Studi Kemenkes: Vaksin Sinovac Efektif Turunkan Kasus COVID-19 Nakes di Jakarta

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) berjalan menuju ruang perawatan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Vaksin punya peran yang sangat penting dalam mencegah infeksi COVID-19. Termasuk juga pada para tenaga kesehatan yang punya risiko terpapar lebih tinggi daripada masyarakat umum.

Tenaga kesehatan termasuk yang paling awal mendapatkan vaksin Sinovac pada Januari 2021. Hasil riset menunjukkan bahwa Sinovac yang diberikan sebanyak 2 dosis tersebut mampu mencegah infeksi sebesar 94 persen setelah lebih dari 28 hari.

Efektivitas dari vaksin ini berdasarkan hasil studi Balitbangkes Kementerian Kesehatan terhadap 25.374 tenaga kesehatan di DKI Jakarta. Hasilnya, jumlah kasus infeksi pada tenaga kesehatan menurun usai vaksinasi Sinovac.

kumparan post embed

Data tersebut tidak memaparkan berapa perbandingan jumlah tenaga kesehatan yang terpapar COVID-19 sebelum dan sesudah vaksinasi. Namun, dari penelitian yang dilakukan para periode 13 Januari - 18 Maret 2021 tersebut memperlihatkan adanya kurva yang menurun setelah pemberian vaksin dosis kedua.

Selain mencegah infeksi, vaksin Sinovac juga berhasil mencegah tenaga kesehatan dari perawatan karena COVID-19 hingga 96 persen. Data ini juga dicatat hingga 28 Februari 2021. Tertulis bahwa estimasi dihitung pada hari ke-24 pasca-vaksinasi secara lengkap.

Data penurunan kasus COVID-19 terhadap nakes setelah vaksinasi Sinovac. Foto: Dok: Balitbangkes Kementerian Kesehatan

Sementara untuk efektivitas terhadap pencegahan kematian, vaksin Sinovac juga ampuh sampai dengan 100 persen.

Penelitian ini diambil sebelum munculnya varian Delta yang punya penyebaran dan risiko rawat inap yang lebih tinggi. Varian Delta pertama kali diumumkan terdeteksi pada Mei 2021 lalu.

Tim Mitigasi PB IDI bahkan mencatat kematian pada tenaga kesehatan khususnya dokter pada Juli lalu saat gelombang kedua terjadi mencapai 199 kasus. Ini merupakan yang tertinggi sepanjang pandemi berlangsung.

Sejumlah tenaga kesehatan memakai alat pelindung diri (APD) bersiap merawat pasien COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RSD) COVID-19, Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Atas tingginya angka kematian pada para tenaga kesehatan yang salah satunya disebabkan oleh penularan varian Delta ini, maka pemerintah telah memberikan suntikan booster berupa vaksin Moderna.

Vaksin dengan platform m-RNA ini punya efikasi yang tinggi mencapai 94,1 persen. Sementara Sinovac hanya memiliki efikasi sebesar 65,3 persen.

Dengan adanya tambahan proteksi ini, diharapkan akan semakin melindungi para tenaga kesehatan dari ancaman terburuk virus corona.