Sosok Sukmawati, Puisi, dan Kecintaannya terhadap Seni

Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri memang dekat dengan dunia seni. Tak dimungkiri, sejak dulu, Sukma aktif melakoni seni lukis, tari, hingga puisi.
Baru-baru ini, Sukma berpuisi di panggung Indonesia Fashion Week 2018. Dalam acara '29 Tahun Anne Avantie Berkarya', putri dari presiden pertama RI, Soekarno itu, membaca puisi 'Ibu Indonesia'.
Videonya pun beredar luas di media sosial. Namun, yang disoroti, bukan bagaimana kelihaian Sukma dalam berpuisi. Melainkan, isi dari puisi yang ia bacakan.
Video pembacaan puisi Sukma di menit ke 1.07.39
Aku tak tahu syariat islam
Yang kutahu sari konde Ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Lihatlah ibu indonesisa
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi dan kreatif
Selamat datang di duniaku
Bumi ibu indonesia
Aku tak tahu syariat islam
Yang kutahu suara kidung ibu indonesia sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu
Gemulai gerak tarimu adalah ibadah
Semurni irama puja kepada ilahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damai mengalun
Canting menggores ayat-ayat alam surgawi
Pandanglah ibu indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini
Cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya
Puisi itu dianggap melecehkan Islam. Tak lain, lantaran kata 'cadar' atau 'lantunan azan' yang kalah merdu dari 'kidung'. Syairnya dianggap menyiratkan banyak tafsir.
Nama Sukmawati memang tak asing. Sukma, begitu panggilannya, adalah anak keempat dari pasangan Soekarno dan Fatmawati. Sementara empat saudara kandung Sukma, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra, juga dikenal publik.

Sukma memang amat menyukai seni. Perempuan kelahiran Jakarta, 26 Oktober, 66 tahun silam itu, fokus mendalami dunia seni semasa kuliah. Sukma memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Akademi Tari LPKJ, Jakarta, tahun 1970-1974. Namun selanjutnya, dia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bung Karno Jakarta, pada 2003.
Selain di dunia seni, Sukma juga berkecimpung di dunia politik. Pada 1998, Sukma kembali mendirikan partai besutan ayahnya dulu, Partai Nasional Indonesia, dengan nama PNI Soepeni. Nama itu diubah menjadi PNI Marhaenisme dan Sukma pun ditunjuk menjadi ketua umum pada 2002.
Selain dua hal itu, kecintaannya terhadap menulis, juga ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Creeping Coup D'Tat Mayjen Suharto. Adapun, buku itu, berisi tentang memoar Sukma dalam memandang pergeseran jabatan presiden dari ayahnya ke presiden selanjutnya, Soeharto, pada pertengahan 1960-an.
Nama Sukma kembali disorot pada 2016. Sukma pernah melaporkan Pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Syihab ke Bareskrim Polri.
Sukma melaporkan Rizieq yang dia anggap telah melecehkan Pancasila. Terlebih, ayah Sukma, juga sebagai salah satu perumus Dasar Negara Indonesia. Sukma menilai Rizieq telah melanggar Pasal 154a KUHP tentang penodaan lambang negara.
Dan kini, puisi Sukmawati memicu kontroversi. Kendati begitu, Guruh sudah menanggapi kegaduhan ini.
"Ya itulah yang mungkin, ya itulah yang terjadi. Tapi tentunya, yang kita inginkan adalah kita semuanya berpikir jernih. Berpikir dan berbuat bijaksana dalam segala hal," ucap pendiri Kinarya GSP ini di kantor presiden, Jakarta, Selasa (3/4).
"Kami enggak membicarakan soal itu. Saya ketemu Mba Sukma. Karena kemarin juga suami dari Mbak Rahmawati juga meninggal," tuturnya.
Terkait hal ini, kumparan sudah menghubungi Sukma untuk dimintai tanggapan, namun telepon selulernya tidak aktif.
