Stafsus Menkominfo: Orang Radikal Itu Biasa, Seperti Revolusioner

kumparanNEWSverified-green

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Politikus NasDem Zulfan Lindan di konferensi pers Patrice Rio Capella, Jakarta Pusat. Foto: Lutfan Darmawan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Politikus NasDem Zulfan Lindan di konferensi pers Patrice Rio Capella, Jakarta Pusat. Foto: Lutfan Darmawan/kumparan

Staf Khusus Menkominfo, Zulfan Lindan, menjelaskan radikalisme adalah pemikiran yang lumrah terjadi di masyarakat, seperti orang yang berpikiran revolusioner. Menurutnya, orang berpaham radikal selalu berpegang teguh pada prinsipnya.

Hal itu disampaikannya dalam diskusi yang membahas tema 'Menguji Efektifitas Program Deradikalisasi' di Kedai Sirih Merah, Jakarta Pusat, Sabtu (23/11).

"Kalau kita bicara pemahaman radikalisme sendiri, saya pikir orang berpikir radikal itu biasa, seperti orang yang revolusioner ini orang yang radikal, orang radikal ini orang yang berpegang teguh pada prinsip yang ia yakini," ujar Zulfan dalam acara diskusi Perspektif Indonesia Smart FM, Sabtu (23/11).

Diskusi perspektif indonesia Smart FM. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Meski demikian, politikus NasDem itu menegaskan kesalahan orang radikal adalah tak mau membuka diri dengan pemikiran orang lain. Orang radikal, kata Zulfan, selalu menganggap pemikirannya adalah benar.

"Kemudian (pemikiran radikal itu) bermasalah ketika dia menjadi eksklusif sehingga ia menutup dari orang lain, ia berpikir pemikirannya itu benar tanpa adanya membuka ruang diskusi bagi pihak lain di sana," ucap Zulfan.

Menurut Zulfan, orang radikal lebih sering menghardik orang yang memiliki pandangan berseberangan dengan yang ia yakini.

"Jadi kalau saya lihat dari sudut pandang ini yang kita cegah ini ekstremisme ini, jangan menjadi orang yang tak toleran dan menganggap orang yang tak sepemahaman dia salah atau mungkin kafir," ungkap Zulfan.

Politikus NasDem, Zulfan Lindan. Foto: Muhammad Lutfan /kumparan

Selain itu, Zulfan meminta agar penilaian radikal seseorang jangan dilihat dari fisik atau penampilan. Menurutnya, radikal berasal dari pemikiran atau pemahaman seseorang bukan dari bagaimana seseorang berpakaian.

"Kalau kita bicara radikal dari fisik itu lebih parah lagi, kita bicara radikal itu dari pemikiran bukan penampilan," terangnya.

kumparan post embed

Untuk mencegah orang-orang berpaham radikal, Zulfan menganggap pentingnya pendidikan. Sehingga perlu ada satu aturan pengajaran yang baik tentang paham-paham yang ada di masyarakat.

"Jadi kita harus jelas bahwa kita harus sunnah wal jamaah jadi kita enggak boleh mengajarkan selain hal itu, tapi kalau orang mau belajar paham lain boleh enggak, ya silakan tapi di luar sistem pendidikan. Jadi kalau ada paham lain silahkan tapi jangan di pendidikan resmi dong," pungkas Zulfan.