Studi di Chile: Sinovac 65,9% Cegah Tertular Corona, 87,5% Cegah Dirawat
ยทwaktu baca 2 menit

Belakangan ini, banyak yang meragukan efikasi dari vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan asal China, Sinovac Biotech Ltd. Padahal vaksin ini memiliki efikasi yang baik, ditambah dengan performa dunia nyata yang konsisten dengan performa pada uji klinis Fase II.
Riset mengenai efikasi vaksin Sinovac dilakukan di Chile pada periode 2 Februari-1 Mei 2021 dengan melibatkan hingga 10,2 juta partisipan. Penelitian ini dipublikasikan pada Rabu (7/7) di New England Journal of Medicine.
Hasil penelitian tersebut mengungkap bahwa efikasi vaksin Sinovac dalam pencegahan infeksi COVID-19 mencapai 65,9%. Sementara untuk pencegahan hospitalisasi (perawatan di rumah sakit) akibat COVID-19, efikasinya mencapai 87,5%.
Untuk pencegahan perawatan intensif di ICU, vaksin ini 90,3% efektif; dan untuk pencegahan kematian yang berkaitan dengan COVID-19, efikasinya mencapai 86,3%.
Hasil ini merupakan referensi yang sangat baik, mengingat Chile memiliki tingkat testing COVID-19 terbaik di Amerika Latin, akses kesehatan universal, serta sistem pelaporan masyarakat yang terstandardisasi, sebagaimana dikutip dari Global Times.
Seorang ilmuwan dan ahli kardiologi, Eric Topol, menyebut bahwa angka tersebut adalah hasil yang cukup baik. Menurutnya, vaksin Sinovac ini bekerja dengan baik, terlebih dalam mencegah gejala berat.
Tetapi, jika hanya menerima satu dosis saja, tentu efikasinya tidak akan setinggi dosis penuh. Penelitian tersebut memaparkan bahwa efikasi dalam mencegah infeksi COVID-19 hanya mencapai 15,5% jika hanya menerima satu dosis saja.
Sementara, efikasi dalam mencegah hospitalisasi mencapai 37,4%; efikasi dalam mencegah perawatan di ICU mencapai 44,7%; dan efikasi dalam mencegah kematian yang berkaitan dengan COVID-19 mencapai 45,7%.
Jadi, vaksinasi dengan dosis penuh memang sangat dianjurkan demi memperoleh perlindungan maksimal terhadap COVID-19.
Varian Delta
Kekhawatiran masyarakat dunia memuncak dengan beredarnya varian Delta. Varian ini ditakutkan akan menurunkan efikasi seluruh vaksin COVID-19 yang tersedia saat ini, termasuk Sinovac.
Epidemiolog China, Zhong Nanshan, pada 28 Juni lalu menegaskan bahwa vaksin-vaksin yang diproduksi di China--termasuk Sinovac--efektif terhadap varian Delta. Zhong mengajak orang-orang untuk tidak ragu dan segera divaksinasi.
Seorang ahli imunologi asal Beijing, China, mengatakan bahwa secara teori, vaksin tipe inactivated virus membawa seluruh antigen virus, sehingga mereka mampu menetralisir lebih banyak varian lainnya.
Menurut Global Times, efikasi vaksin tipe ini terhadap mutasi virus lebih baik dibandingkan vaksin tipe mRNA, tetapi klaim ini masih membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Seperti diketahui, vaksin Sinovac merupakan vaksin jenis inactivated virus, yaitu menggunakan virus SARS-CoV-2 yang dilemahkan. Ketika vaksin disuntikkan, vaksin akan memicu respons imun terhadap virus corona.
Metode ini merupakan metode yang sudah digunakan sejak lama dan disebut merupakan metode yang paling aman.
Sedangkan platform mRNA antara lain digunakan vaksin Pfizer dan Moderna.
