Sosok Tersangka Pencabulan Santriwati Ponpes di Pati: Tertutup, Tak Bertetangga
·waktu baca 2 menit

Warga sekitar Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, memberi kesaksian soal sosok Asyhari—tersangka kasus dugaan pencabulan santriwati.
Salah satu warga, Rozikin Paiden, mengaku mengenal Asyhari sejak muda. Menurutnya, sikap Asyhari mulai berubah sejak ia berstatus kiai.
"Waktu muda kumpul seperti warga pada umumnya. Sikapnya berbeda saat sudah jadi kiai. Mungkin karena merasa sudah jadi tokoh," kata Paiden saat ditemui, Selasa (5/5).
Menurut Rozikin, Asyhari tinggal di kompleks ponpes putri bersama istri dan empat anaknya. Namun, setelah kasus dugaan pencabulan mencuat, warga tidak mengetahui keberadaannya.
"Wah, karena dia tertutup, warga tidak tahu keberadaannya," katanya.
Bahkan, ia mengaku kaget saat kasus pencabulan itu mencuat dan kemudian ada demonstrasi di depan ponpes, Sabtu (2/5) lalu.
"Ya, sebelumnya kaget, Mas. Tidak ada pemberitahuan dari balai desa. Tiba-tiba sudah ada demo. Ya kecewa, masalah pengasuh itu meresahkan masyarakat," kata dia.
Ia lantas berharap Asyhari segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya, karena korban diduga anak yatim piatu.
"Saya mintanya, kalau dia ditangkap, dihukum seberat-beratnya. Soalnya, korban itu yatim piatu," tandas Rozikin.
Hal yang sama juga diutarakan Anwar. Ia juga mengaku kaget dengan adanya kasus dugaan pencabulan santriwati tersebut. Meski tinggal bersebelahan dengan ponpes, ia mengaku tidak pernah mengetahui tingkah lakunya.
"Kaget. Kok ada seperti ini. Tidak menyangka," bebernya.
Menurut Anwar, Asyhari merupakan sosok tertutup dan jarang bersosialisasi dengan warga. Ia baru keluar dari pesantren saat ada acara di desa, seperti pengajian.
"Tidak pernah srawung (bertetangga). Tertutup terus. Tapi kalau ada pengajian atau kegiatan keagamaan, nah kalau begitu keluar sama santrinya," ujar Anwar.
