya ditempati oleh Eril selama setahun terakhir untuk kuliah secara daring karena pandemi.
Sementara Ridwan Kamil, istrinya Atalia Praratya dan Zara (anak keduanya), tinggal dan beraktivitas di Gedung Pakuan kawasan Pasir Kaliki, Kota Bandung.
“Mungkin karena di sana (Pakuan) ramai atau banyak tamu juga, jadi pengen fokus belajar di sini. Jadi dia izin ke ibu sama bapak ingin tinggal di sini sama saya, dan istri saya dan yang jaga,” kata dia.
“Ya (rumah pribadi Ridwan Kamil) bisa dikatakan sepi karena semenjak bapak jadi Wali Kota, bapak tinggal di Pendopo, lalu jadi Gubernur, tinggal di Pakuan. Ini kosong yang nempatin saya dan istri,” tuturnya.
Raut sedih menyelimuti wajah Hendar. Dia terus mengatakan masih merasakan kehadiran Eril bersamanya di rumah ini.
“Biasanya A Eril itu jam segini (kuliah) daring, suaranya kedengeran, terus malamnya belajar bimbel online sampai kadang jam 2 malam,” ucapnya.
Hendar juga menyampaikan, bulan Juni ini merupakan bulan kelahiran Eril. Setiap tahunnya, Eril dan keluarga selalu merayakan syukuran yang terkadang mengundang anak-anak yatim piatu untuk doa bersama.
“Bulan ini A Eril ulang tahun tanggal 25 Juni, belum sempat dirayain. Belum sempat lihat Aa wisuda juga, padahal saya ingin lihat Aa pakai toga,” sambungnya lirih.
Selama bekerja membersamai Gubernur Jawa Barat itu, Hendar menyampaikan, ajaran Ridwan Kamil dan Atalia kepada anak-anaknya patut dicontoh. Sebab sejak kecil, Eril dan Zara sudah diajarkan kemandirian.
Menurut Hendar, Ridwan Kamil dan Atalia merupakan sosok yang tegar dalam situasi dan kondisi apa pun, termasuk saat menghadapi musibah ini.
“Kalau lihat bapak sedih, saya juga merasa sedih dan kehilangan, tapi kayaknya bapak lebih tegar dari saya,” ucapnya.
Terakhir, Hendar mengungkap, sangat senang menjadi asisten Ridwan Kamil dan keluarga selama ini. Bahkan dia sudah diberangkatkan umrah oleh Ridwan Kamil dan Atalia beberapa waktu lalu.
“Senang sekali (kerja ikut bapak), makanya saya bertahan sampai 16 tahun di sini. Mungkin selagi dibutuhkan sama bapak dan ibu, saya akan tetap di sini,” tutupnya.
Reporter: Ulfah Salsabila
