Sosok Sukmawati, Puisi, dan Kecintaannya terhadap Seni

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Puisi Sukmawati di pagelaran Anne Avantie. (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Puisi Sukmawati di pagelaran Anne Avantie. (Foto: Garin Gustavian Irawan/kumparan)

Diah Mutiara Sukmawati Soekarnoputri memang dekat dengan dunia seni. Tak dimungkiri, sejak dulu, Sukma aktif melakoni seni lukis, tari, hingga puisi.

Baru-baru ini, Sukma berpuisi di panggung Indonesia Fashion Week 2018. Dalam acara '29 Tahun Anne Avantie Berkarya', putri dari presiden pertama RI, Soekarno itu, membaca puisi 'Ibu Indonesia'.

Videonya pun beredar luas di media sosial. Namun, yang disoroti, bukan bagaimana kelihaian Sukma dalam berpuisi. Melainkan, isi dari puisi yang ia bacakan.

Video pembacaan puisi Sukma di menit ke 1.07.39

video youtube embed

Aku tak tahu syariat islam

Yang kutahu sari konde Ibu Indonesia sangatlah indah

Lebih cantik dari cadar dirimu

Gerai tekukan rambutnya suci

Sesuci kain pembungkus ujudmu

Rasa ciptanya sangatlah beraneka

Menyatu dengan kodrat alam sekitar

Jari jemarinya berbau getah hutan

Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu indonesisa

Saat penglihatanmu semakin asing

Supaya kau dapat mengingat

Kecantikan asli dari bangsamu

Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi dan kreatif

Selamat datang di duniaku

Bumi ibu indonesia

Aku tak tahu syariat islam

Yang kutahu suara kidung ibu indonesia sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azanmu

Gemulai gerak tarimu adalah ibadah

Semurni irama puja kepada ilahi

Nafas doanya berpadu cipta

Helai demi helai benang tertenun

Lelehan demi lelehan damai mengalun

Canting menggores ayat-ayat alam surgawi

Pandanglah ibu indonesia

Saat pandanganmu semakin pudar

Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu

Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini

Cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya

Puisi itu dianggap melecehkan Islam. Tak lain, lantaran kata 'cadar' atau 'lantunan azan' yang kalah merdu dari 'kidung'. Syairnya dianggap menyiratkan banyak tafsir.

Nama Sukmawati memang tak asing. Sukma, begitu panggilannya, adalah anak keempat dari pasangan Soekarno dan Fatmawati. Sementara empat saudara kandung Sukma, yakni Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra, juga dikenal publik.

Sukmawati Soekarnoputri (Foto: Wikipedia)
zoom-in-whitePerbesar
Sukmawati Soekarnoputri (Foto: Wikipedia)

Sukma memang amat menyukai seni. Perempuan kelahiran Jakarta, 26 Oktober, 66 tahun silam itu, fokus mendalami dunia seni semasa kuliah. Sukma memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Akademi Tari LPKJ, Jakarta, tahun 1970-1974. Namun selanjutnya, dia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bung Karno Jakarta, pada 2003.

Selain di dunia seni, Sukma juga berkecimpung di dunia politik. Pada 1998, Sukma kembali mendirikan partai besutan ayahnya dulu, Partai Nasional Indonesia, dengan nama PNI Soepeni. Nama itu diubah menjadi PNI Marhaenisme dan Sukma pun ditunjuk menjadi ketua umum pada 2002.

Selain dua hal itu, kecintaannya terhadap menulis, juga ia tuangkan dalam sebuah buku berjudul Creeping Coup D'Tat Mayjen Suharto. Adapun, buku itu, berisi tentang memoar Sukma dalam memandang pergeseran jabatan presiden dari ayahnya ke presiden selanjutnya, Soeharto, pada pertengahan 1960-an.

Nama Sukma kembali disorot pada 2016. Sukma pernah melaporkan Pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Syihab ke Bareskrim Polri.

Sukma melaporkan Rizieq yang dia anggap telah melecehkan Pancasila. Terlebih, ayah Sukma, juga sebagai salah satu perumus Dasar Negara Indonesia. Sukma menilai Rizieq telah melanggar Pasal 154a KUHP tentang penodaan lambang negara.

Dan kini, puisi Sukmawati memicu kontroversi. Kendati begitu, Guruh sudah menanggapi kegaduhan ini.

"Ya itulah yang mungkin, ya itulah yang terjadi. Tapi tentunya, yang kita inginkan adalah kita semuanya berpikir jernih. Berpikir dan berbuat bijaksana dalam segala hal," ucap pendiri Kinarya GSP ini di kantor presiden, Jakarta, Selasa (3/4).

"Kami enggak membicarakan soal itu. Saya ketemu Mba Sukma. Karena kemarin juga suami dari Mbak Rahmawati juga meninggal," tuturnya.

Terkait hal ini, kumparan sudah menghubungi Sukma untuk dimintai tanggapan, namun telepon selulernya tidak aktif.