Sumber Air Kering, Pelanggan PDAM di Kota Bandung Tak Dapat Pasokan

Sejumlah pelanggan air dari PDAM Tirtawening Kota Bandung mengalami kesulitan air pada musim kemarau tahun ini. Alasannya, salah satu sumber air di Situ Cipanunjang surut selama satu bulan, sehingga membuat PDAM tak mampu menyalurkan air ke semua pelanggannya.
Kasubid Humas PDAM Tirtawening Indra Pribadi menjelaskan, kondisi tersebut disebabkan oleh panjangngya musim kemarau di wilayah Bandung dan sekitarnya. Sementara Situ Cipanunjang merupakan salah satu sumber mata air terbesar yang dimilliki PDAM Tirtawening untuk memasok air ke pelanggannya.
“Meskipun 1-2 hari ini hujan tapi belum berdampak pada kondisi Situ Cipanunjang. Cipanunjang sekarang kondisinya kering akibat musim kemarau,” kata Indra saat dihubungi kumparan, Senin (15/10).
Ia mengatakan, jika dalam kondisi normal PDAM Tirtawening dapat memasok air 6.000 liter perdetik. Namun, dalam kondisi kemarau panjang seperti saat ini hanya bisa memasok sekitar 1.400 liter per detik. Dengan jumlah debit air itu hanya mampu menyalurkan ke 60 persen pelanggan PDAM di Kota Bandung.
“Ada 40 persen pelanggan yang terganggu. Terutama di wilayah timur dan selatan. Yakni di Antapani, Ujungberung, Kopo, Margahayu,” ucap dia.

Menurutnya, dalam kondisi kekeringan pihaknya tidak dapat berbuat banyak untuk mengatasi krisis air pada sebagian para pelangannya. Untuk tetap melayani pelanggannya yang kesulitan pasokan, PDAM coba menyuplai air menggunakan tangki di wilayah yang tak dialiri air.
“Jadi pelanggan bisa menghubungi kami apabila kekurangan air. Nanti kami datang tentu dengan ada koordinasi dengan aparat pemerintah setempat,” tutur Indra.
PDAM Tirtawening memilki sedikitnya empat sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan air untuk pelanggannya. Salah satu yang terbesar adalah Situ Cipanunjang di Kabupaten Bandung.
Selain itu juga ada Situ Cileunca yang berada di kawasan Pangalengan. Namun, kondisi Situ Cileunca pun tak beda jauh dengan kondisi Situ Cipanunjang. Terlebih, Situ Cielunca juga dijadikan sumber air bagi masyarakat Kabupaten Bandung dan keperluan pembangkit listrik Indonesia Power.
“Bagi PDAM ini bisa disebut darurat. Tapi untuk masyarakat Kota Bandung belum tentu. Karena, sebagian besar masyarakat Kota Bandung menggunakan air tanah,” jelasnya.
Kekeringan yang mengancam Kota Bandung turut membuat resah pemerintah. Pada Senin pagi, Pemkot Bandung menggelar salat minta hujan (istisqo). Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengimbau seluruh masyarakat Kota Bandung untuk menggelar salat bersama, sebagai langkah nonteknis agar hujan diturunkan oleh Tuhan.
Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung Tony Agus Wijaya mengatakan, musim kemarau di wilayah Bandung dan sekitarnya diprediksi akan berakhir pada akhir bulan ini. Musim kemarau tahun ini juga akan lebih panjang 10 hari dari siklus normal.
“Jangka waktu normal musim kemarau di Kota Bandung adalah dari akhir Mei sampai dengan awal Oktober. Di Kota Bandung kemarau 2018 lebih panjang 10 hari dibandingkan kondisi normalnya,” ujar Tony.
