Stafsus Jokowi: Isu Politik dan Freeport Picu Penyerangan di Papua

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Polisi. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Polisi. (Foto: Aprilandika Pratama/kumparan)

Presiden Joko Widodo memanggil Staf Khusus Presiden Kelompok Kerja Papua, Lenis Kogoya, ke Istana Merdeka pada Selasa (31/10) siang tadi, untuk membahas perihal gangguan kelompok bersenjata di Papua yang mengancam keamanan.

Ditemui usai diskusi sekitar satu jam bersama Jokowi, Lenis berpendapat isu-isu politik yang berhembus di tanah Papua, menjadi pemicu munculnya gejolak konflik keamanan yang belakangan ini kembali kerap terjadi.

"Saya melihat di Papua ini yang masyarakat tidak tahu apa-apa, tapi ya ini ada bermain. Ada permainan-permainan dilakukan, isu-isu politik atau isu-isu OPM (Organisasi Papua Merdeka) sudah muncul di Tanah Papua," kata Lenis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (31/10).

"Di sini saya minta kepada pihak keamanan, ini kan negara ini negara hukum. Kalau memang ada yang salah, ya memang harus ditangkap. Itu harus dibuktikan dengan fakta-fakta lapangan," lanjut Lenis.

Lenis Kogoya (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Lenis Kogoya (Foto: Yudhistira Amran Saleh/kumparan)

Lenis menambahkan, tak dapat dipungkiri penyerangan itu juga dipicu permasalahan antara pemerintah PT Freeport (perusahaan tambang asal AS) yang berlokasi di wilayah Tembagapura.

"Kenapa masyarakat itu marah? Karena ada hal sesuatu yang belum beres, lebih khusus saya bicara masalah Freeport sampai hari ini. Freeport ini hak kita untuk wilayah Indonesia. Freeport ada di wilayah Indonesia," kata Lenis.

"Kalau Indonesia minta apa, ya Freeport atau Pemerintah Amerika harus mematuhi dan mengakui, karena wilayah Papua itu wilayah pengawasan di bawah kepala suku. Saya sebagai kepala suku Provinsi Papua," lanjutnya.

Kompleks Tembagapura, Freeport (Foto: OLIVIA RONDONUWU / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Kompleks Tembagapura, Freeport (Foto: OLIVIA RONDONUWU / AFP)

Menurur Lenis pihak Kepolisian, TNI, dan masyarakat harus saling bekerja sama menjaga keamanan di Papua, namun dengan tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

"Kepolisian, terus pihak dari TNI, Polri, harus kerja sama supaya pendekatan masyarakat Papua tidak bisa kekerasan, dengan alat-alat yang terlarang. Tapi pendekatan dengan hati. Itu yang lebih penting," ucapnya.

Untuk diketahui, kelompok kriminal bersenjata menyerang Pos Brimbob Mil 67 di Tembagapura pada Minggu (29/10) sekitar pukul 10.00 WIB. Selang beberapa jam, Markas Polsek di Tembagapura juga diserang.

Serangan ini tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya mobil operasional Brimob saja yang berlubang karena terkena peluru.

Baku tembak antara polisi dan penyerang pun terjadi. Anggota Brimob bahkan langsung mengejar pelaku penembakan yang lari ke Hidden Valley di Mil 66. Warga sekitar sempat dievakuasi ke Balai Olahraga Tembagapura saat tragedi itu terjadi.

Sedangkan PT. Freeport Indonesia yang beroperasi di kawasan Tembagapura, segera mengeluarkan peringatan terhadap keselamatan para pekerja dengan membunyikan sirine di mile 68.