Stephen Hawking dan Deretan Manusia Jenius dengan IQ Tinggi

Angka yang tertera di selembar kertas berisi hasil tes IQ memang kerap kali menjadi tolok ukur kadar kecerdasan seseorang. Walaupun, faktor ini tidak bisa menjadi satu-satunya untuk melihat kualitas diri orang tersebut.
Walau begitu, tes IQ masih tetap diperlukan untuk setidaknya memberi gambaran besar dan prediksi kemampuan memahami dan praktik seseorang, tanpa menjadi ukuran tunggal untuk melihat kecerdasan tersebut. Tinggi rendah kadar kecerdasan seseorang pun bisa berbeda-beda. Biasanya, mereka yang memilki kadar kecerdasan begitu tinggi merupakan manusia berbakat dan gifted.
Salah satu yang memiliki nilai IQ tinggi adalah Stephen Hawking, profesor Matematika di University of Cambridge. Di tahun 1963, Hawking didiagnosis mengidap penyakit motor neurone dan diperkirakan hanya memiliki jangka waktu dua tahun untuk hidup. Namun, nyatanya perkiraan itu tidaklah benar. Stephen bahkan kini menjadi salah satu ilmuwan yang brilian dan mengantongi gelar Lucasian Professor (profesor di bidang Matematika) --kedudukan yang sama dan pernah dijabat oleh Isaac Newton pada 1663.

Salah satu karyanya yang fenomenal adalah A Brief History of Time yang dipublikasikan pada tahun 1988. Dalam buku ini, ia menjelaskan segala temuannya di bidang teori fisika --termasuk pengembangan teori Big Bang yang kerap menuai kontroversi. Buku ini masuk dalam list best-seller di seluruh dunia. Kontribusi Hawking telah mendorong revolusi di bidang fisika dan memberikan satu lagi sumbangsih terhadap pengetahuan manusia.
Berbicara mengenai angka kecerdasan, salah satu sumber menyebutkan bahwa angka IQ Stephen Hawking adalah 160. Sumber lain pun menyebutkan angka 154. Untuk memastikan, New York Times pernah secara langsung menanyakan pada Stephen Hawking. Alih-alih menyebutkan angka, Hawking malah menjawab: 'I have no idea. People who boast about their IQ are losers.’
Namun, Stephen Hawking bukanlah satu-satunya di dunia yang diklaim memiliki IQ tinggi. Albert Einsten, penemu teori relativitas yang menjadi teori dasar dari seluruh pengetahuan fisika modern. Kecerdasannya tersebut tak hanya berhenti di satu penemuan saja. Einstein pun turut memberikan sumbangsih dalam menemukan reaksi nuklir --yang belakangan ia sesali karena telah memicu penemuan bom nuklir yang digunakan sebagai senjata perang.
Einstein disebutkan memiliki angka kecerdasan dari rentang 160 hingga 190. Ia diakui sebagai salah satu ilmuwan jenius yang memberikan sumbangsih besar bagi perkembangan dunia fisika. Einstein wafat di tahun 1955 karena penyakit aneurisma. Walaupun ia sudah tiada, ilmu dan teori yang ia cetuskan terus menjadi formula mutakhir dalam perhitungan fisika hingga sekarang.

Menambah deretan manusia dengan kecerdasan di atas rata-rata, Judit Polgár menjadi salah satu nama yang kerap disinggung. Dengan kemampuan bermain catur yang luar biasa sedari dini --di umur sembilan tahun sudah menyabet gelar juara di turnamen catur internasional--, nama Polgar terus melesat dan dianggap sebagai salah satu anak ajaib yang dikaruniai kecerdasan luar biasa.
Setelah berhasil menyabet juara di umur sembilan tahun, Polgar kembali memenangkan medali emas di Olimpiade Catur di umur 12 tahun. Kemenangannya adalah yang pertama dalam sejarah catur Hungaria.
Bila diukur dalam angka, Judit Polgar diprediksi memiliki angka kecerdasan mencapai 170. Angka ini sungguh di atas rata-rata, ditambah dengan berbagai prestasi yang telah ia telurkan di bidang catur. Saat ini, ia adalah satu-satunya perempuan yang ada dalam list top 100 pemain catur di World Chess Federation.

Manusia luar biasa lain yang dianugerahi dengan kecerdasan di atas rata-rata adalah Kim Ung-Yong, seorang jenius dari Korea Selatan yang lahir di tahun 1963. Ayahnya adalah seorang profesor, menjelaskan salah satu faktor kecerdasan luar biasa yang ia miliki. Di umur enam bulan, Kim Ung-Yong sudah bisa berbicara. Seiring dengan perkembangannya yang luar biasa, ia sudah bisa membaca bahasa Korea, Inggris, Jerman, dan beberapa bahasa lainnya di ulang tahunnya yang ketiga.
Di umurnya yang keempat, ayah Ung-Yong mengklaim anaknya sudah mampu menghapalkan 2000 kata dalam bahasa Inggris dan Jerman. Bahkan, ia bisa menulis puisi dalam bahasa Korea dan China. Karena kemampuannya yang luar biasa, Ung-Yong pun diarahkan untuk tes IQ. Dan hasil yang didapat pun mencengangkan: ia mendapatkan nilai 200 dalam tes IQ yang normalnya diberikan pada anak berumur tujuh tahun.
Setelah kemampuannya diketahui oleh khalayak, Ung-Yong akhirnya melanjutkan studi di Grant High School, Los Angeles, Amerika Serikat. Ia pun diangkat untuk bekerja di NASA. Pada masa itu, Ung-Yong merasa hidupnya bagaikan mesin. Mulai dari bangun tidur, ia sudah dihadapkan dengan berbagai perhitungan rumit untuk dipecahkan sampai akhirnya ia kembali beristirahat.

Kemampuannya dalam memecahkan perhitungan rumit lantas membawanya menyabet gelar doktoral di bidang fisika. Setelah menjalani hidup bertahun-tahun di Amerika Serikat, Ung-Yong lalu kembali ke Korea. Ia mendapatkan gelar Ph.D. di bidang teknik sipil dari Chungbuk National University.
Di tahun 2007, ia mengajar di Chungbuk National University dan melanjutkan menjadi profersor di Shinhan University pada tahun 2014. Kontribusi Ung-Yong membuat dirinya dipercaya sebagai vice president untuk North Kyeong-gi Development Research Center.
Kemampuannya yang luar biasa membuat ia meraih angka kecerdasan hingga 210, membuatnya terpilih menjadi manusia dengan nilai IQ tertinggi di dunia dalam The Guiness Book of World Record.
Terlepas dari tinggi maupun rendahnya IQ seseorang, nilai IQ tidak bisa menjadi tolok ukur tunggal untuk melihat kualitas diri seseorang. Masih ada beberapa faktor lain, seperti misalnya kecerdasan emosional, untuk bisa melihat kualitas diri. Bagaimana pun, nilai IQ hanya bisa memberikan gambaran tanpa bisa mendalami konteks manusia itu sendiri. Setuju?
Dari berbagai sumber.
