Sudan Selatan Dihantam Kelaparan Akut

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Sudan Utara membawa sekarung tepung yang didistribusikan oleh staf Program Pangan Dunia (WFP) di Aweil di negara bagian Bahr el Ghazal utara di Sudan selatan 29 Desember 2010. Foto: Goran Tomasevic/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Warga Sudan Utara membawa sekarung tepung yang didistribusikan oleh staf Program Pangan Dunia (WFP) di Aweil di negara bagian Bahr el Ghazal utara di Sudan selatan 29 Desember 2010. Foto: Goran Tomasevic/REUTERS

Nyaris separuh warga Sudan Selatan menderita kelaparan akut. Parahnya, sampai sekarang belum ada bantuan yang masuk ke sana sedikit pun.

Laporan itu disampaikan badan amal Inggris, Oxfam, pada Rabu (26/11). Mereka menyebut kelaparan akut ini juga didorong pemangkasan anggaran yang dilakukan negara-negara donor, terutama dari Barat.

Oxfam menyebut angka kelaparan akut di negara termuda di dunia itu mencapai hampir enam juta orang. Diprediksi jumlah itu akan bertambah menjadi 7,5 juta orang pada April 2025.

Warga mengantri makanan sumbangan dari PBB. Foto: Reuters/Siegfried Modola

Kondisi diperparah oleh laporan PBB bahwa korupsi besar-besaran menyebabkan tidak adanya layanan dasar yang tersedia di sana.

"Seolah-olah dunia mengabaikan mereka yang paling membutuhkan bantuan, tepat saat kelangsungan hidup mereka dipertaruhkan," kata Direktur Oxfam untuk Sudan Selatan, Shabnam Baloch, seperti dikutip dari Reuters.

Sudan Selatan baru merdeka pada 2011. Kemerdekaan ini dicapai setelah bertahun-tahun konflik dan perang saudara dengan Sudan (bagian utara). Namun, setelah merdeka, negara itu dihantam perang saudara besar.

Akibatnya, dua juta warga di sana kehilangan tempat tinggal. Warga tersisa di Sudan Selatan kini mengalami kekhawatiran akan ancaman pecahnya perang baru.

Kondisi Sudan Selatan semakin buruk karena menampung ratusan ribu pengungsi dari negara tetangganya, Sudan, yang sedang dilanda perang saudara.