Sulami, Tak Berhenti Berharap Keajaiban

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Sulami, penderita penyakit Ankylosing Spondylitis (Foto: Mohammad Ayudha/Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Sulami, penderita penyakit Ankylosing Spondylitis (Foto: Mohammad Ayudha/Antara)

Sulami terlentang membujur kaku di tempat tidurnya. Begitu melihat ada seseorang yang datang, wanita itu tampak berusaha tersenyum untuk menyapa tamunya.

Sulami menderita penyakit langka "ankylosing spondylitis" atau penyebab kaku pada tulang persendian sejak duduk di bangku kelas 5 SD hingga kini usianya menginjak 35 tahun.

Karena tubuhnya kaku seperti kayu, wanita yang bersaudara kembar dengan Poniem (almarhum) itu tidak bisa bergerak selama puluhan tahun. Sejak terkena penyakit itu, dia hanya di dalam kamarnya.

Meskipun peluang sembuh relatif kecil, dia tetap terus berdoa dan berharap ada keajaiban dari Tuhan Yang Maha Esa.

"Saya menerima apa yang diberikan seperti cobaan ini. Akan tetapi, saya selalu berdoa berharap ada keajaiban," kata Sulami, sebagaimana dilansir Antara, Kamis (26/1).

Selama sekitar 20 tahun seluruh persendian tulang tidak dapat digerakkan. Semua tulang sendinya menyatu sehingga tidak kehilangan mobilitasnya. Jika ingin mandi, tidur, dan kegiatan sehari-jari lainnya harus ada dibantu orang.

Bahkan, Sulami bisanya hanya berdiri dan tidur terlentang karena persedian yang dapat digerakkan hanya bagian jari.

Agar tidak jenuh, sehari-hari dia mengisi kegiatan menyulam untuk membuat kerajinan.

"Saya sempat periksa ke rumah sakit. Menurut dokter, mengalami pengapuran tulang dan sendi," kata Sulami.

Menurut Susilowati,  kakaknya mengidap penyakit ankylosing spondylitis. "Sulami menderita penyakit langka itu sejak usia 10 tahun berawal dari adanya benjolan di leher bagian belakang," katanya.

Saya menerima apa yang diberikan seperti cobaan ini. Akan tetapi, saya selalu berdoa berharap ada keajaiban.

Susilowati menjelaskan, kakaknya tersebut dilahirkan 35 tahun yang lalu dan merupakan anak kembar. Namun, saudara kembarnya bernamam Poniem sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena menderita penyakit yang sama.

Sulami menderita kaku sendi tulang secara bertahap. Awalnya, sebagian tubuhnya sulit digerakkan. Lama kelamaan bagian tubuh yang lain juga tidak bisa bergerak sehingga kaku seperti kayu. Banyak yang menyebutnya “manusia kayu dari Sragen”.

Jika beraktivitas bergantung pada neneknya yang kini usianya 80 tahun. "Sulami jika mandi atau tidur, nenek yang selalu setiap membantu dan merawatnya," kata Susilowati.

Sulami dengan ditemani neneknya hanya bisa menghibur dirinya dengan membuat kerajian sulaman tas. Jika ingin tidur langsung merebah ke tempat tidur, kemudian Susilowati atau neneknya yang membantu membenarkan tidurnya.

Sulami yang hidup bersama neneknya yang serba kekurangan tersebut terlihat tidak pernah meratapi atau mengeluh atas cobaan berat itu. Dia selalu menerima dengan tabah dan berdoa untuk selalu sabar.

Sulami bersama neneknya hidup di rumah yang kecil terbuat dari kombinasi batako, papan tripleks, dan beranyam bambu.

instagram embed

Bantuan untuk Sulami datang bergelombang setelah berita tentangnya menjadi viral.

Menurut Toni, sukarelawan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kedawung, Sragen, pihaknya selalu memberikan dukungan terhadap Sulami dan keluarganya agar tetap semangat untuk sembuh.

Toni menjelaskan, kasus Sulami sebetulnya sudah lama. Namun, terdengar oleh masyarakat luar baru 2 bulan terakhir sehingga sukarelawan TKSK dari kementerian diturunkan untuk pendampingan untuk menyelesaikan masalah itu.

"Sulami sudah diberikan support dari pemerintah desa, Dinas Kesehatan Sragen untuk menanganinya," kata Toni.

Dirujuk ke RSUD Dr Moewardi Solo

Toni menjelaskan, Sulami secara rutin diperiksa oleh bidan puskesmas rata-rata dua kali per minggu. Sulami kemudian dirujuk ke RSUD Dr Moewardi, Solo, Jawa Tengah,  pada Rabu (25/1).

Sulami dibawa dengan mobil ambulans didampingi keluarganya, lurah, serta sukarelawan TKSK Kedawung.

instagram embed

Menurut Kepala Bagian Humas RSUD Dr Moewardi, Elysa, Sulami masuk RSUD tersebut dengan membawa surat rujukan dari RSU Sragen.

"Kami menerima pasien Sulami di Poliklinik Penyakit Dalam, dan sudah diperiksa oleh dokter Arif Nurudin, spesialis penyakit dalam dan dr Bintang Sucahyo, spesialis ortopedi," katanya.

Menurut Elysa, untuk sementara hasil diagnosis dokter yang memeriksa menyebutkan bahwa pasien ada kelainan di seluruh sendinya atau intinya sendinya kaku sehingga tidak bisa bergerak.

Dokter yang menangani penyakit Sulami, kata Elysa, sedang mencari penyebab munculnya penyakit tersebut karena hal itu baru pertama ditangani di rumah sakit ini.

"Kami sedang melakukan pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen terhadap pasien Sulami," kata Elysa.

Membentuk Tim Dokter

Setelah menerima Sulami, pihak rumah sakit membentuk tim yang terdiri atas beberapa dokter spesialis untuk menangani pasien tersebut.

"Kami langsung membentuk tim yang diketuai dokter Arif Nurudin dengan melibatkan beberapa dokter lainnya untuk menangani Sulami," kata Elysa.

Selain itu, tim dokter juga akan melibatkan bagian-bagian penunjang lainnya, baik laboratorium maupun radiologi, untuk mengetahui apa penyebab penyakit itu. Sulami rawat inap dan masuk di Bangsal Mawar 1 Nomor 3 RSUD Dr Moewardi Solo.

Sulami dirujuk ke Solo dengan menggunakan pelayanan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Keluarga pasien ada tiga orang. Mereka akan bergantian menjaga Sulami.

Menurut Kepala Desa Mojokerto Sunarto, Sulami sebelumnya peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Dia memilih mandiri. Namun, berkat kerja sama Dinas Kesehatan dan Pemkab Sragen, Sulami kini sudah memegang Kartu Sehat Indonesia (KIS).

"Untuk penyembuhan Sulami, kami swadaya dengan warga sekitar dan kerja sama dengan Dinas Kesehatan Sragen, dan sukarelawan, sehingga Sulami dapat dirujuk ke RSUD Dr Moewardi Solo," kata Sunarto.

Menurut Sunarto, Sulami sudah menggunakan fasilitas KIS sehingga selama pengobatan yang ditangani tim dokter dari RSUD Moewardi ditanggung oleh pemerintah.

Sunarto berharap Sulami dapat sembuh sehingga dapat menjadi pelajaran bagi masyarakatnya di desanya.

Gubernur Jateng Menjenguk

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menyempatkan diri membesuk Sulami ketika bertugas ke Klaten. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya mendorong kesembuhan Sulami.

Menurut Ganjar Pranowo, pemerintah akan mencoba mendorong seoptimal mungkin dengan target pasien Sulami bisa duduk dan kaki bisa ditekuk.

"Kami mendorong Sulami bisa duduk, kaki ditekuk, dan baru bicara tulang soal belakang," kata Ganjar Pranowo.

Gubernur meminta Kepala RSUD Dr Moewardi Surakarta Endang Agustinar dan tim dokter yang menangani untuk memberikan pelayanan medis untuk Sulami.

Menurut Gubernur, pihaknya akan membantu dengan segala fasilitas yang ada. Tim medis akan berupaya membantu, apalagi keluarganya tidak mampu.

Kami mendorong Sulami bisa duduk, kaki ditekuk, dan baru bicara tulang soal belakang.

Dalam kasus penyakit yang dialami Sulami tersebut, menurut dia, ada dua hal yang perlu mendapat perhatian semua pihak, yakni terkait dengan kemanusiaan dan permasalahan di bidang medis menjadi tantangan dunia kesehatan.

Jika dalam penanganan penyakit Sulami membutuhkan pakar-pakar medis kelas dunia, dia akan minta dukungan ke Kementerian Kesehatan.

Gubernur Ganjar juga mengapresiasi semua pihak yang telah membawa Sulami hingga akhirnya mendapat penanganan medis di RSUD Dr Moewardi yang kewenangannya di bawah Pemprov Jateng.