Sultan HB X ke Miliarder Warga Sleman karena Gusuran Tol: Jangan Konsumtif

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Kamis (18/9). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) di Kompleks Kepatihan Pemda DIY, Kamis (18/9). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Sultan HB X menitip pesan kepada warga di Pedukuhan Pundong 1, 2, 3 dan 4, Desa Tirtoadi, Mlati, Kabupaten Sleman, DIY, yang mendadak menjadi miliarder.

Mereka mendapat uang miliaran rupiah setelah tanah atau rumah mereka digusur untuk pembangunan Tol Yogya-Bawen.

Sultan HB X mengaku senang jika ternyata aset warga dibeli dengan harga tinggi. Tetapi warga harus bijak memanfaatkan uang tersebut.

"Saya juga ikut senang kalau nilai lebih tinggi dari pada investasinya sendiri. Tapi bukan berarti duit itu dihambur-hamburkan yang tidak penting ya tidak perlu," ujar Sultan di Kepatihan Pemda DIY, Selasa (7/9).

kumparan post embed

Sultan berpesan, apabila warga yang terdampak tol rumahnya tergusur maka utamakan mencari rumah baru terlebih dahulu. Jangan justru kemudian tergesa-gesa membeli mobil

"(Digusur) berarti rumahnya nggak punya, ya bikin rumah dulu lah. Kalau beli rumah belum dilakukan sudah pakai mobil mau dikapake (digimanakan). Nggak punya rumah kok punya mobil mungkin punya rumah mungkin lebih dari satu, boleh saja," ucap Sultan HB X.

Selain itu, Sultan HB X juga menyoroti kondisi negara ini akibat pandemi COVID-19. Menurutnya perilaku konsumtif tidak bijak.

"Jangan konsumtif, hemat saja dalam pengeluaran apalagi kondisi seperti ini," tutur Sultan HB X.

Suasana Dusun Sanggrahan Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. 90 rumah di dusun ini terdampak pembangunan tol Yogya-Bawen. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebelumnya, pada Jumat (3/9) , kumparan melihat sejumlah rumah di Dusun Sanggrahan sudah mulai dibongkar oleh warga. Kusen atau kayu yang masih bagus bisa dimanfaatkan pemilik rumah yang kebanyakan membangun rumah lagi tak jauh dari tempat tinggal awal.

"Jadi ini (sisa) bangunan dimanfaatkan untuk rumah baru. Dari panitia jalan tol juga memperbolehkan kalau sisa bangunan yang bisa dipakai bisa diambil," kata Gudadi (57), warga setempat menunjukkan salah satu rumah tetangganya.

Rumah Gudadi terdampak pembangunan tol, tetapi belum dia bongkar karena uang ganti rugi baru akan cari bulan ini setelah sempat ada kendala sebelumnya.

Rencananya Gudadi akan membangun rumah di tanah miliknya yang hanya beberapa meter dari kediamannya sekarang. Tanah tersebut memang tidak terdampak tol, jadi dia tidak harus membeli tanah lagi untuk membangun rumah.

Suasana Dusun Sanggrahan Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman. 90 rumah di dusun ini terdampak pembangunan tol Yogya-Bawen. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Secara umum, warga yang terdampak menerima paling tidak Rp 1 miliar. Tetapi ada pula yang mendapat Rp 4 miliar hingga Rp 8 miliar. Memang harga ini di atas pasaran, tetapi menurut Gudadi selisihnya juga masih wajar karena memang harga tanah di DIY khususnya Sleman sudah tinggi.

Di sudut-sudut kampung, brosur-brosur mobil hingga rumah dijual menempel di pohon. Gudadi mengakui, sudah mulai banyak sales berkeliaran. Tapi dia menegaskan warga di sini sudah pandai dan bijak dalam keuangan.

"Belum tertarik beli mobil. Masih untuk mikir tempat tinggal ya sisanya ditabung untuk anak-anak masa depan," katanya.