Sosok Mohamed Bazoum, Presiden Niger yang Dilengserkan Kudeta Militer
·waktu baca 3 menit

Kudeta militer melengserkan pemerintahan demokratis di Niger yang sejak 2021 dipimpin oleh Presiden Mohamed Bazoum, pada Rabu (26/7).
Kudeta tersebut diumumkan oleh Kolonel Amadou Abdramane yang didampingi oleh sejumlah perwiranya, dalam siaran televisi lokal. "Presiden Niger Mohamed Bazoum telah dicopot dari kekuasaannya, mengakhiri rezim yang Anda kenal karena situasi keamanan yang memburuk dan tata kelola pemerintahan yang buruk," kata Abdramane.
Akibatnya, perbatasan Niger ditutup, jam malam nasional diberlakukan, dan seluruh institusi negara ditangguhkan. Militer memperingatkan agar pihak asing tidak mengintervensi kondisi ini dan berjanji akan menjaga keselamatan Bazoum.
Sosok Mohamed Bazoum
Pria berusia 63 tahun ini lahir pada 3 Januari 1959 di wilayah Diffa dan merupakan anggota etnis minoritas Arab-Niger. Dia mengeyam pendidikan di Kota Goure dan Zinder, sebelum merantau ke Senegal dan mempelajari filsafat di Universitas Dakar.
Dari latar pendidikan filsafatnya itu, Bazoum menemukan jati dirinya yang berhaluan kiri di sayap politik. Dia kemudian kembali ke Niger dan mengajar sebagai guru sekolah selama enam tahun.
Sekembalinya Bazoum ke kampung halaman, dia terlibat dalam kegiatan serikat pekerja dan bersama rekan dekatnya, eks Presiden Niger Mahamadou Issoufou, menjadi pendiri Nigerien Party for Democracy and Socialism (PNDS).
Selama Issoufou menjabat sebagai presiden sejak 2011, Bazoum menjadi orang kepercayaannya. Dia menduduki posisi penting — menteri luar negeri, sebelum beralih menjadi menteri dalam negeri.
Bazoum telah lama berada di bawah bayang-bayang Issoufou, mengambil berbagai peran esensial seperti mengelola PNDS yang mereka dirikan bersama.
Memiliki koneksi yang luas, baik di dalam dan luar negeri, Bazoum meninggalkan jabatannya pada pertengahan 2020 dan mencalonkan diri dalam pemilu. Akhirnya, Bazoum memenangkan pemilu dengan perolehan sebesar 55 persen suara.
Tak Pernah Jauh dari Upaya Kudeta
Namun, hanya beberapa hari sebelum Bazoum dilantik, pemerintah Issoufou mengumumkan penangkapan beberapa orang berkaitan dugaan upaya kudeta.
Dikutip dari AFP, di antara mereka yang ditahan adalah otak di balik kudeta, kapten Angkatan Udara Sani Gourouza, dan mantan Menteri Dalam Negeri Ousmane Cisse.
Lebih lanjut, Bazoum akhirnya resmi dilantik menduduki jabatan presiden pada 2021. Hal itu menjadikannya sebagai presiden pertama di Niger yang melakukan transisi damai menuju pemerintahan yang lebih demokratis. Bazoum menyebut kondisi itu sebagai cerminan kedewasaan rakyat dan kedewasaan para pemimpin.
Menurut seorang pejabat Niger, upaya kedua untuk menggulingkan Bazoum terjadi pada Maret 2023 lalu, ketika dia sedang berada di Turki. Penangkapan pun telah dilakukan, tetapi pihak berwenang tidak pernah berkomentar secara terbuka tentang insiden tersebut.
Baru dua tahun berkuasa, pada Kamis (27/7) Bazoum telah terperosok ke dalam kudeta yang dipimpin oleh Pasukan Pengawal Presidennya sendiri.
