Suku Amungme dan Kamoro Beberkan Dampak Tambang PT Freeport Indonesia

Sebanyak 21 orang perwakilan Suku Amungme dan Kamoro dari Timika, Papua, datang ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rabu (8/3). Mereka mengadukan soal dampak pertambangan PT Freeport Indonesia karena dinilai telah menyengsarakan kedua suku yang memiliki hak adat atas lahan yang ditempati Freeport sejak 1961.
Korban Freeport ini bertemu dengan Staf Khusus Bidang Komunikasi Kementerian ESDM Hadi Djuraid, Kepala Biro Komunikasi Layanan Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Sujatmiko, dan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Teguh Pamudji.
Salah satu perwakilan dari Suku Kamoro, Simpson SM, mengatakan penambangan yang dilakukan PT Freeport Indonesia telah berdampak pada lingkungan dan telah menyebabkan gunung-gunung di Mimika berlubang. Bahkan, sungai pun sudah tercemar limbah tambang.
“Kami diperlakukan seperti binatang, diinjak-injak, padahal yang punya tanah kami ini," kata Simpson saat pertemuan di Ruang Damar, Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (8/3).

Simpson mendesak Freeport segera menghentikan operasinya karena dinilai telah mengganggu kesehatan warga. Dia mengklaim sudah banyak korban jatuh sakit dan meninggal karena lingkungan yang tercemar limbah tambang.
Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Suku Amungme, Damaris Onawame juga menuding jika perusahaan tambang yang berbasis di Arizona, Amerika Serikat, tersebut telah menyepelekan persoalan llingkungan dan tidak memberikan kontribusi bagi masyarakat adat sekitar.
Menurut dia, selama ini Freeport hanya memberikan dana kemitraan kepada masyarakat sebesar 1 persen dari pendapatan kotor perusahaan. Dana itu juga baru muncul setelah suku Amungme berunjuk rasa sejak 2006 kepada perusahaan.
“Namun dana itu malah menyebabkan pertikaian di antara suku, seperti yang diberitakan media. Kami mohon agar Pak Menteri (Ignasius Jonan) bisa datang langsung dan berkunjung melihat kondisi kami," kata Damaris.
