Sulitnya Cari Makam di Jakarta: TPU Penuh, Mau Tumpuk Tak Ada Keluarga
·waktu baca 3 menit

Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kebagusan, Jakarta Selatan, sudah penuh sejak 2015. Saat ini, mereka tak bisa lagi mendapat menerima pemakaman baru dan hanya melayani pemakaman dengan sistem bertingkat atau tumpang.
Penjaga TPU Kebagusan, Dedi (40), menjelaskan sistem tumpang hanya berlaku bagi satu anggota keluarga atau yang masih dalam garis satu keluarga.
“Tumpang itu biasanya satu liang lahat dengan keluarga. Nah, ketika ada keluarga lain yang meninggal, ya mau enggak mau harus ke tempat lain, karena dia belum ada keluarga di sini,” jelas Dedi, ditemui di TPU Kebagusan, Rabu (22/10).
Dedi menambahkan, karena tak memiliki tumpangan atau anggota keluarga, maka jenazah harus dimakamkan di tempat lain.
"Ya, karena satu itu, tumpangannya itu enggak ada, enggak ada keluarga yang sudah dimakamkan di sini. Ya otomatis mereka harus cari tempat baru kayak ke Srengseng atau paling mudah ya keluar dari Jakarta gitu kan," katanya.
Dedi mengatakan, pengecualian hanya bisa dilakukan jika ada izin tertulis dari ahli waris pemilik makam sebelumnya.
“Misalnya tetangga mengizinkan nih di makam orang tuanya, ya itu enggak apa-apa, tapi ada surat pernyataan nanti tertulis, gitu,” kata Dedi.
Namun, hingga kini belum ada kasus tumpang yang dilakukan di luar hubungan keluarga dekat.
“Sampai saat ini sih belum ada. Masih pihak keluarga aja. Anak dengan bapak, suami dengan istri, paling kayak gitu aja,” tambahnya.
Bagaimana dengan nasib makam yang kerangkanya telah direlokasi? Makam itu otomatis tak lagi milik keluarga yang dulunya disemayamkan di sana.
“Enggak (sudah bukan milik keluarga), itu kembali ke Pemda,” ujar Dedi.
Ia menuturkan, lahan yang telah kembali ke Pemda bisa digunakan kembali oleh masyarakat lain yang membutuhkan tempat pemakaman baru.
“Iya (bisa digunakan),” jawab Dedi singkat.
Sementara bagi warga setempat yang tidak memiliki keluarga dimakamkan di TPU Kebagusan, Dedi mengatakan biasanya mereka mencari alternatif lain di sekitar Jakarta Selatan, seperti TPU Kampung Kandang atau TPU Srengseng Sawah.
Jika tetap tidak mendapat tempat, sebagian memilih pemakaman di luar Jakarta, misalnya di wilayah Depok yang masih memiliki tanah wakaf.
Menurut Dedi, sebagian kecil warga juga memilih memindahkan kerangka keluarganya ke daerah asal.
“Kalau pindah itu paling, mereka pindah, sudah lama dimakamkan di sini terus pindah kerangka aja ke daerah asal misalnya,” ujarnya.
Ia menilai, langkah terbaik untuk mengatasi krisis lahan makam di Jakarta adalah dengan pembukaan lahan baru, meski hal itu perlu memperhitungkan jarak bagi warga.
“Solusinya ya pembukaan lahan baru. Tapi masyarakat itu lebih memilih yang lebih dekat dengan rumah. Kalau direlokasi ke luar daerah kemungkinan agak kurang efektif mungkin ya. Agak jauh juga nanti untuk ziarahnya,” tutur Dedi.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah mengkaji solusi atas krisis lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang terjadi di wilayah Jakarta Selatan.
Berdasarkan data dari website resmi Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, terdapat sembilan TPU di Jakarta Selatan yang sudah penuh, yaitu: TPU Tanjung Barat, TPU Jagakarsa, TPU Kampung Kongsi, TPU Grogol Selatan, TPU Kebagusan, TPU Pisangan, TPU Pejaten Timur, TPU Pejaten Barat, dan TPU Cikoko.
Pemprov DKI Akan Rapat Khusus Bahas Makam
Menanggapi soal krisis pemakaman ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berencana akan menggelar rapat khusus membahas persoalan ini, dengan Dinas Pertamanan dan Perhutanan.
"Kami sudah berkomunikasi, dan saya sudah minta untuk diagendakan minggu depan kita akan rapat khusus mengenai pemakaman di Jakarta. Nanti kalau sudah detail saya akan jawab lagi," ucap Pram, Rabu (22/10).
