Sulitnya Bangun Jalan Perbatasan RI-Malaysia di Kalimantan Barat

Pembangunan jalan daerah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat memerlukan kerja ekstra. Sebab, pengerjaan harus terlebih dahulu dengan cara membuka jalan baru dengan membelah lebatnya hutan Borneo.
Pembangunan jalan paralel di Kalimantan Barat diawali dengan pembukaan hutan (land clearing) yang dilakukan oleh Zeni TNI-AD, diperlukan kegiatan perencanaan seperti perizinan, tracking, pembukaan trase hingga tahap eksekusi yang membutuhkan tenaga yang ekstra.
"Kesulitan utama pembukaan hutan ini karena berhadapan dengan hutan lindung dan taman nasional," kata Kepala Bidang Pembangunan dan Pengujian Balai Besar Jalan Nasional XI (BBPJN) Kalimantan, Nanang Handono Prasetyo, di Putusibau, Kalimantan Barat, Jumat (28/4).
Baca juga: Hari 2 Ekspedisi Perbatasan RI-Malaysia: Jalan Mulus di Tapal Batas
Jalan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan mencapai 1.900 kilometer dan 849 kilometer berada di wilayah Kalimantan Barat. Pada 2016, sepanjang 188,61 km masih berupa hutan atau belum land clearing. Kemudian pada 2017 akan dikerjakan pembukaan hutan untuk jalan baru sepanjang 81,25 km.

Dalam pembangunan jalan perbatasan, baik Kementerian PUPR terus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengurus izin kehutanan. Sebab, tantangan terbesar pembanguan jalan paralel ini adalah memenuhi aspek keramahan lingkungan.
"Contohnya di ruas Nanga Era sampai batas Kalimantan Timur itu terdiri hutan lindung 96,31 km dan taman nasional 56,05 km, supaya tidak melanggar hukum dan negara harus kita ikuti aturannya sehingga 2018 akhir bisa selesai," ujarnya.
Baca juga: Membelah Hutan Belantara Bangun Jalan Perbatasan RI-Malaysia
Sehingga untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian, yang dilakukan Bina Marga adalah mempercepat pengerjaan jalan yang tidak ada kaitannya dengan hutan lindung terlebih dahulu.
"Kita kerjakan dulu yang tidak ada kaitan dengan hutan lindung dipercepat, kemudian karena yang membuka ada Zeni TNI-AD sehingga ada kemudahan," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Kegiatan (kalagiat) Zeni TNI-AD,Kolonel Hastono Djati Sundoro, mengatakan tantangan yang juga tidak bisa dihindari adalah curah hujan yang tinggi di Kalimantan Barat dan membuat pengerjaan menjadi sedikit terhambat.
"Sangat berpengaruh karena kita bekerja berdasarkan cuaca, sehingga mensiasatinya ketika cuaca terang kita lembur. Memang sudah risiko karena kita dibatasi waktu. InsyaAllah tidak 107 km bisa selesai pada 2018," kata Hastono.
Baca juga: Wajah Indonesia di Pos Perbatasan RI-Malaysia
Hingga saat ini pengerjaan membuka jalan ini telah berlangsung selama 2 bulan dan ditargetkan akan selesai pada Agustus mendatang untuk awal dengan rincian lebar 25 meter, pengerasan untuk jalan 7 meter, dan parit sisi kanan dan kiri masing-masing 1,5 meter.
Adapun untuk membuka akses Nanga Era- Perbatasan Kalimantan Timur ini terdapat dua Zeni TNI AD yang mengerjakan, saat ini Zeni 18 efektif mengerjakan pembukaan jalan baru sepanjang 28 km dengan anggaran tahun 2017 sebesar Rp 83,97 miliar dan Zeni 19 mengerjakan 12 km dengan anggaran Rp 35,97 miliar.
