Strategi Prabowo Pasok Kebutuhan Program Susu Gratis: Impor 1,5 Juta Sapi

Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, akan mengimpor 1,5 juta seekor sapi perah untuk memenuhi kebutuhan susu sapi dalam program susu gratis. Impor itu akan dilakukan apabila dia terpilih menjadi presiden.
Prabowo menjelaskan, pihaknya lebih memilih membagikan susu segar, ketimbang susu UHT dalam kemasan untuk pemenuhan program bagi susu gratis yang ia bawa bersama cawapres Gibran Rakabuming Raka.
"Jadi susu ya yang paling baik dan yang paling sehat adalah susu yang tentunya langsung dari sapi. Yang kemasan-kemasan mungkin kebanyakan adalah pada pengawet dan mungkin gulanya terlalu banyak dan sebagainya," kata Prabowo dalam diskusi PWI di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Kamis (4/1).
Prabowo menuturkan, permasalahan saat ini adalah populasi sapi perah yang perlu diperbanyak untuk pemenuhan susu segar yang akan dibagikan secara gratis kepada anak-anak. Menurutnya, permasalahan tersebut bisa diatasi selagi ada niat dan keinginannya.
"Kalau kita punya kehendak ya kita harus perbanyak kita punya populasi sapi di Indonesia," ucapnya.
Prabowo mengatakan, bila ada kehendak politiknya, maka pemenuhan populasi sapi perah tersebut bisa dipenuhi dalam beberapa tahun ke depan.
Lebih jauh, ia berbicara pemenuhan populasi sapi perah lewat pembelian sapi dari luar negeri atau impor. Ia mengatakan sapi perah impor salah satunya bisa berasal dari Brasil, tetapi membutuhkan waktu kirim sampai ke tanah air hingga 40 hari.
Opsi lain, yakni impor sapi dari India yang waktu kirimnya hanya 20 hari.
"Dan harganya saya kira memadai India, lebih banyak kita bisa impor," kata Prabowo.
Prabowo mengatakan ada 82 juta anak yang akan diberikan susu gratis dengan rata-rata 500 cc susu setiap anak.
"Berarti sekitar 40 juta liter. Berarti kita minimal perlu sapi perah ya minimal mungkin 2,5 juta. Jadi kita mungkin harus impor 1 juta atau 1,5 juta sapi. Dalam dua tahun dia akan melahirkan, kita akan punya 3 juta," kata Prabowo.
"Kira-kira begitu strategi kita. Ini tidak instan tapi ada will-nya, ada kehendak," pungkas dia.
