Supremasi Kulit Putih dan Kebangkitan Neo-Nazi

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi White Supremacy. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi White Supremacy. Foto: Shutter Stock

Festival Bawang Putih Gilroy harusnya menjadi surga kuliner bagi warga Kota Gilroy, California, Amerika Serikat. Festival tersebut memang rutin diselenggarakan pada akhir Juli setiap tahunnya sejak 40 tahun terakhir. Bagi warga setempat, festival itu merupakan luapan identitas mereka sebagai kota bawang putih dunia.

Namun, citra festival yang seharusnya penuh tawa canda itu berbalik 180 derajat, Minggu (28/7). Semua berubah menjadi bencana kala seorang pria berusia 19 tahun memberondong peluru secara brutal ke pengunjung.

Penembakan di Festival Bawang Putih Gilroy, selatan San Jose, California, AS, (28/7). Foto: Reuters

Festival yang awalnya tertib lantas menjadi berantakan. Surga kuliner itu berubah menjadi arena pembantaian manusia. Semua orang menjerit ketakutan. Tiga orang tewas di tempat, sedangkan 12 orang lainnya dikabarkan mengalami luka serius.

“Kami sedih melihat kekerasan yang tidak masuk akal membawa festival tahun ini ke akhir yang mengerikan dan tragis,” kata Shawn Keck, Ketua Festival Bawang Putih, dalam siaran persnya, Senin (29/7).

Pelaku penembakan itu bernama Santino William Legan. Ia mencoba menghabisi nyawa pengunjung dengan senapan AK-47. Umurnya pun terbilang pendek, ia tewas di tempat setelah baku tembak dengan kepolisian selama satu menit.

instagram embed

Hingga Selasa (30/7), kepolisian belum mengungkap apa motif sebenarnya di balik aksi Legan. Meski demikian, media lokal AS menyebut aksi gila Logan dipicu paham supremasi kulit putih. Dugaan itu muncul dari hasil penelusuran media sosial pribadi Legan, termasuk Instagram, yang baru dibuat empat hari sebelum kejadian.

Salah satu unggahan Legan berisi foto tokoh kartun Smokey Bear dengan buku Might Is Right beserta keterangan berbunyi, 'bahaya api hari ini'. Buku Might is Risk adalah referensi ideologi supremasi kulit putih yang mengajarkan kekerasan dan anarki.

Bahaya Laten Supremasi Kulit Putih

Supremasi kulit putih adalah sebuah -isme yang teramat dibenci dunia. Itu karena, paham tersebut percaya bahwa hanya bangsa kulit putih yang paling superior di antara bangsa-bangsa lain. Bagi mereka, Tuhan telah menakdirkan kulit putih sebagai penguasa dunia.

Paham tersebut mengemuka sebagai sebuah gerakan di AS antara September 1983 dan Desember 1984. The Order atau yang juga dikenal sebagai Silent Brotherhood merupakan wujud organisasi dari gerakan tersebut.

Kelompok supremasi kulit putih memberi salam Nazi Foto: Reuters/Casey Ian Patchell

The Order didirikan Robert Jay Mathews pada akhir September 1983 di sebuah ladang pertanian di Washington. Mathews bercita-cita melawan pemerintah AS yang saat itu dikendalikan oleh orang-orang Yahudi.

Ya, musuh The Order memang kaum Yahudi. Mereka begitu benci dengan keberhasilan kaum Yahudi di segala bidang. Entah itu di bidang politik, ekonomi, dan sosial. Rasa benci itu sedemikian membuncah, persis dengan yang dirasakan Hitler dengan gerakan nazisme mereka di Jerman sekitar tahun 1933-1945.

Barbara Penny dalam buku berjudul Hate and Bias Crime: A Reader (2003) mengemukakan bahwa The Order memiliki ikatan emosional dengan gerakan antisemitisme nazi. Hal itu tampak dalam sumpah yang diikrarkan oleh orang-orang yang hendak menjadi anggota gerakan organisasi tersebut.

“Siap melakukan apa saja yang diperlukan untuk membebaskan umat kita dari orang Yahudi, serta membawa kemenangan total bagi Ras Arya,” demikian petikan sumpah The Order.

Massa berkumpul di Freedom Plaza untuk memprotes supremasi kulit putih Menyatukan reli Kanan yang diadakan di depan Gedung Putih, Minggu (12/8/2018). Foto: Reuters/Leah Millis

Ras Arya merujuk pada ras yang memiliki warna kulit putih, rambut pirang, bermata biru, dan berbadan jangkung. Ras tersebut dianggap paling unggul, sehingga perlu dijaga kemurniannya.

Harga yang dibayar atas keyakinan itu pun teramat mahal. Di Jerman, di bawah komando Hitler, Holocaust Encyclopedia mencatat ada 6 juta orang Yahudi tewas karena ideologi tersebut. Jumlah itu belum termasuk bangsa Rusia dan suku Gipsi yang turut dibantai Hitler.

Secara kuantitas, korban jiwa yang jatuh akibat organisasi The Order di AS memang tidak sebanyak gerakan nazisme. Namun, sejarah mencatat bahwa ada serangkaian pembunuhan misterius yang didalangi The Order.

Sebuah Poster Menyandingan Bolsonaro Dengan Hitler. Foto: AFP/NELSON ALMEIDA

Salah satu pembunuhan berencana yang dilakukan The Order adalah kematian Alan Harison Berg. Seorang penyiar radio keturunan Yahudi. Ia dikenal karena pandangannya yang liberal, serta blak-blakan dalam berbicara.

Pada 18 Juni 1984, Berg tewas ditembak secara misterius. Belakangan, FBI mengungkap bahwa penembak Berg adalah anggota The Order. Terungkap pula bahwa Berg sudah lama masuk ke dalam daftar orang-orang yang harus dibunuh The Order.

Jawaban The Order kala ditanya di persidangan pun enteng saja. Salah seorang pendiri organisasi itu, Denver Daw Parmenter, mengaku tak memiliki alasan lain untuk membunuh Berg.

“Pada dasarnya Berg anti-kulit putih dan dia adalah orang Yahudi,” kata Parmenter dikutip dari Fold33

Usai peristiwa berdarah itu, pemerintah AS semakin gencar untuk menangkap anggota The Order. Hingga pada Desember 1984, Mathews, pemimipin The Order, ditembak mati dalam baku tembak dengan kepolisian. Peristiwa tersebut pun mengakhiri cerita The Order di AS.

Bangkitnya Neo-Nazi

Meski The Order telah bubar, ide tentang keagungan ras kulit putih tidaklah benar-benar hilang 100 persen. Lain dari itu, ide tersebut masih diamini oleh sejumlah kalangan di AS. Setali tiga uang, gagasan tentang supremasi kulit putih di abad ke-21 pun dianggap sebagai neo-nazi.

Berdasarkan data dari Anti-Defamation League (ADL) pada 2018, terungkap bahwa upaya propaganda supremasi kulit putih di AS naik 182 persen pada tahun 2018 jika dibanding tahun 2017. Riset itu mencatat, ada 1.187 peristiwa pembunuhan yang terkait dengan supremasi kulit putih pada 2018. Naik drastis dari tahun sebelumnya yang berjumlah 421 insiden.

Nazi Foto: Pixabay

Jumlah tersebut jelas fantastis, mengingat AS merupakan sebuah negara dengan tingkat literasi yang tinggi. Seharusnya, gagasan tentang supremasi kulit putih sirna dengan pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi di sana.

Sosiolog dari Universitas Dayton, Art Jipson dan Paul J Backer, rupanya berpendapat lain. Keduanya menilai, munculnya supremasi kulit putih erat kaitannya dengan kekhawatiran terhadap eksistensi imigran. Mereka khawatir ras kulit putih akan musnah seiring datangnya imigran dan perubahan demografis yang terjadi di AS.

Pandangan Jipso dan Backer itu diiungkapkan dalam sebuah esai berjudul White nationalism, born in the USA, is now a global terror threat. Keduanya sepakat bahwa gagasan supremasi kulit putih menjadi berlipat ganda karena adanya media sosial.

“Mereka telah menemukan audiens supremasi kulit putih global. Pada gilirannya, mereka juga menggunakan internet untuk berbagi ide, serta mendorong kekerasan dan menyiarkan kejahatan kebencian mereka di seluruh dunia,” kata keduanya.

Demonstran serang kelompok supremasi kulit putih Foto: Reuters/Joshua Roberts

Analisis Jipson dan Backer ada benarnya. Salah seorang mantan aktivis neo-nazi, Christian Picciolini, mengatakan internet telah mengubah gaya persebaran gagasan supremasi kulit putih.

Jika dahulu harus ada orang semacam Hitler di Jerman, atau Mathew di AS, kini tak perlu ada tokoh-tokoh semacam itu. Melalui internet, gagasan paling anarkis itu dapat menular dengan cepat.

Pernyataan Picciolini itu ia ungkapkan dalam sebuah wawancara dengan National Public Radio pada 16 Maret 2019. Pernyataannya itu berselang satu hari usai penembakan penembakan masjid yang menewaskan 50 orang di Selandia Baru.

“Ini tentu saja bukan gerakan pinggiran. Ini adalah gerakan teroris skala besar,” ungkap Picciolini.

Picciolini dahulunya bergabung dalam sebuah organisasi bernama Chicago Area Skinheads. Yakni, sebuah organisasi supremasi kulit putih. Ia teramat tahu bagaimana organisasi itu berkembang. Organisasi semacam itu bahkan menjalar di sejumlah instansi pendidikan.

Imigran Haiti di AS Foto: Geoff Robins/AFP

Memang, organisasi yang ia masuki relatif kecil. Namun sebagai sebuah ide, gagasan tentang kehebatan ras kulit putih berkelindan di kepala setiap anggotanya. Bisa meledak kapan pun menjadi sebuah gerakan yang mampu menhabisi nyawa seseorang atas nama ideologi.

X post embed

Sementara itu, pakar ekstremisme Vox-Pol, JM Berger, punya pendapat menarik tentang bangkitnya neo-nazi. Ia menilai, pemerintahan Trump yang antipati terhadap imigran turut berkontribusi bagi meningkatnya gerakan-gerakan serupa.

"Orang-orang mulai memahami bahwa mereka dapat meniru tindakan seseorang sebelum mereka, untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan," kata Berger.