Studi: Teror Islamofobia Hantui Muslimah di Australia

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustasi wanita berhijab di Australia. Foto: AFP/PETER PARKS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustasi wanita berhijab di Australia. Foto: AFP/PETER PARKS

Penganiayaan brutal terhadap seorang Muslimah hamil di Sydney pekan ini merupakan gambaran buruknya tingkat Islamofobia di Australia. Menurut sebuah studi, ada lebih dari 300 kasus Islamofobia di negara itu antara 2016 dan 2017, kebanyakan korbannya adalah wanita berjilbab.

Pada kasus di Sydney, Rana Elasmar yang tengah hamil 38 minggu dipukuli bertubi-tubi oleh Stope Lozina, pria kulit putih bertubuh besar. Beruntung, warga sekitar menyelamatkan Elasmar sebelum menderita luka yang parah.

Elasmar hanya satu dari banyak Muslimah di Australia yang mengalami penyerangan berlandaskan Islamofobia. Menurut hasil penelitian Pusat Studi Islam dan Peradaban Universitas Charles Sturt yang dirilis awal pekan ini, ada 349 insiden Islamofobia terjadi di Australia antara 2016 dan 2017 baik di dunia nyata maupun dunia maya.

kumparan post embed

Lebih dari 70 persen korbannya adalah Muslimah. Sebanyak 96 persen dari Muslimah tersebut mengenakan jilbab, sama seperti Elasmar. Studi juga menunjukkan bahwa pelakunya kebanyakan pria anglo-celtic -kulit putih keturunan Inggris atau Irlandia- seperti Lozina.

Menurut laporan hasil studi setebal 184 halaman itu, pelaku serangan Islamofobia semakin berani dari hari ke hari. Sebanyak 60 persen terjadi di tempat publik, seperti di pusat perbelanjaan atau kafe. Kasus penyerangan Elasmar terjadi di kafe yang penuh pengunjung.

Beberapa kasus melibatkan kekerasan fisik seperti memukul, mendorong, atau menarik jilbab. Kekerasan verbal seperti mengancam bunuh atau meneriaki mereka dengan kata-kata "teroris!" atau "kembali ke negaramu!"

Ilustasi wanita berhijab di Australia. Foto: Shutter Stock

Studi tersebut mendesak pemerintah Australia mengambil tindakan tegas. Peneliti khawatir jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kasus seperti penembakan di Christchurch, Selandia Baru, terjadi juga di Australia. Dalam kasus di Christchurch, teroris sayap kanan menembak mati 51 orang di dalam masjid.

"Laporan ini menyerukan masyarakat Australia keseluruhan, dan pemerintah Australia, untuk secara aktif mengatasi bahayanya penyerangan berdasarkan agama," ujar laporan tersebut.

Menteri Imigrasi Australia David Coleman mengaku terkejut dengan laporan Islamofobia tersebut. Dia menegaskan pemerintah Australia tidak menoleransi penghakiman terhadap ras atau budaya seseorang.

Ilustasi wanita berhijab di Australia. Foto: AFP/PETER PARKS

"Contoh diskriminasi terhadap warga Australia beragama Islam yang didokumentasikan dalam laporan itu sangat tidak bisa diterima," kata Coleman seperti dikutip dari media SBS.

Kecaman yang sama disampaikan Andrew Giles, anggota dewan dari Partai Buruh Australia.

"Rasisme dan perlakuan kejam sangat tidak bisa diterima. Ini waktunya warga Australia berdiri bersama dan menolak kebencian," tegas Giles.