Sudirman Said Bicara Ironi Politik: Orang Baik Kok Masuk Politik

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sudirman Said hadiri diskusi Rethinking Indonesia: Pemilu Terburuk dalam Sejarah Indonesia, Akankah Kita Terpuruk di Hotel Grand Dhika, Sabtu (2/3/2024). Foto: Thomas Bosco/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sudirman Said hadiri diskusi Rethinking Indonesia: Pemilu Terburuk dalam Sejarah Indonesia, Akankah Kita Terpuruk di Hotel Grand Dhika, Sabtu (2/3/2024). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Eksekutif Co-Captain Timnas AMIN, Sudirman Said, bicara soal kondisi politik Indonesia. Menurut dia, kondisi politik Indonesia semakin terpisah dengan kebaikan.

Hal itu dia sampaikan dalam diskusi bertajuk Rethinking Indonesia: Pemilu Terburuk dalam Sejarah Indonesia, Akankah Kita Terpuruk? di Hotel Grand Dhika, Jaksel, Sabtu (2/3).

Sudirman mengatakan setelah 78 tahun Indonesia merdeka, demokrasi Indonesia justru merosot. Padahal, orang-orang berpendidikan sudah jauh lebih banyak.

"Saya juga ingin menyebut bahwa yang dirusak itu peradaban padahal ironisnya begini 78 tahun kita merdeka yang semula itu melek huruf melakukannya 3%, sekarang yang barangkali nggak sampai 1% dan sudah memproduksi begitu banyak sarjana Master dokter profesor. Tapi kok dari sisi peradaban menurun drastis," kata dia.

Budayawan Eros Djarot hadiri diskusi Rethinking Indonesia: Pemilu Terburuk dalam Sejarah Indonesia, Akankah Kita Terpuruk di Hotel Grand Dhika, Sabtu (2/3/2024). Foto: Thomas Bosco/kumparan

Lebih lanjut, dia mengatakan saat ini berpolitik tidak lagi memperhatikan kontrol dari konstitusi. Semuanya ditubruk.

"Tapi hari ini hampir semua orang melek huruf, doktornya banyak, seperti ada 2 kolom terpisah antara politik sama kebaikan toh mas. Jadi ada kata-kata, orang baik kok masuk politik," sambungnya.

Kata Sudirman, jarak antara kebaikan dan berpolitik itu perlu diperpendek. Namun, dirinya mengaku untuk ke sana diperlukan kesabaran lantaran banyak kepentingan-kepentingan di dalamnya.

"Jadi karena itu menurut saya gap ini perlu kita perpendek. Mungkin, saya agak relaistis, mungkin tidak bisa buru-buru. Tetapi Harus dimulai dan saya berharap pada kalangan muda itu akan menjadi penerima tongkat estafet harus dipersiapkan karena memang keadaannya memang tidak menguntungkan bagi kalian," pungkas Sudirman.