Sultan HB X dan Paku Alam X Melayat PB XIII di Keraton Surakarta
·waktu baca 2 menit

Sultan Hamengkubuwono (HB) X dan Paku Alam X melayat mendiang Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Selasa (4/11).
Pantauan kumparan di lokasi, Paku Alam X tiba lebih dulu di Keraton Surakarta sekitar pukul 10.38 WIB. Kedatangannya disambut putra mahkota PB XIII, KGPAA Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendro Mataram Purboyo.
Sementara Sultan HB X tiba sekitar pukul 11.53 WIB bersama GKR Hemas, putra, dan menantunya.
Setelah keduanya berkumpul, mereka langsung menuju Sasana Parasdya, tempat persemayaman PB XIII, untuk melihat wajah almarhum dan mendoakan.
Sultan HB X mengatakan, kedatangannya untuk menyampaikan duka cita atas wafatnya PB XIII.
“Ya saya menyampaikan duka cita. Dan itu sudah saya sampaikan beberapa hari yang lalu. Semoga semuanya berjalan lancar tidak ada halangan, semoga juga Keraton Surakarta Kasunanan ini juga aman-aman saja, nyaman-nyaman saja begitu,” ujar HB X.
Harap Regenerasi Keraton Surakarta Berjalan Lancar
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ini berharap, proses regenerasi di Keraton Surakarta bisa berjalan dengan baik sebagai bagian dari menjaga tradisi dua keraton di Jawa.
“Ya semoga regenerasi juga tetap bisa berjalan dengan baik. Karena bagaimanapun kami bagian dari yang harus menjaga tradisi, baik yang di Surakarta maupun yang di Yogyakarta. Jadi harapan saya juga sama bagaimana kita bisa meneruskan dengan langgeng dengan segala menjadi bagian dari Republik Indonesia,” kata Sultan HB X.
“Semuanya dalam perkembangan antar-generasi yang terjadi sehingga kita juga bersama-sama bisa berjalan baik,” ucapnya.
Sultan HB X mengaku mengenal PB XIII, meski tidak sering berinteraksi secara langsung.
“Saya sekadar kenal beliau (PB XIII) saja, tapi dalam arti bergaul dan sebagainya kan relatif jarang. Jadi kami tidak berani memberikan pemikiran,” katanya.
Ia menambahkan, PB XIII dikenal baik oleh anak-anaknya, dan hubungan antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta tetap terjaga.
“Kalau upacara (adat) waktunya keraton keduanya juga bersamaan. Jadi momentum-momentum itu tidak mudah ditemukan, tapi kalau komunikasi (bersama) ada,” pungkasnya.
